Virus Corona

Enggan Jawab soal Kabar Kematian 2 Tenaga Medis yang Tangani Corona, Menkes Terawan: Ranah Jubir

Penulis: Mariah Gipty
Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto sempat ditanya wartawan terkait adanya kabar petugas kesehatan yang meninggal akibat merawat para pasien Virus Corona.

TRIBUNWOW.COM - Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto sempat ditanya wartawan terkait adanya kabar petugas kesehatan yang meninggal akibat merawat para pasien Virus Corona.

Hal itu terjadi pada sesi tanya jawab pengalihfungsian Wisma Atlet yang berlokasi di Kemayoran, Jakarta Pusat untuk menangani pasien Covid-19.

Wartawan itu ingin mengetahui apakah kabar itu benar atau tidak.

Waspadai Virus Corona, Ini Cara dan saat Terbaik Gunakan Masker yang Disarankan WHO

Sedangkan, dikabarkan sebelumnya ada dua dokter meninggal setelah merawat pasien Virus Corona di rumah sakit rujukan.

Selain itu, wartawan yang tak terlihat wajahnya tersebut sempat menyinggung masalah Alat Pelindung Diri (APD).

"Mau menanyakan konfirmasi berita adanya petugas medis meninggal dunia itu konfirmasinya seperti apa pak."

"Dan ketersediaan APD untuk bagi para petugas medis sudah seperti apa?," tanya wartawan.

Terawan menjawab bahwa masalah pasien positif, negatif atau bahkan meninggal, itu ranah dari Juru Bicara Virus Corona, Achmad Yurianto.

"Kalau yang meninggal dunia kan disampaikan oleh Juru Bicara Nasional, kita satu pintu saja," ujar Terawan.

Mahfud MD Singgung soal Kepanikan akibat Virus Corona: Ada Orang yang Ambil Kesempatan dari Situ

Terkait APD, ia mengatakakan pihaknya bekerja sama dengan Gugus Tugas Virus Corona menyiapkan alat kesehatan tersebut sebaik mungkin.

"Tapi kalau untuk APD kita bersama Gugus Tugas bahu membahu, bersama-sama, satu pintu, satu pintu mulai dari Kementerian Kesehatan mensupport apa yang gugus tugas siapkan apa yang nanti terdistribusi dengan baik," jelas dia.

Menurut Terawan, jika masalah APD tidak dikoordinasikan maka akan ada kesalahpahaman.

"Karena kalau tidak nanti muncul mismanagement, kita harus bahu membahu antar KL ini mendukung gugus tugas itu yang kita lakukan," lanjutnya.

Sehingga, Menteri 55 tahun ini menegaskan bahwa Kementerian Kesehatan akan mendukung gugus tugas Virus Corona.

"Tidak ada yang bekerja sendiri, semua mensupport gugus tugas yang menjadi policy-nya," ucap dia.

Kondisi Terkini Andrea Dian yang Diisolasi dengan 5 Pasien Corona, Sempat Didiagnosis Demam Berdarah

Lihat videonya mulai menit ke-3:41:

Ketua IDI Ungkap APD Terbatas hingga Dokter Meninggal

Sementara itu, dikabarkan sebelumnya bahwa dua dokter dari Jawa Barat meninggal dunia.

Dilansir oleh Tribunnews.com, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng Muhammad Faqih membenarkan kabar tersebut pada Sabtu (21/3/2020).

Daeng menyebut dua dokter itu berasal dari Bogor dan Bekasi.

Satu meninggal di RSPAD Gatot Soebroto, sedangkan satu lainnya di RSUP Persahabatan.

“Satu di Bogor, satu di Bekasi. Meninggalnya di RSPAD (Gatot Soebroto), satu di RS Persahabatan,” ujar Daeng.

Daeng menyebut bahwa keduanya meninggal karena positif Virus Corona.

Dinyatakan Positif Corona, Aktris Andrea Dian Minta Jangan Anggap Remeh: Tenaga Kesehatan Terbatas

Daeng mengatakan, keduanya terkena Virus Corona satu di antaranya karena APD terbatas.

Sehingga, Ia mengaku kasihan dengan tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan Virus Corona.

“Ini sebenarnya biangnya APD kita terbatas, kasihan kawan-kawan (tenaga medis) itu,” ungkapnya.

Daeng menjelaskan bahwa APD yang terdiri dari baju, penutup mata, penutup kepala, masker, sarung tangan, dan sepatu kini langka.

Kini, pihaknya meminta Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera mengupayakan kelengkapan APD.

Tingkat Kematian Virus Corona di Indonesia Tinggi

Tingkat kematian di Indonesia akibat Virus Corona cukup tinggi. 

Hingga, Minggu (22/3/2020) siang, tercatat sudah ada 38 kematian dari 450 kasus postif Virus Corona. 

Dilansir TribunWow.com dari Kompas.com pada Kamis (19/3/2020), Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH mengaku tak terkejut.

Panji menduga hal itu terjadi karena kemungkinan Indonesia mengalami under diagnosis atau tak terdeteksi.

Ia mengatakan, jika kasus bergejala ringan banyak ditemukan maka presentase kematian akan menurun.

Kemungkinan, orang-orang yang meninggal itu hanya menampakan gejala Covid-19 yang ringan.

"Jadi, ada kasus infeksi Covid-19 yang tidak terdeteksi atau terdiagnosis. Mungkin karena sakitnya ringan, mungkin karena RS atau dokternya belum aware kalau itu kemungkinan Covid-19, dan sebab lain."

"Sebagian di antara yang tidak terdiagnosis ini juga mungkin meninggal," ujar Panji saat dihubungi Kompas.com, Rabu (18/3/2020).

• Jokowi Pastikan Rapid Test Corona Mulai Sore Ini di Jakarta Selatan: Didatangkan dari Rumah ke Rumah

Menurut dia, angka kematian yang cukup banyak di Indonesia bukan karena virusnya sangat membahayakan.

Namun, cara mendeteksi atau menemukan penderita covid-19 kurang maksimal.

"Jadi proporsi yang meninggal saya rasa enggak setinggi itu. Dengan kata lain, angka kematian tinggi mungkin bukan karena virusnya lebih ganas, tapi kitanya yang kurang 'ganas' mencari orang-orang yang sakit Covid-19," lanjutnya.

Menurut dia, saat ini tak ada angka yang benar-benar dapat dipastikan terkait Virus Corona.

Lalu, ia memprediksi bahwa covid-19 di Indonesia akan tetap meningkat bahkan bisa pesat.

Namun, menurutnya ada tiga faktor untuk menurunkan tingkat kematian covid-19 di Indonesia.

Pertama, dia mengungkapkan sebarapa banyak orang lansia yang terjangkit, jika memang banyak maka angka kematian bisa lebih banyak.

"Kalau lansia banyak yang sakit, ya angka kematian bisa tinggi," ungkap dia.

• Ekonomi Menurun akibat Corona, Haris Azhar Malah Singgung Airlangga Hartanto: Kerja Keras Dong

Kedua, seberapa cepat Indonesia bisa mendeteksi orang yang terkena Virus Corona.

Semakin cepat terdeteksi maka semakin kecil kemungkinan tingkat kematian yang tinggi.

Ketiga, faktor seberapa kemampuan sistem kesehatan Indonesia menangani Covid-19.

Misalnya, sebagian pasien membutuhkan alat-alat tertentu seperti ventilator maupun ruang ICU yang jumlahnya terbatas.

Jika mereka tidak mendapatkan hal itu, maka tingkat kematian bisa semakin besar. (TribunWow.com/Mariah Gipty)