Virus Corona

Di Mata Najwa, Dokter Mengeluh soal Tangani Corona di Indonesia: Kami Perang Tanpa Senjata Lengkap

Editor: Ananda Putri Octaviani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Di acara Mata Najwa Trans 7 pada Rabu (19/3/2020), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Aman Bhakti Pulungan keluhkan kondisi mereka ketika menangani pasien Covid-19.

TRIBUNNEWS.COM - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr Aman Bhakti Pulungan mengeluhkan kondisi mereka ketika menangani pasien Covid-19.

Hal itu ia ungkapkan dalam acara Mata Najwa, Rabu (18/3/2020) yang mengangkat tema 'Setop Corona'.

Dalam acara Mata Najwa kali ini, tidak ada penonton dan bahkan diskusi berlangsung via daring.

Fakta Dokter Positif Corona di Medan Meninggal Dunia, Status Masih PDP hingga Dinkes Lakukan Tracing

Kesigapan Ridwan Kamil Atasi Corona Diapresiasi Mendagri Tito Karnavian: Bisa Ditiru Daerah Lain

Seorang dokter anak, dr Aman Bhakti Pulungan turun langsung dalam aksi melawan Corona ini.

Saat disinggung Najwa terkait lonjakan kasus Corona Indonesia yang signifikan dalam kurun waktu dua minggu ini, Aman mengamini bahwa peningkatannya sangat besar.

"Peningkatannya sudah terlalu besar, dari awal bulan hanya dua kasus dan sekarang 200 lebih, tidak ada statistik seperti ini," jelas Aman.

Kata Ganjar Pranowo soal Berlakukan Lockdown untuk Antisipasi Corona: Menjadi Bahasa Politis

Bahkan menurutnya, saat ini data yang dibutuhkan paramedis tidak transparan.

"Sebetulnya secara statistik kita juga sulit membaca atau memprediksi karena datanya ini tidak transparan."

Tidak bisa dipungkiri bahwa dokter dan paramedis adalah garda terdepan dalam melawan wabah mematikan asal Wuhan ini.

"Tetapi kami para dokter saat ini, saya bisa katakan kamilah saat ini tentara khusus untuk perang ini," ungkap Aman.

Sayangnya, Aman mengibaratkan bahwa saat ini dokter dan paramedis seakan tidak bisa melihat siapa yang sedang diperangi ini.

Merujuk pada kasus yang menurutnya tidak transparan.

"Masalahnya musuhnya kami tidak tahu, berapa jumlah musuh kami tidak bisa melihat musuhnya di manapun saat ini."

Mirisnya dokter dan perawat yang bertugas ternyata tidak dilengkapi peralatan yang memadahi.

Seperti diketahui sebelumnya, dalam merawat pasien dengan virus tingkat penyebaran besar ini membutuhkan alat pelindung diri (APD).

"Kedua kami tidak diberi senjata yang lengkap, inilah perang yang harus kami lakukan," cerita Aman.

9 Fatwa MUI soal Penyelenggaraan Ibadah di Tengah Wabah Corona, Jelaskan Hukum Salat Tarawih dan Ied

Halaman
12