Dilansir Tribunnews, anak kedua pelaku bom Sidoarjo menolak doktrin orangtuanya mengenai konsep jihad dengan bom bunuh diri.
Bahkan saat anak-anaknya dipaksa untuk mengaku menjalani home schooling di rumah, anak kedua mereka memilih untuk bersekolah normal dan tingal bersama neneknya.
Saat kejadian ia sempat menghindar dari bom dan menyelamatkan kedua adiknya.
Sedangkan bom Mapolresta Surabaya, pelaku juga membawa serta keluargnya dengan menggunakan sepeda motor.
Satu anak berhasil diselamatkan karena saat bom meledak, anak tersebut terpental. (Tribunwow/Tiffany Marantika)