Virus Corona

Bicara soal New Normal, Putut Prabantoro: Matinya American Dream

Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Alumnus Lemhannas RI PPSA XXI, AM Putut Prabantoro, dalam kapasitasnya sebagai Konsultan Komunikasi Publik dalam paparannya di hadapan mahasiswa baru Poltekpar Palembang, Jumat (09/08/2019).

“Perguruan Tinggi di Indonesia sangat kurang mengajarkan kepada para mahasiswa tentang Sistem Ekonomi Pancasila dan lebih menekankan sistem ekonomi kapitalis."

"Dosen lebih mengajar ekonomi kompetitif yang menjadi dasar dari ekonomi kapitalisme dibanding dengan usaha bersama atas dasar asas kekeluargaan sebagaimana termuat dalam Pasal 33 UUD 1945."

"Kalau sistem ekonomi Pancasila menjadi konsern bersama, Indonesia harusnya sudah berdaulat, mandiri dan kuat dalam ekonomi,” ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa).

American Dream (Impian Amerika), diurai lebih lanjut oleh Putut Prabantoro, merupakan visi dari warga negara Amerika dalam mewujudkan kehidupannya.

Mimpi ini berakar pada Deklarasi Kemerdekaan dan juga Konstitusi Amerika Serikat.

Dalam Deklarasi Kemerdekaan AS disebutkan, bahwa “semua manusia diciptakan sama” dengan hak untuk “hidup, kebebasan dan mengejar kebahagiaan”.

Sementara Konstitusi Amerika dalam pembukaannya mengatakan, “mengamankan Berkah Kebebasan Untuk Diri Kita Sendiri dan Keturunan Kita”.

Salah satu penulis AS, James Truslow Adams dalam bukunya Epic Of Amerika (1931) memperjelas American Dream dengan mengatakan, “Mimpi tentang tanah di mana hidup harus lebih baik dan lebih kaya dan lebih lengkap untuk semua orang, dengan kesempatan untuk masing-masing sesuai dengan kemampuan” atau prestasi terlepas dari kelas sosial atau keadaan kelahiran”.

Dalam American Dream, masih menurutnya, tidak dikenal istilah gotong royong. Warga AS hidup secara individual.

Mengingat warga negara AS awal adalah para pendatang dari berbagai bangsa dan negara, kompetisi adalah kata yang paling dominan dalam mewujudkan American Dream.

Kompetisi untuk mewujudkan American Dream dengan menjadi kaya dan bahagia kemudian menjadi jati diri bangsa AS,” ujarnya lebih lanjut.

Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) ini menilai, salah satu kegagalan AS dalam menghadapi pandemi Covid adalah tidak adanya gotong royong di antara mereka.

Masing-masing ingin menyelamatkan diri secara individu. Parahnya lagi, selain kehilangan pekerjaan sebagai dampak dari pandemi, masyarakat AS masih harus menghadapi beban utang pribadi, yang selama ini membiaya “hidup bahagia” sebagai wujud dari American Dream.

Sekalipun memiliki mobil, meminta tunjangan makan dari pemerintahnya merupakan pemandangan yang umum dalam masa pendemi ini.

Selain karena utang $27 triliun, AS mengalami kehancuran ekonominya akibat pandemi.

Halaman
123