TRIBUNWOW.COM - Singapura menjadi negara yang terkena dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Indonesia.
Akibat karhutla, kabut asap yang berasal dari karhutla di Provinsi Kalimantan dan Sumatera, kualitas udara di Singapura juga tercemar.
Indeks Standar Pencemar 24-jam (PSI) Singapura pada Sabtu (14/9/2019) mencapai level tidak sehat untuk pertama kalinya sejak Agustus 2016, dikutip TribunWow.com dari channelnewsasia.com, Sabtu (14/9/2019).
• Video Mencekam Pengendara Melaju di Tengah Kabut Asap Pekat Karhutla Banjarbaru, Klakson Bersahutan
PSI Singapura melampaui angka 100 pada jam 4 sore waktu setempat.
Diketahui PSI 50 dan di bawahnya menunjukkan kualitas udara "baik", "sedang" untuk 51-100 dan "tidak sehat" untuk 101-200.
Menteri Singapura untuk Lingkungan dan Sumber Daya Air Masagos Zulkifli, menuturkan akan membutuhkan tekad dan kerjasama di negara ASEAN untuk menangani karhutla.
"Kembalinya kabut asap adalah pengingat akan keseriusan masalah, yang telah mempengaruhi kawasan ASEAN selama bertahun-tahun. Keduanya mencemari udara yang kita hirup dan mengeluarkan gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim," tulis Masagos dalam postingan Facebooknya.
Atas dasar itu, pihaknya menawarkan kerjasama untuk melakukan penyelesaian karhutla.
"Inilah sebabnya mengapa ada kebutuhan untuk penyelesaian dan kerja sama yang lebih kuat antara negara-negara ASEAN dan para pemangku kepentingan, untuk mencapai visi kami tentang ASEAN yang bebas kabut pada tahun 2020."
Masagos menambahkan bahwa Singapura telah menawarkan bantuan kepada Indonesia untuk memerangi kebakaran hutan.
"Seperti biasa, kami siap membantu menekan api di darat. Singapura telah menawarkan bantuan teknis pemadaman kebakaran ke Indonesia dan siap untuk menyebarkannya jika diminta oleh Indonesia," katanya.
Tak hanya Singapura, Malaysia juga menawarkan untuk membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra.
Menteri lingkungan hidup Malaysia, Yeo Bee Yin menegaskan kembali kekhawatiran karena negaranya juga terdampak asap atas karhutla yang terjadi.
Menurut Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA), kabut asap memburuk di Singapura karena konvergensi angin di wilayah terdekat, yang bertiup dari Sumatera.
• Video Motor Tabrak Pohon Gara-gara Kabut Asap Karhutla, Mobil Juga Terpelosok: Jarak Pandang 1 Meter
Sedangkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memantau, pada Minggu (15/9/2019) titik panas (hotspot) di Sumatra dan Kalimantan.