TRIBUNWOW.COM - Budayawan Ridwan Saidi meminta pemerintah untuk mempertimbangkan faktor budaya dalam penanganan Virus Corona.
Dilansir TribunWow.com, Ridwan Saidi mengatakan bahwa faktor budaya tidak bisa dilepaskan begitu saja, meski memang faktor utamanya adalah kesehatan atau medis.
Ridwan Saidi juga meminta pemerintah tidak lantas menunjukkan sikap yang pesimis dalam mengatasi pandemi Covid-19 tersebut.
Hal ini disampaikannya dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (19/5/2020).
• Di ILC, Ridwan Saidi Yakini Masyarakat Bosan soal Pembahasan Corona: Piala Dunia Saja Dua Bulan
"Faktor-faktor budaya atau dimensi kebudayaan harus menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan," ujar Ridwan Saidi.
"Jadi dalam rangka ini, dimensi kebudayaan harus dipertimbangkan dimensi kebudayaan harus dipikirkan," jelasnya.
Menurutnya, satu faktor kebudayaan tersebut adalah terkait dengan mudik dan perayaan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.
Dirinya mempunyai spekulasi bahwa bisa saja Lebaran justru memberikan keyakinan lebih kepada masyarakat untuk melawan Virus Corona.
Karena mereka telah memiliki semangat lebih setelah bertemu dengan keluarga.
Meski memang diakui juga memiliki faktor risiko tersendiri.
"Faktor keyakinan itu akan bertambah dengan silaturahmi, saya kira spekulasi saja kalau dikatakan bahwa akan meningkat grafik penularan Covid jikalau orang pada lebaran, silaturahmi," ungkapnya.
"Atau bisa juga sebaliknya, karena bertambah keyakinan orang, bertambah kepercayaan diri orang di dalam hari yang sangat berbahagia itu yaitu hari lebaran," jelasnya.
"Itu juga faktor-faktor itu jangan diabaikan begitu saja."
• Di ILC, Sudjiwo Tedjo Dukung Penuh Kebijakan Anies soal Mudik saat Corona: Budaya Bisa Diubah
Selain itu, Budayawan Betawi itu berharap pemerintah juga harus menunjukkan keyakinan bisa mengatasi wabah tersebut.
Supaya masyarakat sendiri juga menjadi percaya.
Jangan malah sebaliknya, pemerintah merasa pesimis.
"Itu keyakinkan harus ditanamkan, jangan kita menghamburkan pesimisme di tengah masyarakat" tegas Ridwan Saidi.
"Dan juga jangan sampai lupa untuk meminta pertolongan Allah, minta pengampunan pada Allah," sambungnya.
"Itu haruslah para tokoh itu mengatakan itu di depan publik."
Ridwan Saidi menilai yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang ini adalah tentang keyakinan dan kepercayaan bahwa Virus Corona bisa diatasi atau dikendalikan.
"Ini dapat kita atasi. Di depan publik harus mengatakan itu, tanamkanlah keyakinan diri kita akan sehat, kita akan bisa mengatasi masalah Covid," katanya.
"Itu adalah persoalan-persoalan yang menyangkut kebudayaan, bukan semata-mata soal medis," pungkasnya.
• Anies Baswedan Tunjukkan Data di ILC, Tingkat Kesadaran Warga Jakarta Tertinggi, Ungguli Jawa Barat
Simak videonya mulai menit ke- 11.16
Yakini Masyarakat Bosan: Piala Dunia Saja Dua Bulan
Budayawan Ridwan Saidi mengaku bahwa dirinya merasakan kebosanan dengan imbauan terkait Virus Corona.
Dilansir TribunWow.com, dari tayangan Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (19/5/2020), Ridwan Saidi menyebut apa yang yang dirasakannya tentunya dapat mewakili perasaan dari seluruh masayarakat Indonesia.
Menurut Ridwan Saidi rata-rata pembahasan kasus di Indonesia tidak bertahan lebih dari dua bulan.
Setelah itu yang terjadi pastinya akan menimbulkan suatu kebosanan.
• Di ILC, Sudjiwo Tedjo Dukung Penuh Kebijakan Anies soal Mudik saat Corona: Budaya Bisa Diubah
Dan kondisi seperti itulah yang sedang terjadi saat ini.
Karena seperti yang diketahui, pembahasan tentang Corona sudah dimulai sejak pertama kali masuk Indonesia, yakni pada awal Maret 2020 lalu.
Atau bahkan sebelum masuk Indonesia, yakni sejak Virus Corona masih menyerang China.
Ridwan Saidi mengatakan dampaknya kini masyarakat menjadi seakan-akan tidak mau mendengar lagi apa yang dikatakan oleh para pemerintah.
Alhasil banyak pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bentuk dari kebosanan tersebut.
Dirinya lantas meminta para kepala pemerintahan, termasuk para gubernur dan wali kota untuk menyadari kondisi yang terjadi.
"Tema di Indonesia itu sebenarnya paling lama dua bulan, setelah itu orang bosan, jadi jangan anda lupa penyebab Bapak-bapak Gubernur yang tampil di layar tadi, bahwa Anda akan mendapatkan tantangan perintah-perintah Anda," ujar Ridwan Saidi.
"Bukan karena perintah Anda tidak bagus, karena orang sudah bosan, dua bulan orang sudah bosan, bicara apapun isu apapun umurnya cuman dua bulan," jelasnya.
• Tanggapi Mulai Banyak Kerumunan di Jakarta, Anies Baswedan Sebut Tingkat Kesadaran Sudah 60 Persen
Ridwan Saidi lantas menyinggung kasus-kasus besar yang terjadi di Indonesia yang menjadi topik pembicaraan luas, seperti G30S.
Menurutnya, hanya peristawa kelam tersebutlah yang mampu bertahan cukup lama menjadi bahan pembicaraan bahkan bisa sampai sekarang.
"Yang paling lama adalah G30S sampai dini hari masih jadi isu," ungkapnya.
Dirinya juga menyinggung tentang gelaran pentas sepak bola terakbar di dunia, yakni Piala Dunia.
Dikatakannya, Piala Dunia tidak akan dibahas sampai dua bulan lebih, karena pastinya akan menimbulkan rasa bosan.
"Tetapi yang lain-lain, Piala Dunia saja dua bulan," katanya.
"Satu bulan pertandingannya, setelah itu orang ngobrol paling lama setelah itu tentang final Piala Dunia," sambungnya.
Maka dari Ridwan Saidi berharap pemerintah bisa segera menyelesaikan masalah penyebaran Virus Corona tersebut.
Supaya tidak ada lagi kebosanan yang ditunjukkan oleh masyarakat.
"Oleh karena itu harus pertimbangankan juga di dalam berkomunikasi faktor kebosanan," pungkasnya.
(TribunWow/Elfan Fajar Nugroho)