"Dari 24 pasien, kami memiliki satu hasil positif untuk Covid-19 pada 27 Desember ketika dia berada di rumah sakit," katanya.
Cohen menambahkan tes telah diulang beberapa kali untuk mengkonfirmasi hasilnya.
Cohen mengatakan dia telah melaporkan kasus ini ke otoritas kesehatan regional dan meminta tes negatif lainnya dari periode yang sama diuji ulang.
Anak-anak direncanakan untuk kembali ke sekolah secara bertahap, beberapa bisnis akan dibuka kembali, dan orang-orang akan dapat melakukan perjalanan dalam jarak 100 kilometer dari rumah mereka tanpa perlu membawa dokumen resmi yang menjelaskan maksud pergerakan mereka.
Namun, Menteri Kesehatan Olivier Veran mengatakan kebijakan itu akan tergantung pada penurunan jumlah infeksi baru, terutama di daerah yang paling parah terkena dampak seperti wilayah Paris dan timur laut Prancis.
Prancis juga mengklarifikasi bahwa aturan yang mengharuskan siapa pun yang memasuki negara itu untuk diisolasi selama 14 hari tidak berlaku untuk orang yang datang dari negara-negara UE, wilayah Schengen atau Inggris.
Sebelumnya, saat Prancis mencatat lebih dari 20.000 kematian terkait Virus Corona, direktur kesehatan negara itu Jérôme Salomon mengatakan jumlah itu "simbolis dan menyakitkan".
"Malam ini, negara kita melewati tonggak simbolis yang menyakitkan," ujarnya.
Berbeda dengan Inggris, Prancis memasukkan kematian di rumah jompo dalam hitungan hariannya.
Hingga Senin (04/05), ada 24.729 kematian terkait virus di Prancis. (BBC)
Artikel ini telah tayang di BBC Indonesia dengan judul "Virus Corona: Italia longgarkan lockdown, perdana menteri: 'bisnis tak bisa menunggu sampai vaksin ditemukan'"