Jokowi kemudian mengungkit jika ketika dirinya dilantik, ia telah diwarisi utang oleh periode sebelumnya, sebesar Rp 2,700 trilun dengan bunga kurang lebih 250 triliun.
Menurut Jokowi, yang paling penting adalah utang tersebut dipakai untuk hal-hal yang produktif dan manfaatnya ada.
"Jangan dipakai untuk hal-hal yang konsumtif, subsidi BBM itu yang tidak boleh," imbuh Jokowi.
Najwa Shihab kemudian menyinggung omongan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut jika pihak-pihak pengkritik utang itu lebay.
"Apakah Presiden Jokowi juga menganggap kritikan-kritikan itu tidak mendasar dan berlebihan?" tanya Najwa.
"Ya kalau gini, kalau ornag berbicara dnegan angka-angka dengan basis data itu bagus.
Atau ekonom, jago ekonomi makro seperti Menteri Keuangan, Ibu Sri Mulyani, dengan ekonom yang ngerti masalah makro untuk berdebat dengan angka-angka itu bisa, dengan basis data yang jelas.
Itu bagus.
• Ruhut Sitompul: Pak Jokowi Benar-benar Seorang Negarawan Sejati, Lawan Politik Saja Dirangkul
Kalau yang satu ahli ekonomi makro, yang satu politikus (berdebat utang-red).
Ya, nggak nyambung.
Yang satu pakai data dan angka-angka yang satu hanya berbicara.
Kalau saya lebih percaya kepada yang mengerti masalah ekonomi makro, ya Bu Sri Mulyani. Track record-nya jelas," ujar Presiden Jokowi.
• Mbah Mijan: Saya Diteror dan Diancam Habis-habisan karena Dianggap Hina Ulama
Jokowi menegaskan jika dirinya sangat percaya dengan Sri Mulyani.