TRIBUNWOW.COM - Kasus pengaturan skor yang saat ini mencuat dalam dunia sepakbola Indonesia akan berdampak pada keberlangsungan kompetisi sepakbola tahun 2019.
Hal tersebut dijelaskan oleh Anggota Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa dalam wawancaranya dengan Kompas TV Sabtu (29/12/2018).
Dikutip dari akun YouTube Kompas TV dalam Dialog Kompas Petang 'Membongkar Mafia Bola di Tubuh PSSI' Gusti menuturkan bahwa akan menjadi pertanyaan besar apakah kompetisi sepakbola Indonesia dapat digelar tahun depan.
Saat itu, Gusti dimintai tanggapan mengenai kasus pengaturan skor yang terjadi pada Liga 3 yang melibatkan klub Persibara Banjarnegara.
Keseriusan PSSI dalam menangani kasus pengaturan skor kemudian selalu ditanyakan sebagai upaya penyelesaian.
"Ini memang harus di evaluasi lah, PSSI juga harus bersih-bersih ini, kalau PSSI enggak bersih-bersih momentum sekarang ini, trust (kepercayaan) dari masyarakat enggak ada,
Kalau trust dari masyarakat enggak ada maka enggak ada sponsor, nah kalau enggak ada sponsor maka enggak ada kompetisi." terang Gusti.
Dari pemaparannya tersebut, Gusti kemudian mempertanyakan sekaligus memberikan keterangan soal nasib kompetisi sepak bola Indonesia di tahun 2019.
"Kan itu semuanya berkaitan terus, ini juga akan ada menjadi pertanyaan besar dari momentum ini, apakah 2019, akan ada kompetisi? kan begitu kan sekarang kan," ucap Gusti.
• Soal Pengaturan Skor, Gusti Randa Pertanyakan Jabatan Mbah Pri: Tak Bisa Dikatakan sebagai Anak Buah
Kasus pengaturan skor tersebut juga dijelaskan oleh Gusti akan mempengaruhi seluruh liga pertandingan yang digelar di Indonesia.
"Sementara kalau ini bergulir terus menjadi snow ball gitu, Liga 3, masuk ke Liga 2, masuk ke Liga 1," lanjutnya.
Ia lantas menegaskan bahwa PSSI harus segera mengambil keputusan mengenai nasib kompetisi sepak bola di Indonesia tahun 2019.
Mengingat, tahun 2019 juga merupakan tahun politik.
"Saya kira PSSI harus segera membuat keputusan, apakah kompetisi 2019, ada apa tidak, apalagi 2019 tahun politik," pungkasnya.
Penuturan yang sama soal keberlangsungan kompetisi sepak bola tahun 2019 juga dijelaskan oleh Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali dalam wawancara yang sama.
Kasus pengaturan skor yang mencuat tersebut, menurut Akmal adalah suatu kesempatan bagi PSSI untuk bertindak tegas memerangi kasus tersebut.
"Yang pertama ini kan momentum, momentum buat PSSI, kesempatan ketika polisi mau mengambil bagian untuk memerangi gurita pengaturan skor dan pengaturan juara, pengaturan promosi," jawab Akmal.
• Soal Pengaturan Skor, Gusti Randa: PSSI Memang Harus Evaluasi dan Bersih-bersih
Menurutnya, kasus pengaturan skor tersebut merupakan permasalahan yang sudah lama mengakar pada dunia sepak bola Indonesia.
"Ini masalah yang sebenarnya sudah lama, sudah lama akut di Indonesia, yang kemudian didiamkan, dan sehingga jadi besar dan seperti kelompok mafia yang sulit dibongkar, " ucap Akmal.
Akmal menuturkan bahwa kasus pengaturan skor juga dapat diselesaikan melalui Kongress PSSI dengan keputusan yang sah.
"Menurut saya ini kesempatan, kesempatan untuk bersih-bersih, nanti 2019 ketika Kongress PSSI semuanya bisa diputuskan dengan sah, dan dengan baik," lanjutnya.
Menurut Akmal sebagai pengamat bola, oknum-oknum mafia bola tersebut seperti sebuah ikan sakit yang harus dibersihkan dan diganti dengan ikan yang bersih dan sehat,
"Satgas kemudian tangkap-tangkapin ikan-ikan di kolam yang sakit diangkat-angkatin dengan ikan yang bersih, yang sehat yang segar sehingga kolam sepak bola kita ini jadi kolam yang sehat," ungkapnya.
Ia juga menilai bahwa oknum tersebut merupakan mafia bola yang belum besar dan dapat segera diselesaikan.
"Ini menurut saya mereka mafia kelas dua, jadi masih banyak lah yang kemudian harus dibersihkan di sepak bola kita, Dan saya pikir satgas pasti punya data-data itu semua dan kita tunggu saja, ditambah dengan pro aktif PSSI membantu satgas." pungkasnya.
• Ini Peran 4 Tersangka Pengaturan Skor, Johar Lin Eng Jadi Otak Penentu Pertandingan
4 Tersangka Ditangkap
Sampai saat ini, tim satgas anti mafia bola yang dibentuk oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian telah menangkap empat orang terkait pengaturan skor.
Empat tersangka tersebut yakni Johar Lin Eng yang merupakan Anggota Komisi Eksekutif (Exco) PSSI sekaligus Ketua Asprov PSSI Jateng.
Ia ditangkap Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan pengaturan skor sepak bola Indonesia.
Melalui rilis yang diterima TribunWow.com, Johar ditangkap di area kedatangan Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis (27/12/2018) sekitar pukul 10.12.WIB.
Johar Ling Eng ditangkap setelah tiba dari Solo Jawa Tengah dan langsung digelandang ke Polda Metro Jaya sekitar pukul 10.19 WIB.
Dikutip dari Kompas.com, dua orang kembali ditangkap oleh tim satgas.
• Satgas Anti Mafia Bola Resmi Ringkus Seorang Anggota Komdis PSSI terkait Pengaturan Skor
Mereka adalah Priyanto dan Anik yang merupakan anak dan bapak yang sama-sama ditetapkan menjadi tersangka.
Priyanto adalah mantan anggota Komite Wasit PSSI.
Keduanya ditangkap di dua lokasi berbeda pada Senin (24/12/2018).
Priyanto ditangkap di Semarang, sedangkan Anik ditangkap di Pati Jawa Tengah.
Priyanto ditahan di Polda Jawa Tengah sebelum dibawa ke Jakarta, sedangkan Anik dibawa ke Jakarta dan ditahan di Mapolda Metro Jaya.
Terakhir, dikutip TribunWow dari Bolasport.com, Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedy Prasetyo menyebutkan bahwa pihaknya berhasil menangkap Mbah Putih di satu hotel di Yogyakarta.
"Hari ini kami menangkap satu tersangka atas nama DI atau dikenal Mbah Putih di Hotel New Shaphire Yogyakarta," jelas Brigjen Dedi Prasetyo Jumat (28/12/2018).
Mbah Putih atau Dwi Irianto kemudian ditetapkan sebagai tersangka dalam skandal pengaturan skor dan langsung dibawa ke Jakarta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
(TribunWow.com)