TRIBUNWOW.COM - Anggota Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan (Capim) KPK, Hendardi menjawab dengan keras pendapat Direktur Pusaka Unand (Universitas Andalas), Feri Amsari.
Hal itu terjadi saat acara Mata Najwa yang bertema 'Hidup Mati KPK' pada Rabu (28/8/2019).
Awalnya, Najwa Shihab sebagai presenter bertanya pada Feri Amsari soal pencalonan Irjen Pol Antam Novambar.
Diketahui, Irjen Pol Antam Novambar merupakan capim KPK yang sedang menjadi kontroversi lantaran pernah diduga melakukan intimidasi pada Mantan Direktur Plt Penyidik KPK, Endang Tarsa pada 2015 silam.
"Apakah betul apakah puas teman-teman koalisi dengan jawaban Polisi Antam, Irjen Pol Antam," tanya Najwa Shihab dikutip TribunWow.com dari channel Youtube Najwa Shihab, Rabu (29/8/2019).
Feri menjelaskan pihaknya akan tetap mengkritisi capim yang pernah terlibat masalah yang ada kaitannya dengan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara).
"Kan kita dari awal sudah mengkritik itu ya beberapa figur yang melanggar etik punya LHKPN yang bermasalah. Pernah ada catatan misalnya mengancam seseorang," jelas Feri.
• Roby Arya Sebut Ada Masalah Dalam UU, Najwa Shihab: Anda Mau Mengurangi Kewenangan KPK?
Kemudian ia menyinggung Panitia Seleksi (Pansel) sekaligus Penasihat Polri yang juga turut hadir di acara 'Mata Najwa', Hendardi.
"Memang perspektif dari pansel. Kita kan tidak tahu perspektif Bang Hendardi ini sebagai pansel atau penasihat Kapolri."
"Kapan Bang Hendardi berbicara sebagai pansel, kapan Bang Hendardi berbicara sebagai penasihat Kapolri," ungkap Feri.
Kemudian, Fery mengira bahwa pimpinan KPK bisa saja dipengaruhi oleh tokoh-tokoh penting Kapolri, lantaran ada Hendardi dalam pansel capim KPK.
"Jangan-jangan dari awal tadi hingga terakhir Beliau sedang bicara mewakili Kapolri kan ada dua orang bintang empat dari kepolisian yang disebut-sebut, satu Pak Tito (Karnavian) satu lagi Pak BG."
"Kalau lah ada dari kepolisian lolos jadi pimpinan KPK, bukan tidak mungkin sangkut pautnya dengan dua bintang empat ini dan itu ada kaitannya dengan Bang Hendardi," katanya.
Fery menuturkan mengapa ada orang-orang yang pernah berkaitan dengan LHKPN kini mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK.
"Kalau kita merasa sederhana saja berkeinginan agar KPK diisi oleh orang-orang baik, sebagaimana undang-undang KPK, undang-undang KPK penjelasan umumnya Mbak Nana, mengatakan bahwa kepolisian dan kejaksaan itu gagal dalam melaksanakan pemberantasan korupsi sekarang orang-orang gagal itu mau dimasukkan ke KPK," ujar Feri.
• Pansel Capim KPK Tak Peduli Kontroversi soal Jadi Penasihat Polri, Najwa sampai Ikuti Ungkapan EGP
Feri kemudian menyarankan agar kepolisian dan kejaksaan lebih baik membantu KPK dalam melaksanakan tugas KPK.
"Kalaulah kepolisian dan kejaksaan ada orang baik betul orang baik, kenapa tidak dibersihkan institusinya yang dianggap gagal oleh undang-undang KPK," ungkap dia.
"Termasuk Bang Hendardi kenapa tidak fokus saja pada memberikan nasihat pada Kapolri untuk membenahi kepolisian," imbuh Feri.
Mendengar namanya disebut-sebut, Hendardi yang duduk di podium langsung bereaksi.
Hendardi menilai Feri berbicara tanpa landasan sejarah.
"Anda ngomong ini enggak pakai sejarah, dari sejak jilid pertama sampai sekarang selalu diisi oleh kepolisian, kejaksaan selalu ada, dan apa bisa bilang jelek?," kata Feri.
Kemudian, ia membeberkan pihak kepolisian yang pernah menduduki posisi penting di KPK.
• Pansel Capim KPK Tak Peduli Kontroversi soal Jadi Penasihat Polri, Najwa sampai Ikuti Ungkapan EGP
"Dari tingkat komisioner sampai tingkat penyelidik ada dari polisi ada dari jaksa, saya enggak bilang bagus tapi kenyataan menunjukkan bahwa di komisioner dari Taufiq Rahman Rukiq misalnya untuk Polisi Bibit Sahmad kemudian Basarya Panjaitan itu komisioner belum lagi di bawahnya," jelas Hendardi.
"Lalu di kejaksaan ada Zulkarnaen," ungkapnya.
Belum selesai Hendardi bebicara, ia melihat Feri mengangkat mikrofonnya.
Meski belum berkata apa-apa. Hendardi langsung mengimbau untuk tidak menginterupsinya.
"Tenang dulu, giliran saya ," imbau Hendardi.
"Saya tidak berbicara," jawab Feri.
Lalu, Hendardi menyebut bahwa KPK bagus pada masa kepemimpinan Taufiq Rahman Rukiq.
"Dan pada masa itu siapa yang enggak tahu bahwa pada masa Rukiq sebagai ketua itu masa paling baik KPK, paling tidak sebagian ukuran orang."
"Ketika Taufiq Rahman Rukiq memimpin, dia polisi," tegas Hendardi.
Kendati demikian, Hendardi menuturkan bahwa dirinya tak ingin berpihak pada siapa pun.
"Tapi saya enggak mau belain polisi. Nanti mau kepilih polisi kek, auditor kek atau apa urusan lain, tapi saya enggak penting untuk membela siapapun di sini," tutupnya.
Lihat videonya mulai menit ke-10:00:
Klarifikasi Capim Irjen Pol Antam soal Dugaan Intimidasi pada Mantan Direktur Plt Penyidik KPK:
Pada kesempatan itu, ditayangkan video wawancara dan uji coba Antam pada Selasa (27/8/2019).
Dalam video tersebut, Antam memberikan klarifikasi soal tuduhan intimidasi pada Endang Tarsa sehingga merasa tidak perlu datang ke acara 'Mata Najwa'.
"Saya tidak pernah meneror Kombes Endang Tarsa (mantan direktur penyidik KPK) saya sampaikan kejadian sebenarnya. Ada saksinya saya bawa," ungkap Antam.
• Capim KPK Ucap Nama Jokowi Berkali-kali, Roby Arya: Kalau Tak Didukung Presiden, Saya Tak Bisa Kerja
Kemudian Antam membeberkan kronologi kejadian sebelum dirinya disebut melakukan intimidasi.
"Pada saat itu kejadian Pak Budi Gunawan saya tahu Pak Budi Gunawan ini didzolimi karena saya orang hukum, dipaksakan untuk menjadi tersangka."
"Pada saat itu saya mendengar KPK ada adek-adeknya di sana menyampaikan Endang Tarsa ingin bertemu dengan saya untuk menyampaikan beberapa hal yang menguntungkan di persidangan KPK tentang Pak Budi Gunawan," jelas Antam.
Kala itu, Antam mengatakan Endang Tarsa ingin mengungkap kasus Budi Gunawan sesungguhnya.
"Wah saya semangat betul, Kolonel yang ngomong, Kombes Endang Tarsa ingin menyampaikan karena dia sebagai Direktur."
"Direktur Plt Penyidikan mau menyampaikan bahwasanya kalau ada kesalahan yang sengaja dibuat," paparnya.
• Bertugas Dekat Jokowi, Di Mata Najwa Capim KPK Roby Arya Akui Punya Chemistry dengan Presiden
Kemudian, Antam mengakui kalau dirinya memiliki gaya bicara yang khas.
Namun, hal itu bukan bermaksud mengintimidasi.
Malahan menurutnya, pertemuan dengan Endang Tarsa berjalan hangat.
"Terus kan saya orangnya kaya baca kalau ngomong gini-gini (sambil menggerakan jari-jarinya) enggak ada kami, berpelukan silakan tonton dari awal sampai akhir, karena senang bahagia, polisi mau bela polisi," tutur Antam.
Dirinya sendiri bingung mengapa tiba-tiba ada kabar dirinya mengintimidasi Endang Tarsa.
Kala itu, ia tidak percaya, KPK berbuat demikian
"Besoknya ternyata tidak marah saya dibohongi oleh kolonel di KPK, di lembaga yang dianggap maaf kata kata suci katanya," ungkapnya.
• Capim KPK Ucap Nama Jokowi Berkali-kali, Roby Arya: Kalau Tak Didukung Presiden, Saya Tak Bisa Kerja
Terkait undangan acara Mata Najwa, ia mengaku tidak perlu datang.
Pasalnya, Antam telah menjelaskan kronologi kasus dugaan intimidasi pada Endang Tarsa di wawancara dan uji publik Capim KPK.
"Tiap hari nanya saya, besok lagi Mata Najwa Pak Antam boleh enggak menerangkan, ini saya terangkan. Ngapain besok datang?," seru Antam.
Lihat videonya mulai menit ke-5:40:
(TribunWow.com/Mariah Gipty)
WOW TODAY: