TRIBUNWOW.COM - Pada 10 Maret lalu Indonesia dan Australia sepakat untuk meneken kerja sama selamatkan reruntuhan kapal perang, atau sering disebut sebagai 'kapal hantu', HMAS Perth yang terkubur di Laut Jawa.
Kerja sama melibatkan Museum Nasional Maritim Australia dan Balai Pusat Arkeologi Indonesia.
Kapal HMAS Perth yang pada 1 Maret 1942 terlibat pertempuran sengit melawan kapal-kapal perang Jepang, tenggelam bersama 353 awaknya di Selat Sunda.
Hingga saat ini masih ada sekitar 60 jasad pelaut Australia yang terkubur bersama reruntuhan HMAS Perth.
Setiap tahun Pemerintah Australia mengadakan acara peringatan dan tabur bunga di lokasi tenggelamnya HMAS Perth.
Tapi situs tempat reruntuhan HMAS Perth akhir-akhir ini dikhawatirkan makin rusak akibat ulah para penjarah besi tua.
Tonton juga:
Baca: Ternyata Ustaz Al Habsyi Sudah Menceraikan Istri Keduanya, Namun Putri Aisyah Temukan Fakta Lain
Baling-baling HMAS Perth menurut para penyelam dari Balai Pusat Arkeologi Indonesia dan Australia yang melakukan penyelaman pada tahun 2014 telah hilang.
Baling-baing yang terbuat dari besi baja khusus itu (metal) per ton berharga lebih dari 4.000 dollar AS. Berat total baling-baling lebih dari 15 ton.
Itu berarti para penjarah telah sukses mengantongi uang 60.000 dollar AS (lebih dari Rp 700 juta).
Tiga kapal perang Jepang yang juga tenggelam di lokasi Lautan Indonesia akibat gempuran kapal perang AS pada PD II, dilaporkan telah rusak parah akibat ulah para penjarah besi tua ilegal.
Demi mempercepat kerja untuk mengetahui kondisi terakhir reruntuhan HMAS Perth para pekerja akan menggunakan alat pendeteksi benda bawah laut sonar.
Baca: Bikin Polling Pilkada DKI Putaran 2, Iwan Fals Ucapkan Selamat untuk Pemenang, Ahok atau Anies?
Dalam sejarah misi tempurnya pada PD II, HMAS Perth pernah bertempur di Yunani untuk mengevakui pasukan Sekutu dan bertempur di Suriah melawan Nazi Jerman.