Tragedi Arema Vs Persebaya
Mulut Berbusa hingga Wajah Membiru, Kondisi Jasad Korban Tragedi Kanjuruhan Diungkap Komnas HAM
Komnas HAM membeberkan kondisi memprihatinkan korban jiwa pada tragedi Kanjuruhan yang disinyalir merupakan efek gas air mata.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM Choirul Anam menuturkan kondisi memprihatinkan jasad korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.
Dilansir TribunWow.com, banyak dari korban jiwa yang total berjumlah 131 orang tersebut memperlihatkan gejala serupa.
Diduga, gejala tersebut disebabkan oleh gas air mata yang ditembakkan polisi di malam pertandingan Arema FC versus Persebaya, Sabtu (1/10/2022).
Baca juga: Sambil Teteskan Air Mata, Presiden Arema FC Sambangi dan Peluk Ibu Korban Tragedi Kanjuruhan
Choirul Anam membeberkan bahwa banyak diantara korban tewas dengan wajah membiru.
Selain itu, didapati juga mulut-mulut mengeluarkan busa serta mata yang begitu merah diduga karena kekurangan oksigen dan akibat paparan gas air mata.
"Kondisi jenazahnya sendiri secara fisik, ada beberapa yang sangat-sangat memprihatinkan, ini menunjukkan kurang lebih yang menjadi potensi penyebab kematian," terang Choirul Anam dikutip KOMPASTV, Kamis (6/10/2022).
"Yang pertama kondisi jenazahnya banyak yang mukanya biru, ini yang menunjukkan kemungkinan besar karena kekurangan oksigen, karena juga gas air mata."
"Jadi muka biru, ada yang matanya merah, (mulut) keluar juga busa."

Baca juga: Soroti Tragedi Kanjuruhan, New York Times Sebut Polisi Indonesia Kurang Terlatih Kendalikan Massa
Fakta tersebut diperoleh Choirul Anam dari penuturan keluarga, rekan-rekan suporter Aremania, maupun para relawan.
Keterangan para pihak itu pun saling berkesuaian di mana tiga ciri-ciri yang disebutkan terlihat dari jenazah masing-masing korban.
Selain itu, juga ditemukan sejumlah luka patah diduga akibat terhimpit sesama penonton atau terjatuh saat panik.
"Banyak kok yang wajahnya biru, terus keluar busa, mata merah dan sebagainya," ucap Choirul Anam.
"Termasuk kondisi luka, kondisi luka ini macam-macam, ada yang kaki patah, ada yang rahang patah, ada yang memar dan lain sebagainya."
Menurut Choirul Anam, penggunaan gas air mata sangat berpengaruh hingga menyebabkan gejala iritasi berat pada penglihatan korban.
Bahkan, ia sempat bertemu dengan seorang korban selamat yang baru bisa melihat setelah dua hari akibat efek gas air mata.
"Senin itu baru bisa melihat, sebelum-sebelumnya enggak bisa melihat, matanya sakit kalau dibuka, dadanya juga perih, sesak napas, tenggorokannya perih," bebernya.
Baca juga: Kesaksian Korban Tragedi Kanjuruhan, Ngaku Lihat Oknum Aparat Tolak Beri Pertolongan: Malah Didorong
Lihat tayangan selengkapnya dari menit pertama:
Elmiati Kehilangan Suami dan Balitanya
Seorang Aremanita menceritakan detik-detik pilunya setelah kehilangan suami dan anak balitanya dalam insiden mengerikan seusai laga Arema FC kontra Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).
Dilansir TribunWow.com, Aremanita bernama Elmiati (33) harus kehilangan sang suami Rudi Harianto dan anak bungsunya M Firdi Prayogo (3) yang menjadi korban jiwa dalam momen mengerikan insiden seusai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya.
Dalam kisahnya, Elmiati menceritakan detik-detik di saat sang suami dan balitanya gagal menyelamatkan diri dari insiden di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang tersebut.
Bermula saat keduanya menonton laga Arema FC vs Persebaya Surabaya di Gate 13 Stadion Kanjuruhan.
Baca juga: Luis Milla Kebingungan, 1 Masalah Besar Menanti Persib Bandung Imbas Insiden Laga Arema Vs Persebaya
Ketiganya terpisah saat mencoba keluar melalui lorong pintu keluar stadion.
Nahas, Elmiati yang berhasil menyelamatkan diri dari insiden mengerikan itu tak bisa kembali bersua suami dan putranya.
Suami dan anak balitanya diduga tewas karena terhimpit massa kerumunan suporter yang hendak menghindari gas air mata di dalam stadion.
Seinget Elmiati, awal insiden nahas itu terjadi sekitar pukul 22.00 WIB.
Seusai laga, para pemain kedua belah pihak bergegas berlari menuju ruang ganti pemain seusai mengetahui beberapa Aremania berlarian menuju ke tengah lapangan Stadion Kanjuruhan.
Seketika, masssa yang turun semakin banyak dan membuat aparat keamanan menghalau dengan segala upaya agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Imbasnya, gas air mata yang entah darimana berasal menyongsong tribun 13 tempat dimana Elmiati, suami dan anak balitanya berada.

Baca juga: Ciro Alves Unggah Foto Kenangan di Kanjuruhan saat Persib Kontra Arema, Bobotoh Banjiri Postingannya
"(Lontaran bola gas air mata) iya ke arah tribun. Lontaran itu masuk ke kerumunan penonton. Suami saya mengajak pulang; ayo pulang aja selak adik keno gas (keburu anak terkena gas). Posisi itu sudah ricuh," ujarnya dikutip TribunWow.com dari TribunJatim.com (Grup SURYAMALANG.COM) di kediamannya, kawasan Blimbing, Malang, Senin (3/10/2022).
Mengetahui lontaran gas air mata pekat menyongsong tribun mereka, ketiganya bergegas untuk pergi melalui tangga tribun.
Bukan hanya Elmiati, para Aremania yang satu tribun dengannya juga satu pemikiran.
Alhasil, desak-desakan tak terelakan dan saling berebut untuk keluar dari Stadion Kanjuruhan.
"Posisi saya ada di pinggir di tangga pegangan biru-biru (pegangan anak tangga)itu. Suami saya berada di dekat pintu gerbang. Suami saya berada di baris kedua dekat pintu gerbang (yang tertutup)," ungkapnya.
Lantaran kondisi semakin tak memungkinkan, Elmiati yang semula bersama suami dan anaknya harus terpisah.
Elmiati juga tak mengetahui keberadaan suami dan anaknya yang semula berada tepat di depannya.
Dalam momen serba pelik itu, Elmiati mengaku dirinya sudah pasrah jika ajalnya tiba di waktu itu.
"Saya juga sudah pasrah kalau nanti ikut meninggal, saya meninggal dengan suami dan anak saya, pikiran saya cuma begitu," gumamnya, kala itu, sembari mengenang.
Mengingat saat itu, tubuhnya sudah terhimpit ratusan tubuh yang berdesakan merangsek ingin segera keluar dari Stadion Kanjuruhan.
Ia menyaksikan secara langsung wajah-wajah girang yang semula satu tribun dengannya berubah menjadi teriakan, rintihan kesakitan dan meminta pertolongan bantuan.
Elmiati juga melihat sendiri beberapa orang telah sekarat tak berdaya dengan mulut yang mulai mengeluarkan busa.
"Itu (orang-orang) masih teriak-teriak. Ada yang keluar busa. Ada yang sekarat. Saya lihat sendiri," ungkapnya.
Entah dari mana asalnya, bak ubahnya malaikat penolong, tubuh Elmiati tiba-tiba ditarik oleh orang lain dan akhirnya berhasil terhindar dari desakan kerumunan itu untuk kembali mencari area lapangan, yakni di atas tribun.
Beruntung, saat kembali ke atas tribun, cuaca menjadi gerimis sehingga pekatnya gas air mata tak sepekat awal.
"Ternyata, ada yang menolong saya. Saya diajak ke atas tribun lagi. (Gas air mata hilang) bukan karena angin, tapi karena hujan," terangnya.
"Saya dirawat saudara saya. Saya diminta istirahat dan saudara saya itu pergi cari suami dan anak saya," tambahnya.
Pada akhirnya, kedua jasad orang tercinta Elmiati itu, akhirnya dibawa ke rumah duka Jalan Sumpil Gang 2, Purwodadi, Blimbing, Malang, sebelum adzan petanda Salat Subuh berkumandang, Minggu (2/10/2022).

(TribunWow.com/Noviana/Adi Manggala S)