"Maka 212 ini tidak butuh maka ada satu pemicu di situlah saya bersilat orang lain begini-begini, terakhir beliau bertanya pada saya."
"'Panglima saya hadir enggak di 212?' 'Tergantung presiden, saya sebagai Panglima TNI mengamankan, kalau presiden berani saya amankan'," ceritanya.
Gatot menduga, kata-kata berani itu bisa menggugah presiden untuk datang ke acara 212.
Sedangkan pengamanan presiden tidak sebesar massa yang datang untuk demo.
"Kata-kata berani itu saya yakin beliau akan tersinggung maka begitu saya demikian, beliau katakan 'Bismillah saya datang'," ungkap Gatot.
"Kekuatan Paspamres taruhlah 400 tidak bisa melawan jutaan orang situ walaupun niatnya baik, contohnya 212 salaman saja ingin presiden," sambungnya.
Penggunaan peci putih seperti para pendemo dimaksudkan Gatot sebagai tanda, dirinya adalah aparatur negara sekaligus bagian dari 212.
"Maka saya menggunakan peci putih tujuannya menunjukkan saya aparatur tapi saya juga bagian dari Anda," katanya.
Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) itu merasa wajar jika ada pandangan lain soal dirinya mengenakan peci putih tersebut.
"Jadi kalau saya bersuara didengar oleh mereka, ini diartikan lain oleh Bung Karni seperti yang Bung Karni katakan itu wajar-wajar saja."
"Tugas pokok saya mengamankan demonstran dan presiden," ungkapnya.
Baca juga: Sebut Pemerintah Selalu Cari Kambing Hitam Demo, Refly Harun: Kali Ini KAMI dan Gatot Nurmantyo
Lihat menit 12.10:
KAMI Ingin Ketemu Jokowi
Dalam kesempatan itu, Gatot menegaskan bahwa KAMI dibentuk untuk menyampaikan tuntutan rakyat pada pemerintah.
"KAMI itu lahir setelah tiga bulan kita diskusi dengan kelompok-kelompok, kemudian yang intinya bahwa tuntutan yang akan kita sampaikan adalah suara hati rakyat."
"Apa yang benar-benar dirasakan oleh rakyat itu menjadi tuntutan kami," jelas Gatot.