Munarman menyebut 212 dan FPI masuk dalam kategori pemilih yang masih punya ideologi.
"Jadi kalau ditanyakan 212 ke mana, sebetulnya yang mewakili representasi 212 adalah Babe Haikal, kita ini hanya salah satu elemennya saja, FPI salah satu elemennya saja," terangnya.
Munarman menegaskan 212 dan FPI bertujuan untuk memperbaiki bangsa, namun bukan dengan cara menguasainya.
• Menpan RB Pastikan Jutaan ASN di Pusat Ikut Pindah jika Ibu Kota Pindah ke Kalimantan
"Sejak awal memang gerakan 212 atau FPI itu lebih merupakan gerakan yang mendorong kepada suatu perbaikan tata nilai sebetulnya."
"Jadi bukan kepada perebutan kekuasaannya, intinya itu Bang Karni," jelas Munarman.
Munarman pun menyinggung ketika pihaknya memilih untuk mendukung paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam Pemillu 2019 dengan beberapa syarat.
"Contohnya apa, kita bisa buktikan, pada saat kita mengambil pilihan, mendukung salah satu kontestan pemilu pada pemilu yang lalu."
"Kita menawarkan dalam bentuk pakta integritas, itu salah satu bukti konkret," kata Munarman.
Munarman menyebut 212 memberikan 17 syarat yang harus dipenuhi paslon Prabowo-Sandi untuk layak mendapat dukungan mereka.
• Ini Sosok Anggota DPRD DKI Jakarta yang Sindir Kunjungan Anies Baswedan ke Luar Negeri tanpa Hasil
"Artinya kita mau mendukung salah satu kandidat, yang kebetulan itu kita tawarkan kepada Paslon 02, itu dengan beberapa syarat, 17 syarat."
"Nah di dalam 17 syarat itu penuh dengan agenda perbaikan kondisi struktural dari bangsa ini," tuturnya.
Munarman memberi contoh di antara agenda ideologis 212 yang ingin diaplikasikan pada pemerintaha, misalnya soal perekonomian.
"Misalnya soal perbaikan ketimpangan kondisi ekonomi, agar tidak ada satu sumber ekonomi yang hanya berputar, hanya di sekian persen, nol koma sekian persen, atau 0,1 persen dari pemegang kendali ekonomi."
"Nah itu mestinya kan didistribusikan sumber-sumber ekonomi, itu agenda-agenda kita, yang kita tawarkan dulu itu," terangnya.
• 6 Fakta Pertemuan Megawati dan Prabowo Pasca-Pemilu 2019, Jurus Politik Nasi Goreng Pemersatu
Dengan demikian, Munarman menegaskan 212 tidak tertarik dengan politik 'Nasi Goreng' yang mengarah pada pertemuan Megawati Soekarno Putri dan Prabowo serta politik 'Nasi Uduk' yang mengarah pada dukungan Surya Paloh kepada Anies Baswedan.