Virus Corona

Bahas Protes di Natuna karena Virus Corona, Wabup: Seolah-olah Kami Dikatakan sebagai Tempat Kosong

Penulis: anung aulia malik
Editor: Mohamad Yoenus
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Wabup Natuna Ngesti Yuni Suprapti dalam acara Mata Najwa, Rabu (5/2/2020).

TRIBUNWOW.COM - Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti menjelaskan mengapa terjadi penolakan oleh warga terhadap kebijakan pemerintah yang memutuskan menjadikan Natuna sebagai tempat observasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang dievakuasi dari China.

Selain minimnya informasi soal Virus Corona dan koordinasi, Ngesti menyinggung soal adanya pembohongan publik yang menimbulkan persepsi bahwa Natuna merupakan tempat yang tidak dipadati oleh manusia.

Dikutip TribunWow.com dari akun Facebook Trans 7, Rabu (5/2/2020), mulanya Ngesti menjelaskan warga Natuna tidak tahu dan tidak mendapat pemberitahuan bahwa wilayah tempat mereka tinggal akan dijadikan tempat observasi.

"Alasan kenapa masyarakat kami melakukan demonstrasi, bahwa yang pertama adalah ketidaktahuan informasi atau kurangnya informasi, mengenai Natuna akan dijadikan sebagai tempat observasi," jelas Ngesti.

 

30 Jam setelah Dilahirkan, Bayi di Wuhan Positif Corona, Dokter Beri Peringatan pada Wanita Hamil

Ia juga menyebut kala itu, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto belum bisa memberikan kepastian terkait tempat observasi WNI yang datang dari China.

"Sampai Pak Menkes itu disandera istilahnya, untuk mengatakan benar enggak sih kalau Natuna ini mau dijadikan sebagai tempat observasi, tapi Pak Menkes juga tidak bisa menjawab saat itu," paparnya.

Tidak hanya masyarakat, Ngesti mengatakan bahkan pemerintah daerah juga tidak mendapat pemberitahuan dari pemerintah pusat, soal tempat observasi.

"Tidak ada koordinasi, tidak ada penyampaian," terang Ngesti.

Informasi mengenai tempat observasi, didapat Ngesti melalui media massa.

Kekurangan informasi tersebut kemudian menimbulkan keresahan dan kekhawatiran yang semakin berkembang di masyarakat.

"Tidak ada persiapan, tidak ada informasi, tidak ada jaminan kesehatan masyarakat," lanjut Ngesti.

Munculnya persepsi dan opini bahwa Natuna merupakan wilayah dengan populasi yang sedikit disebut Ngesti juga menjadi permasalahan yang dirasakan oleh warga.

"Kemudian ada juga pembohongan publik, artinya Natuna ini penduduknya sebenarnya berapa, kok dikatakan penduduknya yang sedikit," terangnya.

"Jadi seolah-olah kami dikatakan sebagai tempat yang kosong, yang tidak dipedulikan, bahwa sebenarnya kami itu ada, kalau ada tolong kami diikutsertakan, sebagai manusia kami juga ingin dimanusiakan," imbuh Ngesti.

Namun kini, Ngesti mengatakan situasi di Natuna sudah tidak setegang beberapa hari yang lalu.

Halaman
1234