TRIBUNWOW.COM - Pengamat Intelejen senior Suhendra Hadikuntono ikut berkomentar soal polemik kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Sebagaimana diketahui, kenaikan BPJS ini menyebabkan timbulnya kritik pada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Dikutip dari Tribunnews.com pada Jumat (15/5/2020), Suhendra Hadikuntono menilai seharusnya jangan memojokkan Jokowi di kondisi seperti ini.
• Kontroversi Iuran BPJS Naik, Istana Angkat Bicara: Tidak Ada Kenaikan Kelas III tapi Subsidi
Menurutnya yang perlu disalahkan adalah orang-orang yang membisikki Jokowi.
Jokowi dinilai sudah terlalu sibuk menghadapi masalah pandemi Virus Corona.
"Bila memang harus ada yang disalahkan, salahkanlah para pembisiknya. Jangan pojokkan Presiden yang saat ini sedang fokus terhadap banyak hal," kata Suhendra Hadikuntono di Jakarta, Kamis (14/5/2020).
Suhendra merasa Jokowi pasti sempat merasakan kegalauan terkait kenaikan iuran BPJS.
Di satu sisi Jokowi kemungkinan berat menaikkan iuran BPJS karena ekonomi tengah terpuruk di tengah pandemi Covid-19.
Namun, jika tidak dilakukan maka akan mengancam keberadaan BPJS Kesehatan yang juga akan merugikan masyarakat nantinya.
Terkait kritikan sejumlah pihak, Suhendra menilai bahwa itu hanya ingin mendapat perhatian dari masyarakat.
"Di tengah dilema itu, Presiden memang harus cepat mengambil sikap.Nah, saya melihat banyak pihak yang tidak punya kapasitas keilmuan, namun ingin berebut peran empati."
"Akibatnya fatal. Pak Jokowi itu punya komitmen dan jujur dalam membangun bangsa. Tolong jangan ditarik ke sana kemari," ujar dia.
• Reaksi Berbeda Ridwan Kamil sampai Ganjar Pranowo soal BPJS Naik, Soroti Corona dan Nasihati Jokowi
Suhendra menilai masalah ini digunakan untuk mempertontonkan kelemahan Jokowi.
"Drama ini seolah-olah mempertontonkan sisi kelemahan Presiden dalam hal ketatanegaraan."
"Selain itu, menunjukkan kelemahan komunikasi antara komponen eksekutif dan yudikatif," kata Suhendra.