TRIBUNWOW.COM - Para penambang batu giok yang menjadi korban dalam tanah longsor di Myanmar dimakamkan secara massal, Jumat (4/7/2020).
Tanah longsor yang terjadi di kawasan pertambangan Hpakant, Myanmar utara disebutkan sebagai yang terparah karena telah menewaskan lebih dari 170 orang.
Kebanyakan dari para korban adalah pekerja migran yang mencari nafkah di tambang terbuka yang berbahaya dekat perbatasan China.
• Video Detik-detik Longsoran Dahsyat Menyapu Tambang Giok Terbesar di Dunia, Disebut seperti Tsunami
• Aniaya dan Lakukan Kekerasan Seksual pada Tahanan di Penjara hingga Tewas, 5 Polisi India Ditangkap
Dilansir channelnewsasia.com, Jumat (4/7/2020), para pekerja tambang tersebut dimakamkan bersamaan dalam peti mati kayu lapis.
Beberapa di antaranya hanya ditandai dengan nama, beberapa dengan foto, sebelum akhirnya dimasukkan dalam lubang makam besar yang digali menggunakan alat berat di dekat tempat longsor.
Peristiwa ini merupakan bencana tanah longsor terparah yang melanda pertambangan giok terbesar di dunia tersebut.
Tragedi itu terjadi pada hari Kamis ketika lereng bukit runtuh karena hujan lebat, mengirimkan banjir lumpur kepada para pekerja yang sedang menjelajahi tanah untuk mencari pecahan batu giok.
"Misi pencarian dan penyelamatan berlanjut hari ini. 172 mayat ditemukan pada tengah hari," kata Departemen Pemadam Kebakaran Myanmar.
Mereka bergabung dengan sejumlah orang yang terbunuh setiap tahun di Hpakant, sebuah daerah yang dekat dengan perbatasan China di negara bagian Kachin.
Ketika foto-foto orang yang meninggal beredar di media sosial, pengguna Facebook mulai mengidentifikasi para pekerja yang jauh dari anggota keluarganya tersebut.
Sejumlah komentar juga datang dari mantan penambang yang kehilangan rekannya, mereka mengenang kebaikan dan kemurahan hatinya selama masa sulit bersama di lereng gunung.
Namun, sejumlah mayat yang sulit diidentifikasi karena kondisinya, masih belum dapat dikenali identitasnya.
Diketahui, puluhan penambang tewas setiap tahun karena tanah longsor dan kecelakaan lain di lereng gunung yang tidak stabil.
Mereka sering berasal dari komunitas etnis minoritas miskin, yang mencari sisa bongkahan batu berharga yang ditinggalkan oleh perusahaan besar.
Batu berkualitas rendah dapat ditukar dengan makanan atau dijual seharga $ 20 atau sekitar Rp 300.000 ke broker yang menunggu.