TRIBUNWOW.COM - Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan tak ada yang diuntungkan dari adanya pandemi Virus Corona.
Menurut pandangan Dicky, teori konspirasi terkait Covid-19 dapat dengan mudah dipatahkan melalui penelitian dan data.
Ia menganggap adanya teori tersebut sangat tidak masuk akal karena tidak ada pihak-pihak yang diuntungkan dari pandemi tersebut.
• Konspirasi Covid-19 di Mata Nadiem Makarim, Jerinx, dan dr. Tirta, Malas Berpikir Vs Kebohongan WHO
Padahal bila pandemi ini hanyalah sandiwara atau rekayasa yang disengaja, maka harus ada pihak-pihak yang diuntungkan.
Dilansir Kompas.com, Sabtu (16/5/2020), Dicky menampik kemungkinan adanya unsur kesengajaan dalam pandemi yang sedang berlangsung saat ini.
Karena menurutnya, tidak ada satu pun negara yang merasa diuntungkan dengan wabah ini.
“Nah kalau sekarang yang merekayasa negara, faktanya tak satupun negara yang mendapat keuntungan dari Covid-19,” ujar Dicky.
“Secara logika sederhana saja nggak ada yang diuntungkan,” imbuhnya.
Pasalnya, baik dari sisi sosial maupun ekonomi, negara yang terdampak pandemi Virus Corona malah mengalami kerugian yang signifikan.
Bahkan bila dikatakan perusahaan vaksin akan mendapat untung dari wabah ini, hal tersebut dengan mudah bisa dibantah.
Karena dengan tingkat kesulitan pembuatan vaksin yang tinggi, tidak ada jaminan bagi para perusahaan vaksin untuk dapat segera menemukan vaksin yang tepat.
Yang ada, mereka malah bisa mengalami kerugian setelah mengeluarkan dana penelitian namun tak kunjung mendapatkan hasil yang diharapkan.
“Faktanya yang terjadi saat ini virus ini terus bermutasi dan strain berbeda-beda di setiap negara, sehingga tingkat kesulitan vaksin dan obat pun sangat komplek,” jelas Dicky.
Jika tujuan virus ini adalah untuk menguntungkan perusahaan vaksin, Dicky menilai skenario tersebut malah terlalu rumit dan berisiko.
Bahkan tudingan bahwa China berada di balik pandemi ini juga tidak beralasan karena negara tersebut hingga saat ini masih mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk menanggulangi virus di negaranya.
“China di Wuhan sekarang melakukan tes bahkan sampai 1 juta sehari, itu dalam rangka karena takutnya akan serangan gelombang kedua yang lebih besar,” ujarnya.
Pelaksaan tes tersebut tentu membutuhkan dana yang besar, sehingga tidak masuk akal bila negara tersebut sengaja memberi kesulitan pada dirinya sendiri.
“Selain nggak terbukti juga tidak produktif ketika mempertentangkan teori konspirasi karena kita akan kehabisan waktu dan tenaga padahal virus ini bertambah jumlahnya tiap hari,” tandasnya.
• Tuding Konspirasi Corona, Jerinx Sebut Rumah Sakit di Luar Negeri Sepi, Aiman Pertanyakan Data
Teori Konspirasi Sebagai Indikator Kemalasan Berpikir
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menanggapi soal ramainya teori-teori konspirasi tentang pandemi Virus Corona (Covid-19).
Nadiem mengatakan orang-orang yang berpaling pada teori-teori konspirasi adalah orang yang malas berpikir.
Mantan bos Gojek itu kemudian menjelaskan bagaimana adanya pandemi ini sebenarnya sudah diprediksi oleh para ilmuwan dan ahli sejak beberapa tahun yang lalu.
Dikutip dari YouTube Najwa Shihab, Selasa (5/5/2020), awalnya Nadiem mengatakan hal terpenting dalam melawan Covid-19 adalah mengontrol emosi dan menggunakan akal sehat untuk memilah-milah informasi.
Nadiem menjelaskan ketika seseorang panik maka orang tersebut akan kehilangan kendali.
"Karena bawaannya mau panik, bawaannya ketakutan, dan itu mungkin yang merupakan tantangan utama adalah agar tidak lose control, untuk menjaga akal sehat," paparnya.
Di sisi lain, ketika seseorang bisa mengendalikan dirinya sendiri maka ia akan mampu mengambil kebijakan-kebijakan yang rasional untuk melindungi dirinya sendiri, keluarganya maupun asetnya.
"Tapi bagi yang panik, reaktif itu akan kemana-mana, dan menjadikan pola pikir yang tidak sehat," ujar Nadiem.
Presenter kondang Najwa Shihab kemudian menyinggung soal orang-orang yang tidak rasional akhirnya berlari ke teori konspirasi.
"Banyak sekali akhirnya muncul seperti yang tadi kebohongan itu muncul dan dibalut seolah-olah ini valid," kata Najwa.
"Teori-teori konspirasi yang kemudian muncul," lanjutnya.
Najwa mengatakan juga bahwa teori-teori konspirasi turut digandrungi di negara-negara yang tingkat pendidikannya juga lebih maju dibanding Indonesia.
"Dan bukan hanya tejadi di negeri kita kan kalau kita lihat di negeri-negeri di dalam dunia pendidikannya lebih maju, masyarakatnya lebih terbuka, teori-teori konspirasi pun laku dijual," kata dia.
Pemilik Narasi Tv itu lalu menyinggung soal beberapa teori yang populer di negara-negara lain.
"Wah ini disebabkan oleh Menara 5G, wah ini disebabkan oleh senjata biologis massal yang sengaja diciptakan, untuk menarget orang-orang tua, wah ini memang Yahudi, ini China."
"Belum lagi kemudian dibalut dengan sentimen-sentimen ras yang menjadikan ini semakin kacau balau," ucap Najwa.
Nadiem kemudian menerangkan mengapa teori konspirasi begitu digandrungi.
Ia menjelaskan ketika berada di situasi yang gawat, seseorang cenderung mencari-cari objek untuk disalahkan.
"Satu hal mengenai psikologi manusia, mungkin ini pendidikannya dengan pendidikan juga sangat penting," ujar Nadiem.
"Bahwa kalau terjadi sesuatu yang bisa kita jelaskan, kenapa wabah ini terjadi bisa sampai berdampak kepada ekonomi dan kesehatan dunia seperti ini."
"Harus ada orang yang disalahkan, iya kan? harus ada, banyak sekali orang yang tidak mau menerima situasi ini hal yang organik setelah terjadi, tidak bisa menerima," sambungnya.
Nadiem menyindir orang-orang yang berpaling kepada teori konspirasi sebagai orang-orang malas.
"lebih mudah menyalahkan satu orang, satu pihak, atau mempercayai satu konspirasi. Itu adalah cara berpikir malas iya kan," ucap dia.
Kemudian Nadiem lanjut menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 bisa ditelaah secara logis denga menggunakan ilmu pengetahuan.
Ia mengungkit bagaimana para ahli sebenarnya sudah memprediksi datangnya pandemi Covid-19.
"Sedangkan kalau kita percaya pada saintis, saintis yang sudah berbicara, ini sudah diprediksi bertahun-tahun mbak Nana," ucap Nadiem.
"Iya kan kita sudah banyak sekali saintis dan researcher dan dokter-dokter pun yang bilang bahwa pandemik seperti ini apakah akan terjadi, tetapi kapan terjadi," lanjutnya.
Nadiem juga menyinggung soal prediksi yang pernah dilontarkan oleh pendiri Microsoft Bill Gates.
Anak dari Nono Makariem itu mengatakan bahwa apabila orang mau mencari tahu tentang pandemi Covid-19, wabah tersebut sebenarnya sudah diprediksi sejak lama.
"Jadi kalau kita bener-bener mendengarkan orang-orang yang terpintar dan paling saintifical, paling rasional, ini adalah suatu fenomena yang harusnya kita sudah mengerti bahwa ini akan terjadi," ungkapnya.
Terakhir Nadiem mengatakan bagaimana pandemi seperti Covid-19 bisa terjadi lagi.
Namun ia yakin Indonesia sudah belajar banyak dari pandemi Covid-19 dan akan lebih siap menghadapi bencana yang akan datang.
"Dan kemungkinan besar Mbak Nana saya sedih menyebutnya tetapi bisa terjadi lagi."
"Tapi untunglah kita bisa belajar dari trial run ini walaupun dampaknya luar biasa, tapi yang terpenting kita belajar dari pada experience ini sehingga kita bisa mengantisipasi bencana-bencana lain," tandasnya.
Lihat videonya mulai menit ke-2.30:
(TribunWow.com/ Via/ Anung)