Seperti diketahui, awalnya program tersebut ditujukan untuk membantu korban PHK akibat pandemi Virus Corona (Covid-19).
Pada 29 April 2020 ia kemudian dinyatakan lolos program Prakerja Gelombang II.
"Lolos-lolos saja. SMS diterima jam 01.00 pagi, 'Selamat Anda diterima sebagai peserta Prakerja'," tutur Edy.
"Pas saya masuk log in sudah ada saldo Rp 1 juta. Ya, sudah saya pakai belanja video Rp 220 ribu," lanjutnya.
Menurut Edy, proses pendaftaran tidak memeriksa ulang latar belakang peserta.
Edy yang berstatus direktur utama pun dapat lolos program tersebut.
"Tidak ada. Orang itu semua tinggal isi, pekerjaan apa," papar Edy.
"Tidak ada itu misal ditanya omzet turun berapa, apa terdampak covid-19 atau tidak," lanjut pengusaha tersebut.
Ia lalu mengkritik hal-hal yang menurutnya kurang dalam pelaksanaan Kartu Prakerja.
"Kekurangannya pertama kekurangan moral. Rp 5,6 triliun dianggarkan untuk membeli video," sindir Edy.
"Rp 1 juta untuk 5,6 juta orang. Itu kekurangannya," tegas dia.
• Miris Situasi Covid-19, Peserta Kartu Prakerja: Batalkan Program Beli Video Rp 5,6 Triliun Ini
Sri Mulyani Dukung Kartu Prakerja
Menteri Keuangan Sri Mulyani menanggapi sejumlah pihak yang meminta manfaat pelatihan Kartu Prakerja untuk diberikan sebagai insentif.
Sejumlah pihak menilai bahwa manfaat Kartu Prakerja sebesar Rp 1 juta lebih baik dicairkan untuk membantu masyarakat secara tunai.
Menanggapi hal tersebut, Sri Mulyani menjelaskan bahwa desain Kartu Prakerja sudah beralih fungsi daripada rencana awal.
• Bahas Kartu Prakerja, Fahri Hamzah: Bikin Pelatihan Online Terus Ngebayar Perusahaan, Itu Kan Ngawur