Haris lalu mempertanyakan apakah presiden yang kini menjabat di periodenya yang kedua itu sudah mengecek fakta dilapangan.
"Apakah Jokowi sebelum marah-marah dia sudah lihat kondisi bagaimana di kantor Kementerian Sosial," jelasnya.
Ia lalu menceritakan bagaimana berdasarkan kesaksian dan temuan yang ia miliki, bantuan sosial (bansos) justru menjadi proyek untuk mencari uang.
Berdasarkan cerita dan info yang ia peroleh, orang-orang yang benar-benar membutuhkan bansos justru tidak kebagian karena kalah dengan pihak yang memiliki akses orang dalam.
Menurut Haris kondisi kepemimpinan pemimpin negara ini tidak jelas untuk menuntun negara menangani pandemi Covid-19.
"Saya mau bilang begini, ancaman reshuffle itu cuma ancaman, tetapi situasi yang realnya dalam penanganan pandemi ini kita memang enggak melihat leadership (kepemimpinan) yang konkrit, yang punya tahap-tahap yang menyelesaikan pandemi ini," terang dia.
Solusi yang ia berikan adalah harus terus mengawal penggunaan anggaran di berbagai sektor.
"Kita juga tiba-tiba kaget, kita lagi struggle (berjuang) sama situasi baru, tiba-tiba presiden marah-marah dengan video yang sudah lewat 10 hari," tutup Haris.
• Kata Moeldoko soal Kemarahan Jokowi, Sebut Sudah Beberapa Kali Terjadi: Sekarang Jauh Lebih Keras
Simak video selengkapnya mulai menit awal:
Makna Diunggah 10 Hari Kemudian
Di sisi lain, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ibnu Hamad mengungkap makna arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang diunggah lama setelah disampaikan.
Dilansir TribunWow.com, hal itu ia sampaikan saat dihubungi dalam tayangan Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne, Senin (29/6/2020).
Sebelumnya Jokowi menyampaikan arahan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada Kamis (18/6/2020).
Dalam pidato tersebut, Jokowi mengecam kinerja menterinya yang dinilai belum tanggap menghadapi pandemi Covid-19.
Meskipun begitu, pidato tersebut baru diunggah di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada Minggu (28/6/2020).