TRIBUNWOW.COM - Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden Erlinda menjelaskan polemik pembukaan sekolah saat new normal.
Seperti diketahui, cara hidup baru atau new normal diterapkan setelah adanya pandemi Virus Corona (Covid-19).
Meskipun begitu, pembukaan kembali sekolah menuai pro dan kontra karena tingkat pertumbuhan kasus Covid-19 masih tinggi.
• Segera New Normal di Bogor, Bima Arya Sebut Belum Tentu Sekolah Siap Dibuka: Kalau Pasar, Toko Bisa
Dilansir TribunWow.com, Erlinda menjelaskan pembukaan sekolah tidak akan dilakukan serta-merta begitu new normal diterapkan.
Awalnya, ia membenarkan tahun ajaran baru akan dimulai pada 13 Juli 2020.
Meskipun begitu, proses pembelajaran akan berbeda setelah adanya Covid-19.
"Tapi di sini harus kita jelaskan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa bukan berarti pembelajaran dibuka seperti sebelum Covid-19," kata Erlinda, dalam acara Sapa Indonesia Malam di Kompas TV, Jumat (29/5/2020).
Erlinda menjelaskan sekolah dapat kembali melakukan pembelajaran tatap muka jika benar-benar berada dalam zona hijau.
"Artinya ada opsi betul, apabila zona hijau yang sudah dikeluarkan Gugus Tugas dan nanti Kemendikbud berkoordinasi dengan Kemenag," ungkap Erlinda.
Ia menambahkan Gugus Tugas Covid-19 akan berkoordinasi dengan Gugus Tugas di daerah.
Dalam penyelenggaraan kembali pembelajaran pun akan dipraktekkan protokol kesehatan luar biasa.
"Tapi bukan berarti dengan serta-merta dibuka," jelas Erlinda.
Ia menambahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selalu ingin memastikan keselamatan masyarakat.
• Tertawa Ungkap Hasil Angket, KPAI: 80 Persen Orang Tua Menolak, 80 Persen Siswa Malah Minta Sekolah
"Izinkan saya juga mengatakan bahwa Bapak Presiden kita bersama kabinetnya menomorsatukan keselamatan," tegas Erlinda.
"Keselamatan dia atas segala-galanya. Kesehatan tidak hanya fisik, tapi juga mental," tambah dia.
Erlinda menyinggung para siswa yang sudah dua bulan lebih menjalani pembelajaran jarak jauh.
Dalam pembelajaran jarak jauh, ada banyak perbedaan yang dirasakan baik siswa, guru, maupun orang tua murid.
"Kita paham, setelah berapa bulan ini anak-anak peserta didik dari tingkat PAUD sampai SMK-SMA, belum lagi perguruan tinggi, mereka melakukan pembelajaran dari rumah," paparnya.
"Ada yang menggunakan daring, ada juga yang menggunakan TV, telepon, atau dengan relawan," lanjut Erlinda.
Ia menegaskan pembukaan kembali sekolah akan memperhitungkan dengan matang kesiapan masyarakat.
"Kita tekankan kita berikan kenyamanan dulu kepada masyarakat," kata Erlinda.
• Adaptasi New Normal, Sekolah di Kediri akan Masuk Seminggu Sekali, Kadin Pendidikan: 10-15 Anak
Lihat videonya mulai menit 5:00
Kediri Siapkan Skema New Normal di Sekolah
Di sisi lain, Dinas pendidikan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berencana mengatur agar siswa masuk sekolah selama seminggu sekali.
Peraturan ini akan dilaksanakan bila nantinya pemerintah telah mencanangkan aturan tatanan baru atau new normal.
Tingkat pendidikan yang direncanakan akan melaksanakan aturan ini nantinya adalah sekolah negeri setingkat SMP yang ada di Kabupaten Kediri.
• Tahun Ajaran Baru Dipastikan Mulai Bulan Juli, Plt Dirjen Kemendikbud: Bedakan dengan KBM Tatap Muka
Oleh karenanya, dinas pendidikan telah mempersiapkan sejumlah panduan pelaksanaan untuk guru, siswa, dan wali murid.
Panduan tersebut nantinya akan mengatur terkait penerapan protokol kesehatan di sekolah agar siswa bisa belajar dengan aman dan produktif.
Dengan adanya panduan tersebut, diharapkan tidak ada lagi kebingungan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar selanjutnya.
Dilansir KompasTV, Jumat (29/5/2020), dinas pendidikan akan melaksanakan skenario pembatasan waktu sekolah dan jumlah siswa yang datang.
Menurut Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Sujud Winarko, nantinya para siswa hanya akan diminta untuk ke sekolah seminggu sekali.
Jumlah siswa di dalam kelas juga akan dibatasi sebanyak 10 orang per kelas selama satu hari, sehingga jarak aman tetap dapat terjaga.
• Meski Dukung New Normal, M Qodari Kritik Cara Komunikasi: Kalau Saya, Tak akan Libatkan Pak Jokowi
Namun, Sujud menerangkan bahwa skenario tersebut akan dilakukan bila nantinya sudah ada instruksi dari pemerintah terkait pelaksanaan new normal.
"Kalau nanti memang diterapkan new normal, sehingga tidak muncul paparan Covid gelombang kedua mungkin yang nanti lebih besar, kami rencanakan untuk masuk itu satu minggu atau satu bulan sekali per tingkat, " tutur Sujud.
Menurut Sujud, rencana kegiatan belajar mengajar tiap harinya akan dibatasi hanya untuk satu kelas.
"Sehari itu satu kelas, satu itu kan misalnya kelas satu saja, dengan tempat duduk diatur protokoler Covid," lanjutnya.
"Sehingga mungkin satu kelas itu hanya diisi oleh 10 sampai 15 anak, sehingga semua ruangan itu digunakan dan diajar oleh semua guru," tandasnya.
Di sisi lain, proses orientasi siswa baru yang biasanya dikakukan secara beramai-ramai di sekolah, akan dilaksanakan secara daring.
Hal ini ditetapkan untuk menghindari timbulnya kerumunan yang dapat meningkatkan potensi penularan Virus Corona. (TribunWow.com/Brigitta Winasis/Noviana)