"Jika tidak ada masker, aku bisa meminta teman-temanku di penjuru China untuk mengirimnya untukku. Selalu ada cara."
Yao mengatakan bahwa ketersediaan perlengkapan pelindung di rumah sakit tersebut lebih bagus dari yang ia bayangkan.
Pemerintah telah mengirimkan perlengkapan sementara perusahaan swasta memberi donasi.
Jika ada kekurangan perlengkapan pelindung, maka tak semua staf terlindungi dengan baik.
"Ini adalah pekerjaan yang sulit, sangat sedih dan membuat patah hati, dan sering kali kami tidak punya waktu untuk memikirkan keamanan kami sendiri," katanya.
"Kami juga merawat pasien dengan hati-hati, karena banyak orang yang datang ke rumah sakit sambil ketakutan, sebagian dari mereka mengalami nervous breakdown."
Untuk mengatasi lonjakan pasien, staf di rumah sakit bekerja selama 10 jam untuk setiap shift.
Yao mengatakan tidak ada satu pun yang diperbolehkan makan, minum, beristirahat atau menggunakan toilet saat mereka sedang bekerja.
"Di akhir shift, saat kami melepas peralatan pelindung, baju kami sudah basah karena keringat," katanya.
"Dahi kami, hidung, leher, dan wajah kadang terluka karena masker yang ketat."
"Banyak dari kolega kami tidur di bangku setelah selesai bekerja, karena mereka terlalu lelah untuk berjalan," katanya.
• Lokasi Resepsi Dekat Karantina Virus Corona, Pasangan Pengantin di Natuna Nyaris Gagal Nikah
Meski sulit, Yao mengatakan belum ada staf rumah sakit yang tertular virus.
Ia dan koleganya juga dibanjiri pesan-pesan berisi dukungan dari warga. Warga juga kerap mengirimi mereka kebutuhan sehari-hari dan makanan.
"Aku merasa meskipun mereka dikarantina di rumah, virus ini menyatukan hati kami semua," katanya.
Menurut Yao, respon pemerintah China "lumayan cepat", dan tidak ada negara lain yang bereaksi lebih baik dari ini.