Perang Israel Vs Hamas
Sosok Yahya Sinwar, Pemimpin Baru Hamas, Dijuluki 'Mayat Berjalan', Bikin Tentara Israel Stres
Yahya Sinwar merupakan sosok pemberani yang dijuluki sebagai 'mayat berjalan', bahkan membuat IDF stres lantaran keberadaannya yang sulit dilacak
Editor: Lailatun Niqmah
Sebagai tanggapan atas kunjungan tersebut, ia ditangkap dan ditempatkan di bawah penahanan administratif (ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan) selama enam bulan, dengan tuduhan terlibat dalam aktivitas Islam subversif.
Selama penahanannya, Sinwar berteman dengan aktivis lain, seperti Saleh Shehade yang kemudian memimpin sayap bersenjata Hamas hingga pembunuhannya pada tahun 2002.
Sinwar bertanggung jawab untuk mendirikan jaringan keamanan yang dikenal sebagai Majd.
Majd beroperasi secara rahasia sementara organisasi yang berpihak pada Ikhwanul Muslimin yang mendahului Hamas, Mujamma Islamiyya, tetap menjadi kelompok yang tidak suka berperang hingga berdirinya Hamas pada akhir tahun 1987.
Pada tahun 1988, Yahya Sinwar ditangkap dan diduga disiksa dengan kejam selama 6 minggu setelah ditemukannya sel bersenjata milik Majd.
Pada tahun 1989, Hamas melancarkan serangan bersenjata pertamanya yang menewaskan dua tentara Israel.
Yahya Sinwar dihukum atas tuduhan mendalangi serangan tersebut dan dijatuhi hukuman penjara 426 tahun.
Sebagai pemimpin Hamas paling terkenal yang dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan tahun 2011, Sinwar kembali ke Gaza, dan akhirnya terpilih sebagai pemimpin Hamas di Jalur tersebut, menggantikan Ismail Haniyeh.
Pada tahun 2017, Hamas menjalani perubahan nama dan pembaruan anggaran dasarnya, yang mengindikasikan bahwa Gerakan Perlawanan Islam akan terbuka untuk menerima Solusi Dua Negara.
Pada tahun yang sama, Yahya Sinwar memainkan peran utama dalam upaya memperbaiki hubungan antara Otoritas Palestina (PA), yang dipimpin oleh Partai Fatah, dan Hamas, tetapi tidak berhasil.
Pada tahun 2018, di bawah kepemimpinan Yahya Sinwar, Hamas mengadopsi platform kebijakan perlawanan tanpa kekerasan dalam upaya untuk membuka diri terhadap negosiasi diplomatik yang dapat mengakhiri pengepungan di Gaza.
Pimpinan Hamas mendukung gerakan protes massa tanpa kekerasan, yang dikenal sebagai 'Great March of Return', yang dimulai pada tanggal 30 Maret 2018.
Namun, menyusul keputusan AS untuk secara sepihak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan terbunuhnya ratusan pengunjuk rasa tak bersenjata di tangan tentara Israel, Hamas mengubah pendekatannya lagi.
Pada bulan Mei 2021, Hamas melancarkan pertempuran Saif al-Quds, yang didukung oleh beberapa kelompok bersenjata lainnya di Jalur Gaza.
Sejak saat itu, pidato dan penampilan publik Yahya Sinwar telah membuatnya menjadi pemimpin selebriti yang sangat populer di seluruh Dunia Arab.

Apa Artinya bagi Perjuangan Hamas?
Sumber: Tribunnews.com
Hamas akan Nyatakan Kemenangan dalam Perang Gaza Lawan Israel setelah Kesepakatan Gencatan Senjata |
![]() |
---|
Tentara Israel IDF Diklaim Alami Rugi Besar di Jabalia, Disebut Lakukan Serangan Tanpa Arah |
![]() |
---|
Kegagalan Intelijen Israel pada 7 Oktober Buktikan Hamas Sulit Disusupi |
![]() |
---|
Ali Khamenei Sebut Tak Butuh Pasukan Proksi: Pejuang Perlawanan Bertempur atas Keyakinan Sendiri |
![]() |
---|
Ali Khamenei Tegas Teheran Katakan Tidak Butuh Pasukan Proksi seperti Hizbullah-Houthi |
![]() |
---|