Sementara itu, menurut Eko, influencer menuliskan pikiran dan tulisannya di media sosial.
"Influencer itu dia menuliskan opininya, dia menuliskan pikiran-pikirannya di media sosial," tutur Eko.
"Kemudian terdistribusi ke pengguna media sosial, jadi ini memang berbeda dengan buzzer," imbuhnya.
Eko mengungkapkan, bahwa selama ini buzzer rata-rata tidak memiliki banyak followers atau pengikut.
"Buzzer itu enggak punya banyak followers," kata Eko.
Mendengar hal itu, pembawa acara langsung kaget.
"Oya? Lalu bagaimana kemudian buzzer itu begitu ramai, komennya terlihat di lalu lintas di Twitter dan sebagainya, sehingga memengaruhi opini publik?," tanya pembawa acara.
Eko lantas kembali menyinggung soal bisnis buzzer.
"Karena dia aktif, karena dia juga bagian dari bisnis, dia enggak punya followers, dia asal komen saja di mana-mana," jawab Eko.
"Bisnis artinya ada yang membayarnya?," ujar pembawa acara kembali bertanya.
"Oya, ini kan sebenarnya fenomenya bukan di politik awalnya, di bisnis biasa," kata Eko.
• Titelnya Dipertanyakan Ruhut, Rocky Gerung Akui Tak Lulus di 4 Fakultas: Tapi Saya Ngajar sampai S3
"Di arus politik selama politik kontestasi yang juga mirip mendagangkan ide, mendagangkan sesuatu kan, memilih orang, kan kita memilih langsung, jadi ini bagian dari marketing politik."
"Mungkin ada yang pakai, seperti risert Oxford, yang pakai politisi, partai, itu kan yang menggunakan," lanjutnya.
Eko menyingung soal riset Oxford yang dilakukan pada tahun 2018 dan diterbitkan pada 2019, di mana saat penelitian, Indonesia sedang dalam kondisi ramai politik.
"Itu Indonesia lagi ramai-ramainya kampanye politik, pilpres, pileg, jadi para kandidat itu mungkin saja menggunakan baik pilpres maupun pileg."