Terkini Daerah

Ceritakan Pernah Makan Orang Utan 20 Tahun Lalu, Warga Sempat Masak Jadi Rica-rica

Editor: Maria Novena Cahyaning Tyas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Orang Utan

Kini perekonomian warga pun mulai membaik, dengan akses jalan yang sudah dibuka, masuknya sinyal selular dan lembaga pelestari orang utan.

"Kini di kampung kami sudah tidak ada lagi pembunuhan orang utan. Kami sangat menghormati dan menghargai orang utan, kami sudah sadar dan paham bahwa itu dilarang pemerintah," kata dia.

"Namun tidak menutup kemungkinan di pedalaman sana masih ada juga yang melakukannya. Saya tidak bisa bilang sudah tidak ada sama sekali."

Konsumsi orangutan

Pada November 2013, Tribun Pontianak melaporkan bahwa warga Jalan Panca Bhakti, Pontianak Utara memakan daging seekor orang utan yang ditemukan mati oleh warga.

Orang utan itu mati ditembak pemburu, lalu ditinggalkan begitu saja.

Warga pun mengolah binatang itu menjadi rica-rica pedas.

Laporan Vincent Nijman dalam "Asesmen perdagangan Orangutan dan Owa di Kalimantan, Indonesia", tahun 2005, menyebutkan bahwa perburuan orang utan untuk diambil dagingnya biasa dilakukan di beberapa tempat di Kalimantan Tengah.

Heboh Gudang Narkoba di Lingkungan Sekolah, Tersangka Ternyata Karyawan Sekolah

Laporan Nijman tersebut juga menjelaskan bahwa beberapa suku Dayak dan Punan tidak jarang mengkonsumsi daging orang utan.

Namun daging orang utan bukan tujuan utama perburuan, karena tujuan utama perburuan adalah mendapatkan anak orang utan untuk dijual.

Disebutkan pula bahwa pada tahun 1990-an masih ada juga daging orang utan yang diperjualbelikan di Kalimantan Timur, dan ada laporan penjualan abon orang utan dari Kalimantan Tengah ke Cina.

Ada tapi jarang terjadi

WWF menjelaskan bahwa fenomena konsumsi daging orang utan memang terjadi.

"Sangat jarang, tapi bukan berarti tidak ada kasus orang utan yang dimakan dagingnya," kata kata Okta Simon, Project Leader WWF di Taman Nasional Sebangau dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya, Kalimantan Tengah.

Okta menjelaskan bahwa dari beberapa kali diskusi, warga menjelaskan bahwa konflik antara warga dan orang utan banyak terjadi tahun 90-an saat ada pembalakan hutan besar-besaran.

Halaman
123