Terkini Nasional

Akui akan Reshuffle Menteri jika Jadi Presiden, Ekonom INDEF Ini Singgung Luhut: Mending Bubarin Aja

Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira (kiri), dan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (kanan). Dalam kanal YouTube Refly Harun, Sabtu (23/5/2020), Bhima Yudhistira blak-blakan mengandaikan diri menjadi seorang presiden.

TRIBUNWOW.COM - Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira blak-blakan mengandaikan diri menjadi seorang presiden.

Dilansir TribunWow.com, jika menjadi seorang presiden, Bhima Yudhistira mengaku akan mengganti sejumlah menteri di bidang ekonomi.

Namun, ia menyebut akan membubarkan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Meskipun begitu, Bhima Yudhistira menyatakan ingin membubarkan kementerian yang dipimpin Luhur Binsar Pandjaitan karena sejumlah alasan rasional.

Menteri Perhubungan Ad Interim Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan larangan mudik akan berlaku mulai Jumat, (24/4/2020). (Youtube KompasTV)

 

Said Didu Dipolisikan Luhut, Refly Harun Turut Singgung Nama Faisal Basri: Kritiknya Lebih Keras

Refly Harun Anggap Said Didu Orang Terpilih karena Dilaporkan Luhut: Faisal Basri Kritik Lebih Keras

Hal itu disampaikan Bhima Yudhistira melalui kanal YouTube Refly Harun, Sabtu (23/5/2020).

Pada kesempatan itu, mulanya Bhima menyebut sejumlah tokoh yang dinilai cocok menggantikan beberapa menteri kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Pak Hatim Basri untuk posisi menteri keuangan, kemudian ada Bang Faisal Basri itu cocoknya di perdagangan atau industri," kata Bhima.

"Yang ketiga, saya justru minta Bang Revrisond Baswir itu untuk ngurusin koperasi dan UMKM."

Melanjutkan penjelasannya, Bhima lantas menyinggung nama tokoh lain untuk menggantikan posisi menteri perekonomian hingga kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapennas).

"Menko Perekonomian mungkin Pak Didik Rachbini kali cocok ya, belum pernah jadi menteri soalnya," terang dia.

"Kepala Bapennas itu ke Pak Drajad Wibowo tuh, biar arahannya jelas. Udah hampir semua kan ya?"

Lantas, ia menyoroti posisi Luhut Binsar sebagai Menko Maritim dan Investasi.

Bahas Corona di ILC, Fuad Bawazier Singgung Peran Luhut hingga Sri Mulyani: Kayak Kabinet Kaki Tiga

Bhima menilai, kementerian itu lebih layak untuk dibubarkan ketimbang diganti menteri.

"Kecuali Menko Maritim dan Investasi, itu mendingan dibubarin aja," ungkap Bhima.

Mendengar pernyataan Bhima itu, tampak Pakar Hukum Tata Negara Refly Harun terbahak.

"Jadi tidak perlu diganti? Tentu rasional ya?," ucap Refly Harun tertawa.

Bhima berpendapat, ada sejumlah lembaga di bawah Menko Kemaritiman dan Investasi yang seharusnya di bawah kendali Menko Perekonomian.

Ia pun menyinggung Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"Karena BKPM itu cocoknya ada di bawah Menko Perekonomian biar koordinasinya lebih oke," jelas Bhima.

"Karena dia sangat ekonomi."

Tak hanya itu, jika menjadi presiden Bhima mengaku akan memindahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KPP) di bawah Menko Perekonomian.

"Kemudian pariwisata juga cocoknya di bawah Menko Perekonomian, satu lagi KKP itu nyambungnya juga Menko Perekonomian."

"Karena di situ di bawahnya Menko Perekonomian ada menteri pertanian," tandasnya.

Tanggapan Mahfud MD saat Disebut Ada Ketidakkompakan Kabinet soal Isu Pembebasan Napi Koruptor

Simak video berikut ini menit ke-41.34:

 

 Ajak Belva Berdebat

Pada kesempatan itu, sebelumnya Bhima Yudhistira sempat mengajak mantan Staf Khusus (Stafsus) Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), Belva Devara berdebat soal Kartu Prakerja.

Dilansir TribunWow.com, sebelumnya Belva Devara mengundurkan diri sebagai Stafsus Milenial Jokowi karena dianggap memanfaatkan proyek Kartu Prakerja untuk kepentingan pribadi.

Terkait hal itu, Bhima Yudhistira mengaku hingga kini ajakannya debat itu belum juga mendapat jawaban dari Belva.

Jika Belva berhalangan, ia bahkan menantang stafsus milenial lainnya untuk berdebat dengannya soal Kartu Prakerja.

Refly Harun Puji Belva Devara Bisa Kuliah di 2 Universitas Ngetop Dunia: Luar Biasa Sesungguhnya

Pernyataan Bhima Yudhistira itu pun memancing reaksi Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun.

"Jadi ketika kemudian saya melihat 'Ini kok ada milenial pakai embel-embel stafsus milenial, di sisi lain dia punya konflik kepentingan sama program kartu prakerja'," ucap Bhima.

"Tapi dia kemudian pura-pura enggak tahu."

Bhima mengaku, mengajak debat Belva untuk mengetahui konsep pemikiran stasus milenial Jokowi.

Meskipun begitu, ia menyebut enggan ribut-ribut dan memilih berdebat secara damai jika Belva memenuhi ajakannya.

"Jadi saya coba pengin lihat sebenarnya konsepnya milenial di ring 1 presiden itu seperti apa," jelas Bhima.

"Kemudian kita adu gagasan aja, biasa aja sih."

Belva Devara dan Andi Taufan Mundur, Jokowi: Sebetulnya Saya Ingin Mereka Tahu soal Pemerintahan

Lebih lanjut, hingga kini Bhima mengaku belum ada tanggapan dari Belva terkait ajakan debatnya itu.

Bahkan, ia turut menantang stafsus Jokowi yang lain untuk berdebat soal Kartu Prakerja.

"Saya udah WA, saya udah bilang ke teman-teman stafsus lainnya, kalau Belva enggak bisa dibantuin lah 7 lawan 1," ujar Bhima.

"Bercandanya begitu ya, tapi enggak dijawab juga. "

Pernyataan Bhima itu pun lantas ditanggapi candaan Refly Harun.

Ia mengatakan, ajakan debat Bhima itu menjadi tantangan bagi Jokowi yang merekrut stafsus milenial.

Tak hanya itu, Refly juga menyebut Jokowi begitu membanggakan ketujuh stafsus milenial itu sejak awal pelantikan.

"Wah ini tantangan Presiden Jokowi ya, membangga-banggakan 7 staf khusus," ucap Refly.

"Ini ada 1 anak muda yang berani dikeroyok 7 orang, kayak pendekar silat ya zaman silat dulu ya."

"Biasanya 7 pendekar itu yang nantangin, tapi ini satu berani nantang yang 7," tandasnya. (TribunWow.com)