TRIBUNWOW.COM - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan tantangan kepada Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya.
Refly Harun meminta kepada Tantowi Yahya untuk memilih dari tiga pilihan tokoh, yakni Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Presiden Jokowi dan mantan Dirut TVRI Helmy Yahya yang juga merupakan saudara kandungnya.
Dilansir TribunWow.com dalam tayangan Youtube Refly Harun, Sabtu (9/5/2020), tanpa berpikir panjang, Tantowi menjatuhkan pilihan kepada Presiden Jokowi.
• Refly Harun Ungkap Kekhawatiran Sistem Pemerintah ke Depan: Menuju Jurang Otoritarianisme
Menurutnya, pemilihannya kepada Jokowi bukan karena berkaitan dengan diplomatik.
Bukan karena dirinya sekarang berada di sisi pemerintahan sebagai Duta Besar.
Tantowi mulanya menjelaskan bahwa jabatannya sebagai duta besar bukan murni bagian dari pemerintah, tetapi cabang yang berada di luar negeri.
"Jujur ya, saya pilih Presiden Jokowi, bukan karena diplomat," ujar Tantowi.
"Saya adalah cabang dari pemerintahan, jadi saya itu adalah petugas yang diberikan amanah untuk menjalankan pemerintahan Indonesia di luar negeri," jelasnya.
"Karena politik luar negeri yang saya jalankan adalah manifestasi dari politik dalam negeri," sambungnya.
Menurut Tantowi, apa yang dilakukan di luar negeri tugasnya tidak berbeda dengan Presiden Jokowi, yakni memberi manfaat untuk rakyat.
"Jadi persis sama dengan Presiden Jokowi, apapun yang dia lakukan dan dia pikirkan harus bermanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk rakyat Indonesia," kata Tantowi.
• Sindir Pemerintah dan Buzzer, Refly Harun: Kalau Saya Jadi Penguasa, Saya Biarkan Orang Mengkritik
Sementara itu, Tantowi menjelaskan alasan kenapa dirinya tidak lantas memilih Airlangga Hartarto yang notabene merupakan ketua umumnya di Partai Golkar.
Dirinya menjelaskan bahwa semua kader partai yang mengabdi untuk negara maka tidak selamanya terikat dengan partai pengusungnya.
Meski begitu, semua orang, bahkan Presiden juga sudah tentu tau dari mana asal partainya.
"Kenapa saya tidak memilih Pak Airlangga Hartarto yang notabene merupakan ketua umum partai saya, sederhana jawabannya, siapapun dia kader partai politik manapun ketika dia sudah mengabdi kepada negara lewat struktur pemerintahan," ujarnya.