Virus Corona

Polri Jawab Ketakutan Warga soal Kriminal Meningkat di Tengah Corona: Banyak Sekali Berita Bohong

Penulis: anung aulia malik
Editor: Atri Wahyu Mukti
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Polisi menyiapkan masker dan brosur tentang virus corona (Covid-19) saat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di pos check point pintu keluar Tol Jagorawi, Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/4/2020). Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, dengan berlakunya status PSBB di Bogor, Depok, dan Bekasi maka sanksi bagi yang melanggar akan diterapkan baik dalam bentuk surat teguran, denda, maupun tindak pidana ringan (tipiring). Warta Kota/Alex Suban

TRIBUNWOW.COM - Kabagpenhum Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra menjawab alasan masyarakat berasumsi bahwa tingkat kriminalitas, dan kejahatan di Indonesia meningkat.

Asep mengatakan angka kriminalitas di Indonesia terlihat tinggi karena berita-berita bohong yang beredar di media sosial.

Berdasarkan data kepolisian, Asep menjelaskan bahwa angka kriminalitas di Indonesia justru menurun, dan dapat dikatakan dalam kategori aman.

Polri menjelaskan mengapa kini muncul pandangan bahwa angka kriminalitas di Indonesia meningkat besar setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Kamis (16/4/2020). (youtube kompastv)

 

Kabar Baik, Polri Beri Bantuan Rp 600 Ribu Bagi Sopir Bus, Taksi, hingga Andong Terdampak Corona

Dikutip dari SAPA INDONESIA PAGI, Kamis (16/4/2020), Asep menerangkan ada tiga faktor yang menyebabkan masyarakat berpikir tingkat kejahatan di Indonesia meningkat.

"Persepsi publik saat ini tentang situasi Kamtibmas, khususnya kejahatan, ini dipengaruhi setidaknya ada tiga faktor," kata Asep.

Faktor pertama adalah adanya pandangan bahwa pandemi Virus Corona (Covid-19), dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) meningkatkan angka kriminalitas.

Masyarakat yang ekonominya semakin tergerus menyebabkan mereka melakukan aksi kejahatan.

Kemudian faktor kedua, Asep menyinggung soal pembebasan napi atau asimilasi napi kembali ke masyarakat.

Ia tidak memungkiri hal tersebut juga membuat kekhawatiran masyarakat akan meningkatnya tingkat kejahatan.

Namun dibanding kedua faktor tersebut, Asep menjelaskan sumber ketakutan masyarakat justru berasal dari berita bohong atau hoaks.

"Ketiga, ini yang sangat berbahaya, bahwa banyak sekali berita-berita bohong atau hoaks yang beredar di media sosial," kata Asep.

Ia lalu memberikan contoh berita hoaks yang sempat membuat masyarakat resah.

"Salah satu buktinya adalah ketika Polres Jakarta Utara mengungkap kasus viral satu berita hoaks, dimana saat itu disampaikan dalam berita hoaks itu adanya korban kejahatan begal," ujar Asep.

"Namun setelah ditelusuri faktanya adalah yang dia videokan itu merupakan korban kecelakaan lalu lintas."

"Ini yang kemudian menimbulkan penguatan persepsi kepada masyarakat bahwa terjadi maraknya kejahatan," lanjutnya.

Sejumlah Napi yang Dibebaskan Kembali Berulah, Yasonna Laoly Ancam akan Masukkan ke Sel Pengasingan

 

 

Halaman
123