Di sisi lain Mohammad Abu Jayyab, kepala sebuah surat kabar ekonomi di Gaza, mengatakan bahwa 2 juta penduduk Gaza telah menderita karena pemadaman listrik yang terus berlanjut semala dekade terakhir.
Gadget terbaru: Dipastikan Xiaomi Mi7 Akan Menggunakan Fitur Wireless Charging, Segini Harganya
Krisis listrik hanya memperburuk keadaan bagi penduduk Gaza, yang telah mengalami tiga serangan militer besar Israel selama 10 tahun terakhir, dan yang telah merusak sebagian besar infrastruktur wilayah tersebut.
Data Bank Dunia, sekitar 42 persen warga Palestina di Gaza menderita kemiskinan, tingkat pengangguran kaum muda mencapai 58 persen, dan sekitar 80 persen mengandalkan bantuan internasional, terutama makanan.
Abu Jayyab mengatakan meminta penduduk Gaza untuk membayar listrik sangat tidak realistis.
"Saya pikir apa yang terjadi di Gaza tidak realistik, untuk dapat bertahan hidup saja mereka susah, apalagi membayar listrik," katanya.
Meski Otoritas Palestina telah meminta kembali Israel untuk memasok listrik, warga Gaza tetap harus membayar dan kehilangan satu turbin listrik di Gaza.
Baca juga: Izin Tambang Freeport Diperpanjang hingga Juni 2018, Begini Penjelasan Pemerintah
Hal tersebut lantaran turbin tersebut harus ditutup untuk membayar tagihan $ 2,8 miliar tadi.
Seorang juru bicara Perusahaan Distribusi Tenaga Listrik Gaza, Mahammad Thabet mengatakan bahwa perusahaan tersebut memang memberikan bantuan biaya pemasokan listrik.
Akan tetapi, dengan situasi ekonomi yang semakin memburuk, mereka tidak lagi mampu membayar listrik ke Israel.
Menurut Thabet, hal ini membuat permintaan Palestina kepada Gaza adalah hal yang wajar. (*)
Top 5 News! Potret Cantik Istri Wawali Gorontalo yang Terciduk BNNP hingga Lulusan Unhas Meninggal Saat Tadarus