Melanjutkan penjelasannya, Roy justru mempertanyakan soal asal biaya survei Indo Barometer.
Sebab, Jokowi disebutnya tak memiliki program 100 hari kerja.
"Hanya kan di balik survei itu kan pasti banyak pertanyaan," terang Roy.
"Di tweet banyak komentarnya, itu juga yang pertama banyak yang bertanya 'Loh, Pak Jokowi aja enggak punya program 100 hari, kok tiba-tiba ada survei 100 hari?'"
"Siapa yang membiayai survei?," sambungnya.
Meskipun begitu, ia mengaku tak meragukan hasil survei Indo Barometer itu.
"Enggak, bukan meragukan, kita percaya kata responden," ucapnya.
"Kan saya juga jawab biasa aja, biasanya lembaga survei itu bergerak berdasarkan biaya."
"Nah, biayanya dari mana? Itu aja udah," sambung Roy.
Simak video berikut ini menit ke-6.00:
Kemungkinan Reshuffle
Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari mengimbau Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk waspada.
Dilansir TribunWow.com, hal itu berkaitan dengan hasil survei Indo Barometer yang menempatkan Prabowo Subianto di urutan pertama menteri dengan kinerja terbaik.
Terkait hal itu, M Qodari lantas mengungkit hasil survei yang sama di 2015 lalu.
"Kan kita ada hasil surveinya menteri yang dianggap bagus kinerjanya oleh publik, oleh masyarakat, oleh responden," kata Qodari.