TRIBUNWOW.COM - Program Full Day School baru-baru ini memang diterapkan oleh pemerintah melalyi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Diketahui, dalam sistem baru tersebut murid-murid mendapat waktu delapan jam belajar untuk lima hari satu minggu.
Mengutip dari Tribunnews.com, hal ini dijelaskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mudjahir Effendy.
Buktikan Cintanya, Gadis 18 Tahun Nekat Bunuh Diri di Tempat Karaoke, Ini Isi Surat Terakhirnya!
Ia juga menjelaskan bahwa para siswa yang sekolahnya menerapkan program ini juga bisa belajar di luar lingkungan sekolah.
"Saya tegaskan delapan jam itu tidak berarti anak ada di kelas. Tapi di lingkungan sekolah. Bahkan di luar sekolah," ujar Mudjahir di gedung DPR/MPR RI, Jakarta, pada 13 Juni 2017.
Namun, program ini hingga sekarang menjadi polemik tersendiri bagi orangtua, terlebih untuk siswa yang harus menjalani program ini.
Diduga dari ISIS! Jelang Hari Kemerdekaan, Polisi Bandung Dapat Teror, Lihat Isi Surat Ancamannya
Program Full Day School ini sendiri menuai pro dan kontra di dunia pendidikan, ada beberapa orangtua dan siswa yang setuju, dan ada juga yang mengeluhkan program yang dianggapnya membebani siswanya ini.
Tak khayal, ditemukan banyak keluhan dari anak-anak sekolah yang mejalani program Full Day School ini.
Mereka rata-rata mengeluhkan kepadatan jam pelajaran di sekolah hingga sampai sore hari tersebut, bahkan banyak yang mengalami kelelahan dan fisik yang menurun karena program ini.
Akhirnya, Setelah Lengser Dari Presiden, SBY Hadiri Upacara Kemerdekaan RI, Lihat Foto-fotonya!
Bahkan, ada siswa yang berani menuliskan surat yang berisi keluhannya tersebut untuk Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).
Surat tersebut kini tersebar dan menjadi viral di media sosial.
Bukan karena isi surat dan keluhannya, namun netizen malah fokus ke bahasa yang digunakan oleh penulis yang tidak diketahui siapa namanya ini dan alasannya mengeluhkan program Full Day School ini.