Kasus Ninoy Karundeng

Kata Ninoy Karundeng soal Penyebab Dirinya Dianiaya dan Diancam: Mereka Marah karena Tulisan Saya

Penulis: Roifah Dzatu Azma
Editor: Claudia Noventa
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pegiat media sosial, Ninoy Karundeng memberikan pengakuannya apa yang terjadi saat dirinya di culik dan mengalami penganiayaan pada Senin (30/10/2019) lalu.

Saat ditanyai hal yang paling menakutkan kala dirinya mendapatkan intimidasi, Ninoy mengatakan ada satu kata yang membuatnya hingga kini trauma.

Ia menuturkan diancam oleh seorang yang dipanggil 'habib', bahwa kepalanya akan dipecah menjadi dua.

"Yang paling menakutkan dan sampai sekarang saya rasakan, mereka mau membunuh saya, karena saya hanya dikasih waktu sampai sebelum subuh, saya akan dipecah kepala saya, mau dibelah oleh yang dikatakan dia seorang 'habib' itu," sebut Ninoy mengenang.

Lihat videonya:

Kata Jubir PA 212

Juru Bicara PA 212, Novel Bamukmin menanggapi perihal penyebab pegiat media sosial, Ninoy Karundeng mendapatkan penganiayaan dan tindak intimidasi.

Novel Bamukmin menjadi orang yang mendapat surat panggilan dari Polda Metro Jaya sebagai saksi dari peristiwa tersebut, dikutip TribunWow.com dari saluran YouTube iNews Talkshow, Senin (7/10/2019).

Novel Bamukmin lantas menuturkan bahwa kasus Ninoy bukanlah kasus yang besar yang harus mendapat perhatian sedemikian besarnya.

Novel mengatakan Ninoy yang dipulangkan seusai dianiya juga langsung melaporkan apa yang dialami.

"Apa yang kita lihat, itu (Ninoy) hanya luka sedikit yang setelah dipulangkan, selesai diamankan, itu bisa pulang, itu (dia langsung) melaporkan," kata Novel.

Novel menyayangkan sejumlah pengurus masjid di lokasi peristiwa Ninoy harus turut ditangkapi oleh pihak kepolisian.

"Padahal itu pengurus masjid mengamankan daripada kasus ini untuk tidak terjadi penganiayaan," paparnya.

Sedangkan diketahui, Ninoy dianiaya lantaran tulisannya yang ia bagikan di Facebook.

Peroleh Informasi Penyebab Ninoy Karundeng Dianiaya, Jubir PA 212 Novel Bamukmin: Ini Memprihatinkan

Novel kemudian melihat bahwa aksi demo yang membuat sejumlah nyawa hilang tak sebanding dengan kasus Ninoy.

Karena dari tulisan atau hate speech yang ada di media sosial, banyak nyawa hilang.

Halaman
123