Barisan ini terdiri atas 100 pemuda pilihan dari beberapa asrama pemuda, terutama Asrama Menteng 31 Jakarta, yang tugasnya menjaga Presiden dan Wakil Presiden.
Setelah Proklamasi, dr Muwardi kemudian mengubah Brisan Pelopor Istimewa menjadi Barisan Banteng.
Menurut Sudiro, pasca Proklamasi dr Muwardi juga memilih sejumlah juru pencak silat di bawah pimpinan Sumartojo.
Dengan hanya bersenjata golok dan bambu runcing berjaga di halaman rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56. (Intisari/Agustinus Winardi)
Berita ini telah dimuat di Intisari dengan judul: Mangil, Kepala Polisi Pengawal Bung Karno yang Ternyata Tak Tahu Jika Proklamasi akan Dibacakan