TRIBUNWOW.COM - Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan mengungkap alasan memilih kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.
Hal itu disampaikan Anies Baswedan saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (9/6/2020).
Namun, Pembawa Acara ILC, Karni Ilyas mengatakan dirinya sempat merasa bahwa Anies sebenarnya tidak ingin mengakhiri PSBB.
• Cabut PSBB saat Covid-19 Masih Tinggi, Risma Ibaratkan Diri Karyawan Kena PHK: Makan untuk Sehari
Ia juga menyinggung Jakarta kembali ramai setelah pemberlakuan PSBB
"Pak Gubernur dari tanggal 4 PSBB sudah dicabut, Jakarta langsung hidup kembali, jalanan ramai, pasar ramai, dan restoran-restoran mulai berisi."
"Jadi kehidupan kayak muncul kembali di Jakarta, tapi pencabutan itu sendiri saya lihat prosesnya tidak semulus itu, malah kesan saya, Pak Gubernur itu mau memperpanjang PSBB," tanya Karni Ilyas.
Lalu, Karni Ilyas juga menyinggung soal pembatalan konferensi pers Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.
"Sampai-sampai acara konferensi pers tanggal 3 itu dua-duanya ditunda, baru besoknya Gubernur mengumumkan bukan PSBB dicabut, tapi diubah masa transisi sampai akhir Juni sebenarnya apa yang terjadi di balik itu?," lanjut Karni Ilyas.
Menanggapi itu, Anies menjelaskan bahwa pemilihan kebijakan PSBB transisi itu bukan sesuatu yang sederhana.
"Sebenarnya begini kita memantau pergerakan data terus menerus dan ketika fase penentuan itu sebetulnya bukan di tanggal tiganya, tanggal empatnya."
"Sebenarnya ketika perjalanan selama dua minggu kita sudah tahu trennya, ini kan bukan seperti permukaan air yang dari hari ke hari mengubah secara signifikan," ujar Anies.
Lalu ia mengungkit soal kurva penyebaran Virus Corona di Jakarta.
Menurut Anies, angka penyebaran Covid-19 di Jakarta sebenarnya sudah mulai landai pada pertengahan Mei.
"Jakarta sudah mengalami stabilisasi itu sejak pertengahan Mei kira-kira itu sudah stabil, tidak banyak berubah angka-angkanya," lanjutnya.
• Di ILC, Anies Klarifikasi soal Rekor Lonjakan Corona di Jakarta: Bukan Seperti yang Dibayangkan
Ia mengatakan dalam pemilihan kebijakan PSBB itu didasarkan dari tiga aspek.
"Jadi kita itu memantau ada tiga parameter utama, satu adalah parameter epedemiologi, yang kedua adalah kesehatan publik, yang ketiga tentu fasilitas kesehatan."
"Tapi kalau fasilitas kesehatan itu relatif statis, tapi kalau yang dua epedemiologi dan kesehatan publik itu kita pantau terus," ungkapnya.
Selain itu, pihaknya juga sering melakukan diskusi dengan Gugus Tugas Nasional terkait hal tersebut.
"Jadi sebenarnya lebih pada timing saja dan semua kita harus informasikan kepada semua pihak terutama juga komunikasi dengan Gugus Tugas Nasional."
"Jadi kita bahas sama-sama kita sampaikan pada Gugus Tugas Nasional bahwa Jakarta berencana melakukan transisi," jelas dia.
• Akhiri PSBB Surabaya Raya, Khofifah Sudah Peringatkan Tingginya Risiko Covid-19: Di Atas Jakarta
Anies mengatakan, jika PSBB tidak diperpanjang maka tujuannya untuk menghentikan penyebaran Virus Corona akan gagal.
"Dan sempat didiskusikan terminologi transisi sendiri sebelumnya tidak dikenal, tapi kita melihat bahwa kalau kita sekedar menghentikan PSBB lalu longgar semua, sementara kita belum masuk fase yang ingin kita capai."
"Yaitu fase Jakarta yang aman, sehar, dan produktif," tandas Anies.
Lihat videonya sejak menit awal:
Anies Klarifikasi soal Lonjakan Kasus Baru
Pada kesempatan yang sama, Anies mengungkapkan alasan mengapa terjadi rekor lonjakan kasus baru Virus Corona.
Pernyataan Anies menyusul data kasus baru Covid-19 pada Selasa (10/6/2020), yang memaparkan terdapat 234 kasus baru di DKI Jakarta.
Hal itu disampaikan Anies Baswedan saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa.
• Sebut PSBB Transisi Jakarta dan Malang Raya Bingungkan Publik, Pakar: Hanya untuk Sekedar Beda Saja
Anies Baswedan menjelaskan bahwa pihakya memang akan memperbanyak pengujian.
Sehingga, ia mengakui bahwa hal itu membuat lonjakan kasus baru.
"Nah proses dalam satu minggu ini kita juga, atau satu bulan ini kita juga mengaktifkan proses deteksi kepada masyarakat yang punya potensi penularan Covid."
"Jadi kalau Bang Karni lihat angka hari ini itu termasuk tinggi, jadi hari ini itu penambahan kasus ada 234 kasus," jelas Anies.
Anies mengungkapkan, angka tersebut menjadi rekor jumlah kasus baru terbanyak di Jakarta sejauh ini.
Namun, ujarnya, angka kasus baru itu bukan karena ada penularan baru.
"Ini rekor terbanyak di Jakarta, sebelumnya 16 April itu 223 kasus."
"Tetapi perlu saya sampaikan di sini, angka tertinggi hari ini itu bukan berarti selama ini ada lonjakan kasus seperti yang dibayangkan," jelasnya.
• Anies Kenalkan KSBB di Forum Internasional terkait Corona: Mari Balas Apa yang Telah Jakarta Berikan
Ia mengatakan, 40 dari 234 kasus itu merupakan data dari rumah sakit.
"234 kasus ini, 40 rapelan dari rumah sakit, jadi angkanya yang benar adalah 194," ungkapnya.
"194 itu dari mana? 113 dari pasien, 110 kegiatan tracing puskesmas," ujarnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menegaskan selama PSBB transisi ia ingin meningkatkan peran puskesmas untuk melakukan test PCR.
"Ini yang mau saya sampaikan, di masa transisi ini kita melakukan kegiatan tracing oleh puskesmas-puskesmas, bahkan secara khusus dibuatkan perintah kepada seluruh puskesmas untuk melakukan testing PCR."
"Jadi bukan rapid test, PCR, jadi puskesmas kita melakukan aktif case finding," tegasnya.(TribunWow.com/Mariah Gipty)