"Saya percaya demokrasi dia bilang," kata Syahganda menirukan jawaban dari Tito.
"Kenapa kamu tangkap saya? Saya enggak mau ditangkap oleh kopral, saya mau ditangkap sama kamu, kenapa kamu tangkap saya?"
"Pak Tito bilang, karena kalian mau menggulingkan Jokowi."
"Saya bilang, pakai apa menggulingkan Jokowi," ucap Syahganda menceritakan perbincangannya dengan Tito saat itu.
Syahganda menilai penangkapan tersebut sebagai aksi pembatasan pemikiran.
"Bagaimana pikiran-pikiran itu dikebiri sehingga bangsa ini tidak bisa berkembang," ujar dia.
"Akhirnya Pak Tito menyerah berdebat sama saya, langsung minta dibebaskan teman-teman."
Seperti yang diketahui, sejumlah tokoh besar di Indonesia baru saja mendeklarasikan gerakan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) di Tugu Proklamasi, Jakarta pada Selasa (18/8/2020).
Gerakan itu diklarasikan sejumlah tokoh seperti Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo hingga Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.
Selain itu banyak pula para pengamat yang bergabung seperti Rocky Gerung, Refly Harun hingga Mantan Sekretaris BUMN, Said Didu.
• PDIP Bantah Jokowi Anti Kritik, Deklarator KAMI: Adu Konsep Saja Siapa yang Lebih Dipercaya Rakyat
Simak video selengkapnya mulai menit ke-1.20:
Pengamat Politik: Suatu Fenomena Baru
Di sisi lain, dilansir TribunWow.com dari Kompas TV pada Kamis (20/8/2020), Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari membenarkan bahwa KAMI memang banyak berisi tokoh yang selama ini berseberangan dengan pemerintah.
"Ya kalau saya lihat sebetulnya masing-masing sudah jadi 'pengkritik pemerintah' ya semenjak beberapa tahun lalu."
"Kalau dilihat dari kacamata yang lain sebetulnya ya figur seperti Said Didu kemudian Rocky Gerung memang sebelum 2019, sudah katakanlah sering berbeda pendapat dengan pemerintah," ungkap Rocky.
Menurut Qodari bergabungnya orang-orang yang selama ini berseberangan dengan Jokowi merupakan sesuatu yang baru.