Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Benci Putin, Miliarder dan Elite Rusia Ramai-ramai Ajak Pindah Kewarganegaraan Buntut Perang Ukraina

Sejumlah miliarder dan elite Rusia melepaskan kewarganegaraannya sebagai protes atas perang Ukraina.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
AFP/ Max Vetro
Seorang demonstran mengibarkan bendera nasional Rusia dan potret Presiden Vladimir Putin dalam perayaan ulang tahun ketiga pencaplokan Krimea oleh Rusia, di Sevastopol pada Maret 2017. Terbaru, elite Rusia dan para miliarder ramai-ramai lepaskan kewarganegaraan, Selasa (1/10/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Miliarder Rusia Oleg Tinkov (54) mengatakan dia telah memutuskan untuk melepaskan kewarganegaraannya karena perang di Ukraina.

Dilansir TribunWow.com, langkah ini belakangan ramai dilakukan sejumlah elite dan miliarder berkebangsaan Rusia sebagai bentuk protes mereka.

Bahkan, ajakan untuk meninggalkan kewarganegaraan itu diserukan demi melemahkan Presiden Rusia Vladimir Putin dan menyudahi perang.

Baca juga: Jadi Tawanan Perang Rusia, 108 Perempuan Ukraina Mengaku Disiksa hingga Dilecehkan Berjam-jam

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Selasa (1/11/2022), Tinkov melalui Instagramnya mengkritik pemerintah Rusia dan menyebut invasi ke Ukraina adalah hal gila.

Karenanya, ia memilih untuk melepas kewarganegaraan Rusia dan menetap di luar negeri.

"Saya telah mengambil keputusan untuk keluar dari kewarganegaraan Rusia saya. Saya tidak bisa dan tidak akan dikaitkan dengan negara fasis, yang memulai perang dengan tetangga mereka yang damai dan membunuh orang tak bersalah setiap hari," tulis Tinkov, Senin (31/10/2022).

Ia pun menyerukan ajakan agar pengusaha Rusia lainnya mengikuti jejaknya dan sejumlah elite maupun miliarder yang sudah lebih dulu membuat keputusan serupa.

"Saya berharap lebih banyak pengusaha Rusia terkemuka akan mengikuti saya, sehingga melemahkan rezim Putin dan ekonominya, dan akhirnya membuatnya kalah,” imbuhnya.

Kondisi ibu kota Ukraina, Kyiv setelah dihantam puluhan rudal Rusia pada Senin (10/10/2022) pagi.
Kondisi ibu kota Ukraina, Kyiv setelah dihantam puluhan rudal Rusia pada Senin (10/10/2022) pagi. (YouTube Al Jazeera English)

Baca juga: Singgung soal Rezim, Elite Rusia Tegur Upaya Putin Hancurkan Ukraina, Sebut Jadi Kesalahan Besar

Tinkov yang telah berbasis di luar Rusia dalam beberapa tahun terakhir itu, membagikan foto sertifikat yang mengonfirmasi pelepasan kewarganegaraan Rusia-nya.

"Saya benci Rusia-nya Putin, tapi saya suka semua orang Rusia yang jelas-jelas menentang perang gila ini!," ungkap Tinkov,

Tinkov adalah pendiri Tinkoff Bank online, salah satu pemberi pinjaman terbesar di Rusia dengan sekitar 20 juta pelanggan.

Dia juga memiliki sekitar 35 persen dari TCS Group Holding yang berbasis di Siprus, yang perusahaannya stabil di bawah merek Tinkoff mencakup sektor dari perbankan dan asuransi hingga layanan seluler.

Pada bulan April, Tinkov telah mengklaim bahwa 90 persen dari warga negaranya menentang keputusan Putin untuk menyerang Ukraina pada akhir Februari dan meminta para pemimpin Barat untuk membantu mengakhiri pembantaian.

Adapun Tinkov sebelumnya telah menjadi sasaran sanksi Inggris yang diberlakukan segera setelah konflik dimulai.

Dia ditangkap di London pada 2020 atas tuduhan penggelapan pajak di Amerika Serikat.

Dia kemudian dibebaskan dengan jaminan dan dirawat karena memiliki penyakit leukemia di London.

Dia berhenti dari perannya sebagai CEO Tinkoff pada tahun 2020.

Baca juga: Kekacauan Mulai Terjadi di Pemerintahan Putin, Para Elite Rusia Dikabarkan Siap Melarikan Diri

Sebelumnya, Co-founder dan CEO bank digital Inggris Revolut, Nik Storonsky (37), lebih dulu melepas kewarganegaraannya dan kini resmi menjadi warga Inggris.

Nik Storonsky diketahui memiliki kewarganegaraan ganda Inggris dan Rusia.

Namun, ia memilih untuk melepaskan kewarganegaraan Rusianya awal tahun ini.

Nik Storonsky, adalah putra Nikolai Storonsky, kepala lembaga penelitian raksasa energi Rusia, Promgaz, Gazprom.

Diperkirakan, Nik yang terkenal karena kekayaanya, memiliki harta bersih sebesar 7,1 miliar USD (sekira Rp 111 triliun).

Ayah Nik Storonsky, Nikolai, telah dikenai sanksi oleh Ukraina pada 19 Oktober, ia dilarang memasuki Ukraina dan asetnya di negara itu sudah dibekukan.

Nik Storonsky, yang lahir di kota Dolgoprudny di wilayah Moskow, setidaknya adalah miliarder keempat yang melepaskan kewarganegaraan Rusianya sejak invasi Moskow ke Ukraina dimulai pada Februari.

Tiga miliarder lainnya yang diketahui telah mengambil langkah yang sama adalah investor Facebook Yury Milner, pendiri pialang ritel Freedom Holding Timur Turlov dan pemodal kelahiran Armenia Ruben Vardanyan.

Sebelumnya, investor Miliarder Silicon Valley Yuri Milner mengatakan bahwa dia telah meninggalkan Rusia sejak tahun 2014.

"Saya dan keluarga saya meninggalkan Rusia untuk selamanya pada 2014, setelah aneksasi Rusia atas Krimea. Dan musim panas ini, kami secara resmi menyelesaikan proses pelepasan kewarganegaraan Rusia kami," terang Milner.

Milner, pendiri perusahaan investasi internet DST Global dan salah satu investor asli di Facebook, telah menjadi warga negara Israel sejak 1999.

Disebutkan bahwa pemodal ventura dan fisikawan itu tidak memiliki aset di Rusia dan 97 persen kekayaannya diciptakan di tempat lain.

"Yuri belum pernah bertemu Vladimir Putin, baik secara individu maupun kelompok," bunyi keterangan dalam laman DST Global.

Yayasan milik Milner, Breakthrough Prize Foundation, dengan tegas mengutuk invasi Rusia terhadap Ukraina.

"Ketika perang mengerikan di Ukraina berlanjut, dengan korban dan kekejaman meningkat, Breakthrough Prize Foundation mengutuk keras invasi Rusia ke Ukraina dan serangan brutal dan tidak beralasan terhadap penduduk sipil."

Yayasan Milner diketahui telah menyumbangkan setidaknya $11 juta (Rp 172 miliar) untuk membantu pengungsi dari Ukraina dan ilmuwan yang terpaksa meninggalkan negara itu.

Baca juga: Susah-susah Dijembatani PBB, Rusia Sepihak Batalkan Perjanjian Jalur Aman Ekspor Pangan Ukraina

Nasib Elit Rusia yang Kabur

Sejumlah tokoh elit Rusia terang-terangan menyatakan penolakan atas invasi negaranya ke Ukraina.

Mereka adalah segelintir orang yang berani menyatakan pendapat di tengah tekanan pemerintahan Presiden Vladimir Putin.

Dua di antaranya adalah seorang diplomat internasional dan anggota direksi perusahaan keuangan milik pemerintah.

Dilansir TribunWow.com dari The Guardian, Rabu (25/5/2022), Igor Volobuyev menghabiskan dua dekade bekerja di jantung pendirian bisnis Rusia, pertama untuk Gazprom kemudian untuk afiliasinya Gazprombank.

Di perusahaan terakhir, Volobuyev menjadi wakil presiden direksi hingga Februari tahun ini.

Setelah Putin melancarkan perangnya di Ukraina pada akhir Februari, Volobuyev memutuskan dia tidak tahan lagi tinggal di Rusia.

Pria itu pun mengemasi ransel kecil berisi barang-barang dan setumpuk uang tunai, dan terbang ke luar negeri pada tanggal 2 Maret, berpura-pura pergi berlibur.

Beberapa hari kemudian, Volobuyev menyeberang dari Polandia ke Ukraina, di mana dia menghabiskan masa kecilnya.

Sekarang, dia menghabiskan hari-harinya mencoba meyakinkan para pejabat untuk memberinya dokumen Ukraina dan mengizinkannya mendaftar untuk dinas militer.

"Saya ingin pergi ke tempat di mana saya bisa mempertahankan tanah air saya dengan senjata, saya berusaha setiap hari," kata Volobuyev dalam sebuah wawancara di pinggiran ibukota, Kyiv.

"Saya tidak akan pernah kembali ke Rusia."

Ratusan ribu orang Rusia diyakini telah meninggalkan negara itu sejak Putin melancarkan perang.

Banyak intelektual, jurnalis, dan aktivis telah menyuarakan penentangan mereka terhadap konflik tersebut.

Namun, di kalangan elit politik dan pebisnis, pembelotan sangat jarang terjadi.

Terlepas dari laporan tentang kecemasan yang meluas atas invasi ke Ukraina, hanya segelintir orang yang berani berbicara di depan umum untuk mengutuk perang tersebut.

Pada hari Senin (23/5/2022), Boris Bondarev, seorang diplomat yang ditempatkan di misi Rusia untuk PBB di Jenewa, menjadi pejabat tingkat tertinggi yang mengecam perang tersebut.

Ketika mengundurkan diri, Bondarev menulis surat mengungkapkan bahwa dia malu dengan negaranya dan menyebut invasi itu sebagai bencana.

Kolase mantan wakil Presdir perusahaan Rusia Gazprombank Igor Volobuyev (kiri), dan diplomat Rusia untuk PBB di Jenewa, Boris Bondarev, Rabu (25/5/2022).
Kolase mantan wakil Presdir perusahaan Rusia Gazprombank Igor Volobuyev (kiri), dan diplomat Rusia untuk PBB di Jenewa, Boris Bondarev, Rabu (25/5/2022). (YouTube Radio Free Europe/Radio Liberty, Linkedln)

Bondarev mengatakan dia memutuskan untuk mengundurkan diri pada hari Rusia meluncurkan invasi, tetapi butuh berbulan-bulan untuk mengumpulkan tekad dan mengumumkannya.

"Anda mengerti bahwa itu salah," kata Bondarev sebuah wawancara telepon.

"Itu tidak baik. Tapi itu tidak benar-benar mempengaruhi anda, hidup Anda. Hal-hal buruk ini terjadi di suatu tempat yang jauh. Itu tidak benar tapi begitulah kebanyakan orang berpikir."

"Tapi sekarang ini benar-benar berbeda: Rusia menyerang negara lain. Ini adalah Ukraina yang selalu kami anggap sebagai saudara kami dan menyerang mereka dengan cara yang paling brutal. Mengebom kota-kota. Mengklaim mereka sebagai Nazi dan di-denazifikasi. Itu sesuatu yang konyol. Itu sesuatu yang tak terbayangkan."

Bondarev mengatakan dia yakin banyak rekan diplomatnya juga menentang perang, tetapi dia tidak pernah membicarakannya dengan mereka.

"Ini bukan sesuatu yang benar-benar anda bicarakan dengan orang lain, itu bukan sesuatu yang dapat anda bicarakan secara terbuka akhir-akhir ini," kata Bondarev.

"Semua orang diam."

Seperti banyak rekan diplomat lainnya, Bondarev tetap menjabat selama dekade terakhir, meskipun Rusia semakin terisolasi karena serangkaian krisis.

Di antaranya termasuk aneksasi Krimea dan penembakan Malaysia Airlines penerbangan MH17 pada tahun 2014.

Namun ia tampaknya tak bisa lagi mentolerir perang yang diinisiasi oleh negaranya sendiri.(TribunWow.com/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
Vladimir PutinVolodymyr ZelenskyUkrainaRusiaMiliarder
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved