Pilpres Amerika Serikat 2020

Trump atau Biden, Capres AS yang Diinginkan Menang oleh China, Rusia, dan Iran? Ini Kata Intelijen

Editor: Mohamad Yoenus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Joe Biden saat tampil dalam debat pertama Pilpres AS di Case Western Reserve University, Cleveland, AS, Selsa (29/9/2020) malam.

Bulan lalu, panel Senat yang dikuasai kubu Republik memperkuat pandangan bahwa Rusia menginginkan Trump menang, dengan menyimpulkan kampanyenya menjadi sasaran empuk bagi pengaruh asing tetapi tidak sampai menuduh adanya konspirasi kejahatan.

Dalam Pilpres AS 2020, rival Trump adalah Joe Biden.

Dalam ulasannya, yang ditujukan bagi publik Amerika, Kepala Pusat Keamanan dan Kontraintelijen Nasional (NCSC) William Evanina mengatakan Rusia "menggunakan berbagai langkah untuk secara khusus merendahkan mantan Wakil Presiden Biden".

Dalam pandangan Direktur FBI, Christopher Wray, Rusia tidak pernah berhenti campur tangan.

Dia menyebut upaya dalam pemilihan kongres tahun 2018 sebagai "gladi bersih untuk pertunjukan besar pada tahun 2020".

Rusia secara konsisten membantah melakukan campur tangan dalam pemilu di negara-negara lain.

Awal tahun ini, seorang juru bicara Kremlin menyebut tuduhan campur tangan "pengumuman paranoia" yang "tidak benar sama sekali".

Terlepas dari pertanyaan apakah Rusia menginginkan Presiden Trump tetap menjabat periode kedua atau tidak, pandangan lain yang sering diutarakan para analis adalah Rusia punya tujuan lebih luas, yaitu untuk menggoyahkan saingan-saingan Trump dengan cara menyebarkan kebingungan.

Sebagai contoh, tahun ini dokumen Uni Eropa menyebutkan ada kampanye Rusia untuk menyebarkan berita bohong tentang virus Corona untuk mempersulit organisasi negara-negara Eropa tersebut mengomunikasikan responsnya. Rusia menyebut tuduhan itu tak berdasar.

Apa Kata Kedua Capres?

Joe Biden baru-baru ini mengatakan akan ada "harga yang dibayar" jika Rusia terus melakukan campur tangan.

Dia menyebut Rusia sebagai "lawan" dari Amerika Serikat.

Presiden Trump seringkali meremehkan tuduhan campur tangan Rusia, yang membuatnya berseberangan dengan para ahli intelijennya sendiri.

Setelah KTT tahun 2018 dengan Vladimir Putin, dia ditanya apakah dirinya lebih mempercayai komunitas intelijen AS atau presiden Rusia tentang tuduhan campur tangan Rusia.

Trump mengungkapkan, "Presiden Putin mengatakan pelakunya bukan Rusia. Saya tak melihat alasan mengapa harus Rusia."

Halaman
1234