Perang Israel Vs Hamas
Perwira Senior Berpangkat Tertinggi IDF Tewas saat Agresi Militer Darat Israel ke Jalur Gaza
Sosok Letnan Kolonel IDF Salman Habaka tewas dalam agresi militer darat yang dilakukan Israel ke Gaza.
Penulis: Adi Manggala Saputro
Editor: adisaputro
TRIBUNWOW.COM - Juru Bicara IDF (Pasukan Pertahanan Israel), melaporkan bahwa Letkol Salman Habaka (33) sekaligus perwira senior di Batalyon 53 Korps Lapis Baja, tewas dalam pertempuran yang terjadi di Jalur Gaza, Rabu (1/11/2023).
Dilansir TribunWow.com dariynetnews.com, Habaka merupakan perwira berpangkat tertinggi yang terbunuh sejak agresi militer darat yang dilakukan oleh Israel ke Jalur Gaza.
Letkol Salman Habaka tewas meninggalkan seorang istri dan putra yang masih berusia 2 tahun.
Selain tewasnya Habaka, juru bicara IDF juga melaporkan dua perwira dan satu tentara mengalami luka parah dalam pertempuran yang terjadi di Gaza Utara.
Baca juga: Bela Palestina, Kelompok Houthi di Yaman Bersumpah Terus Serang Israel, Tembakkan Drone dan Rudal
Tak hanya itu, seorang tentara wanita dari Batalyon Caracal juga mengalami luka parah di dekat perbatasan dengan Mesir seusai jip yang ditumpanginya terbalik dalam operasi militer.
Lebih lanjut, sebelum dinyatakan tewas, Letkol Habaka pernah terjun langsung memimpin pasukannya saat terjadi serangan mendadak yang dilakukan oleh Hamas.
Letkol Habaka bergegas meninggalkan rumahnya di Yanuh-Jat di Israel utara untuk segera bergabung ke medan pertempuran.
“Saya berkendara dari Galilea ke sebuah pangkalan dekat Tze’elim untuk mendapatkan tank tersebut dan menjangkau masyarakat secepat mungkin untuk menyelamatkan setiap jiwa yang saya bisa,” ujar Letkol Habaka sebelum dinyatakan tewas.
“Saya tiba di Be'eri, bertemu Kolonel Barak Hiram, dan hal pertama yang dia perintahkan kepada saya adalah menembakkan tank ke dalam rumah,” jelas Habaka.
Ketika melakukan tugasnya, Habaka sempat menceritakan keraguannya apakah dalam rumah yang ia tembaki ada sandera di dalamnya atau tidak.

Baca juga: Di Tengah Konflik Israel Vs Hamas, Kabinet Perang Netanyahu juga Terpecah dan saling Tak Percaya
“Pertanyaan pertama yang Anda tanyakan pada diri Anda adalah apakah ada sandera sipil di dalam rumah tersebut. Kami melakukan semua tindakan awal sebelum memutuskan untuk menembak ke dalam rumah, tetapi begitu kami menembak ke dalam rumah, kami dapat berpindah dari rumah ke rumah. dan para sandera. Pertempuran berlanjut hingga malam hari, di jalan-jalan kibbutz."
Ia juga menjelaskan pada saat itu orang-orang merasa lebih nyaman ketika mendengar tank bergerak.
"Saya memahami bahwa ketika orang-orang mendengar tank bergerak, tiba-tiba mereka merasa sedikit lebih aman," lanjut Habaka.
"Yang terpatri dalam ingatan saya adalah saat saya berkendara di jalan raya dan memahami bahwa saya akan memasuki sebuah Komunitas Israel di mana para teroris mengeksploitasi hari raya tersebut dan menyusup ke Israel untuk membunuh, membantai dan menculik orang lanjut usia dan bayi," lanjutnya.
Selain ikut serta dalam hari pertama serangan yang diluncurkan Hamas, Letkol IDF itu juga terlihat dalam beberapa rekaman beberapa hari sebelum dimulainya agresi militer darat ke Gaza.