Buzzer Medsos

Sebut Buzzer Anti-pemerintah Alami Ketidakadilan, Dahnil Anzar: Terpeleset Sedikit Saja Ditangkap 

Penulis: Jayanti tri utami
Editor: Ananda Putri Octaviani
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Dahnil Anzar saat di ILC menyebut ada ketidakadilan yang diterima buzzer anti-pemerintah.

TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak mengakui selama ini banyak buzzer anti-pemerintah yang mudah dijerat hukum.

Dahnil Anzar menyebut ada ketidakadilan pemerintah dalam melakukan proses hukum terhadap para buzzer.

Menurutnya, buzzer pro pemerintah selalu lolos dari jerat hukum meskipun telah membuat kabar hoaks di media sosial.

Hal itu disampaikan Dahnil Anzar saat menjadi narasumber di acara Indonesia Lawyers Club (ILC), Selasa (8/10/2019).

Jubir Partai Gerindra, Dahnil Anzar Simanjuntak (Tangkapan Layar YouTube Indonesia Lawyers Club)

Sebut Semua buzzer Muncul di ILC, Teddy Gusnaidi: Kita Membicarakan Diri Sendiri

Sebut Jumlah buzzer Semakin Banyak, Dahnil Anzar: Pemimpin dan Politisi Kita Tak Berkualitas

Menurut Dahnil Anzar, semakin maraknya jumlah buzzer di Indonesia juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi.

Ia menjelaskan, banyak buzzer media sosial yang tak memiliki pekerjaan.

"Ketika buzzer ini lebih masif kenapa? Karena dari sisi ekonomi, memang ada masalah dengan ekonomi kita," ucap Dahnil Anzar.

"Para anak muda kita yang terlibat dalam buzzer ini banyak yang nganggur Bang Karni, butuh pekerjaan akhirnya jadi buzzer."

Dahnil Anzar menyatakan bertambahnya jumlah buzzer juga dipengaruhi oleh faktor hukum di Indonesia.

Menurutnya, buzzer anti-pemerintah cenderung lebih sering terjerat hukum dibandingkan dengan yang pro pemerintah.

"Kemudian kedua, ada masalah juga dari sisi hukum kita, jangan ditutupi," ujarnya.

"Bahwasanya ada fakta misalnya buzzer-buzzer yang memproduksi hoaks misalnya dari orang-orang yang disebut anti-pemerintah pasti dihukum dengan mudah."

Dahnil Anzar mengungkapkan, hal yang berbeda dialami buzzer yang pro pemerintah.

Mereka disebut Dahnil Anzar sering lolos dari jeratan hukum.

"(buzzer anti-pemerintah) terpeleset saja bisa dibuktikan langsung ditangkap," kata Dahnil.

"Tapi buzzer-buzzer yang pro pemerintah terpeleset segala macam dan bisa kita paparkan, bisa terlihat jelas di social media."

Ia menambahkan, hal itu menunjukkan adanya ketidakadilan hukum di Indonesia.

"Dan itu kemudian memunculkan ketidakadilan," ucapnya.

Dahnil Anzar menyatakan, ketidakadilan itu memicu munculnya perlawanan buzzer-buzzer lain yang anti-pemerintah.

"Ketika ketidakdilan ini terus menerus dipertontonkan maka akan muncul perlawanan dari buzzer-buzzer yang lain yang tidak setuju dengan hal ini, kenapa?," imbuhnya.

Lebih lanjut ia menyebutkan, publik merasakan ketidakadilan yang diterima buzzer anti-pemerintah itu.

"Karena buzzer-buzzer yang pro pemerintah misalnya tidak pernah dihukum ketika mereka menebar hoaks atau mereka melakukan fitnah dan sebagainya, dan itu dirasakan oleh publik," kata Dahnil.

"Dan publik itu merasakan sekali (buzzer pro pemerintah) bisa bebas menuduh orang taliban, menuduh orang HTI, atau yang sebagian (buzzer anti-pemerintah) misalnya menuduh PKI itu cepat ditangkap."

Di ILC, Dahnil Anzar Sebut Buzzer Cenderung Jatuhkan Oposisi: Kalau Kita Kritik Dibilang Nyinyir

Tegas Nyatakan Perbedaan Jurnalis dan Buzzer, Budi Setyarso: Mereka akan Melakukan Kroscek Dulu

Dahnil Anzar menilai ada permasalahan hukum di Indonesia yang tidak tuntas.

"Ada permasalahan hukum yang tidak tuntas," ujarnya.

Dahnil Anzar lantas menyarakan kualitas percakapan publik perlu ditingkatkan untuk menekan bertambahnya buzzer.

"Oleh sebab itu, menurut saya yang harus kita lakukan hari ini adalah meninggikan kualitas percakapan publik kita supaya tidak diisi oleh buzzer, diisi oleh influencer," ungkap Dahnil Anzar.

Selain itu, menurtnya pemerintah juga perlu meningkatkan kinerja di berbagai bidang.

"Di sisi lain pemerintah gimana untuk menekan buzzer? Ya tingkatkan kinerja pemerintah, kinerja ekonominya, kinerja hukumnya supaya berkeadilan termasuk juga kinerja-kinerja yang lain," ucap dia.

"Dengan cara begini saya pikir kita bisa menekan buzzer."

Simak video selengkapnya berikut ini menit 9.25:

Dahnil Anzar Sebut Kualitas Pemerintah dan Politisi di Indonesia Tak Baik

Dalam kesempatan itu, sebelumnya Dahnil Anzar menilai semakin bertambahnya buzzer dipengaruhi oleh kualitas kerja pemerintah dan para politisi.

Dahnil Anzar menganggap saat ini pengguna media sosial cenderung tak menggunakan gagasan dan pemikiran sendiri saat menyampaikan informasi.

"Karena penguna social media sedikit yang bisa memproduksi ide dan gagasan yang otentik, kita butuh ontetisitas, kita butuh originalitas, ini tidak diproduksi," tutur Dahnil Anzar.

Saat ini di media sosial jumlah buzzer lebih banyak dibandingkan dengan influencer .

Dahnil Anzar menilai fenomena tersebut menunjukkan politisi di Indonesia tidak berkualitas.

"Masalahnya kenapa kemudian buzzer kita lebih ramai ketimbang influencer bagi saya ini adalah sinyal bahwasanya percakapan dan perilaku politisi kita memang tidak berkualitas," kata Dahnil.

Ia menyatakan, semakin maraknya buzzer di media sosial juga menunjukkan pemimpin di Indonesia yang tidak memiliki kualitas yang baik.

"Pemimpin kita tidak berkualitas, kenapa lebih banyak buzzer ketimbang influencer, kenapa?," ujar Dahnil Anzar.(TribunWow.com/Jayanti Tri Utami)