Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Dokumen Rusia Bocor, Terungkap Rancangan Rekonstruksi Mariupol setelah Berhasil Direbut dari Ukraina

Salinan rencana ambisius Rusia untuk rekonstruksi kota Mariupol yang direbut dari Ukraina, bocor ke publik.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
AFP/ Alexander Nemenov
Pasukan tentara Rusia terlihat menyisir jalan saat berpatroli di kota Mariupol, Ukraina, diunggah Senin (18/4/2022). Terbaru, rencana Rusia untuk merekonstruksi Mariupol bocor ke media, Kamis (13/10/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Salinan rencana ambisius Rusia untuk rekonstruksi kota Mariupol yang direbut dari Ukraina, bocor ke publik.

Dilansir TribunWow.com, rencana tersebut pertama kali diterbitkan oleh situs berita Rusia The Village pada Rabu (12/10/2022).

Dalam rancangan tersebut, Mariupol direncanakan akan kembali menjadi kota pelabuhan yang berpusat pada industri seperti sebelumnya.

Baca juga: Diklaim Berhasil, Rusia Ungkap Target Serangan Misil Gelombang 2 di Ukraina pada Selasa

Diketahui, Mariupol merupakan kota pelabuhan Ukraina yang diduduki sebagian besar oleh pasukan Rusia.

Kota tersebut direduksi menjadi puing-puing oleh pasukan Rusia dalam salah satu pertempuran paling brutal dalam konflik Ukraina hingga saat ini.

Dikutip The Moscow Times, Kamis (13/10/2022), rencana tersebut dibuat secara jangka panjang mencakup hingga tahun 2035.

Ditetapkan bahwa prioritas utama Rusia adalah pemulihan perumahan pribadi dan bangunan apartemen.

Penulis proposal memperkirakan populasi tahun 2022 Mariupol mencapai 212.000 orang, tetapi diproyeksikan bahwa jumlah populasi kota sebelum perang sebesar 450.000 baru akan diraih kembali pada tahun 2030.

Adapun menurut pihak berwenang Ukraina, lebih dari 20.000 orang tewas selama pengepungan Rusia atas kota tersebut, sementara lebih banyak lagi yang melarikan diri dari kota setelah invasi.

Kota Mariupol di Ukraina dikepung dan terus dihujani serangan oleh pasukan militer Rusia.
Kota Mariupol di Ukraina dikepung dan terus dihujani serangan oleh pasukan militer Rusia. (YouTube Guardian News)

Baca juga: Donbas Dihujani Serangan Pasukan Rusia, Zelensky: Mereka Bertujuan Mengubah Semua Kota Jadi Mariupol

Dalam rencananya, Rusia merancang industri manufaktur akan diubah kembali sebagai tulang punggung ekonomi kota seperti saat sebelum perang, di mana Mariupol adalah pusat utama untuk industri metalurgi dan teknik berat.

Sebuah kawasan industri baru yang menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 9.200 orang direncanakan di wilayah pabrik baja Azovstal di kota itu.

Sebagaimana diketahui, Azovtal adalah kompleks pabrik yang luas tempat pasukan Ukraina berlindung dari serangan pasukan Rusia pada saat invasi.

Pabrik ini menjadi titik fokus pengepungan Rusia yang berlangsung selama berminggu-minggu sebelum para tentara Ukraina akhirnya menyerah.

Rencana tersebut juga mencakup janji oleh pihak berwenang Rusia untuk membangun kembali Teater Drama Mariupol, yang secara kontroversial ditembaki oleh militer Rusia pada 16 Maret.

Pada saat penembakan tersebut, sebanyak 600 warga sipil tewas, termasuk anak-anak yang berlindung di ruang bawah tanah gedung.

Baca juga: Sebut AS Terlibat dalam Konflik Ukraina, Rusia Pastikan Putin Bersedia Bertemu Biden di Bali

Situasi Pertahanan Terakhir Mariupol

Sebelumnya, prajurit militer dari resimen Azov Mariupol menuturkan kondisi pertahanan terakhir di kompleks pabrik baja Azovtal saat masih dikepung Rusia.

Diungkapkan juga alasan mengapa tentara yang sudah terdesak di pabrik baja Azovtal enggan menyerah ke Rusia.

Begitupun warga sipil yang memilih bersembunyi meski kekurangan air, makanan, bahkan obat-obatan.

Penampakan kompleks pabrik baja Azovtal yang terletak di wilayah kota Mariupol, Ukraina.
Penampakan kompleks pabrik baja Azovtal yang terletak di wilayah kota Mariupol, Ukraina. (Website azovstal.metinvestholding.com/ru)

Baca juga: Tak akan Kabur dari Mariupol, Kapten Resimen Azov Siap Perangi Rusia Pakai Bayonet

Dilansir TribunWow.com dari BBC, Jumat (22/4/2022), sebelumnya Presiden Rusia Vladimir Putin membatalkan serangan yang hendak dilancarkan ke Azovtal.

Alih-alih, Putin justru memerintahkan pasukannya untuk memblokade pabrik tersebut agar tak ada yang bisa lewat.

Sebagian besar Mariupol telah hancur dalam beberapa minggu pengeboman berat Rusia dan pertempuran jalanan yang intens.

Pasalnya, pelabuhan Laut Azov itu adalah sasaran perang Rusia agar dapat melepaskan lebih banyak pasukan untuk bergabung dengan serangan Rusia di wilayah Donbas timur.

Berbicara dari pabrik Azovstal, Svyatoslav Palamar dari resimen Azov mengatakan para pembela telah menangkis gelombang serangan Rusia.

"Saya selalu mengatakan bahwa selama kita di sini, Mariupol tetap di bawah kendali Ukraina," tegas Palamar.

Ia mengatakan Rusia telah menembaki pabrik baja dari kapal perang dan menjatuhkan bom penghancur bunker di atasnya.

Tapi itu sesuai dengan kesaksian awal pekan ini dari seorang komandan marinir Ukraina, juga berada di Azovtal, yang mengatakan bahwa para pejuang kalah jumlah dan kehabisan persediaan.

"Semua bangunan di wilayah Azovstal praktis hancur. Mereka menjatuhkan bom berat, bom penghancur bunker yang menyebabkan kehancuran besar. Kami telah terluka dan tewas di dalam bunker. Beberapa warga sipil tetap terperangkap di bawah bangunan yang runtuh," kata Palamar.

Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov yang kontroversial, menuturkan kondisi pertahanan terakhir di Mariupol yang dikepung Rusia, Jumat (22/4/2022).
Svyatoslav Palamar, dari resimen Azov yang kontroversial, menuturkan kondisi pertahanan terakhir di Mariupol yang dikepung Rusia, Jumat (22/4/2022). (Capture Video BBC)

Resimen Azov awalnya adalah kelompok neo-Nazi sayap kanan yang kemudian dimasukkan ke dalam Garda Nasional Ukraina.

Para pejuangnya bersama dengan brigade Marinir, penjaga perbatasan dan petugas polisi adalah pembela Ukraina terakhir yang tersisa di kota.

Ketika ditanya berapa banyak tentara bertahan Ukraina yang tersisa di Mariupol, Palamar menjawab cukup untuk mengusir serangan.

Dia mengatakan bahwa warga sipil berada di lokasi terpisah jauh dari para pejuang.

Mereka berada di ruang bawah tanah yang masing-masing berisi 80-100 orang.

Tetapi tidak jelas berapa jumlah total warga sipil itu, karena beberapa bangunan telah dihancurkan dan pejuang tidak dapat menjangkau mereka karena penembakan.

Menurutnya, pintu masuk ke beberapa bunker diblokir oleh pelat beton berat yang hanya bisa digerakkan oleh alat berat.

"Kami tetap berhubungan dengan warga sipil yang tinggal di tempat-tempat yang bisa kami datangi. Kami tahu ada anak kecil di sana yang berusia tiga bulan," ujar Palamar.

Ia mengimbau agar warga sipil untuk diberikan jalan keluar yang aman dari pabrik baja dan menyerukan negara ketiga atau badan internasional untuk bertindak sebagai penjamin keselamatan mereka.

"Orang-orang ini telah melalui banyak hal, melalui kejahatan perang. Mereka tidak mempercayai Rusia, dan mereka takut," katanya.

Palamar menambahkan bahwa mereka takut akan penyiksaan dan pembunuhan di tangan pasukan Rusia atau deportasi ke Rusia melalui cara yang disebut kamp filtrasi.

Warga sipil lanjut usia di pabrik baja membutuhkan obat-obatan sementara ada juga sekitar 500 pejuang yang terluka parah yang tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan, termasuk operasi besar seperti amputasi.

"Setelah 52 hari blokade dan pertempuran sengit, kami kehabisan obat-obatan. Dan kemudian kami juga menyimpan mayat para pejuang kami yang tidak terkubur yang perlu kami kubur dengan bermartabat di wilayah yang dikuasai Ukraina," tutur Palamar.

Palamar mengatakan para pembela Ukraina juga ingin mengamankan evakuasi mereka sendiri jika memungkinkan, tetapi menolak untuk menyerah.

"Mengenai penyerahan diri sebagai ganti jalan keluar yang aman bagi warga sipil, saya harap kita semua tahu dengan siapa kita berhadapan. Kita pasti tahu bahwa semua jaminan, semua pernyataan Federasi Rusia tidak ada artinya," ungkap Palamar.

Dia mengatakan banyak dari pembela HAM yang tersisa di Azovstal berasal dari Krimea, yang dianeksasi oleh Rusia pada 2014, serta wilayah Donetsk dan Luhansk timur.

Dia sendiri pernah menikah di sana dan anaknya lahir di sana.

"Saya menyaksikan bagaimana kota ini berkembang. Bagaimana kota ini menjadi mutiara Azov dan juga kampung halaman bagi saya," ucap Palamar.

"Rusia tidak memperbarui atau membangun kembali apa pun. Ini bertujuan untuk menghancurkan dan meneror. Jika kita jatuh, gerombolan ini akan melangkah lebih jauh dan seluruh dunia beradab akan berada dalam bahaya."(TribunWow.com)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr ZelenskyMariupol
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved