Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Viral Video Warga Rusia Bakar Diri Sendiri seusai Teriak Ogah Dikirim Perang ke Ukraina

Beragam bentuk protes dilakukan oleh warga Rusia yang menolak dikirim pemerintahan Putin memerangi Ukraina.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Thesun.co.uk
Video seorang pria di Kota Ryazan, Rusia membakar dirinya sendiri menolak dirikim perang ke Ukraina. 

TRIBUNWOW.COM - Viral sebuah video menampilkan warga Rusia melakukan protes terhadap kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Vladimir Putin diketahui telah menyatakan akan mengerahkan pasukan militer cadangan Rusia untuk melawan Ukraina.

Dikutip TribunWow dari Thesun, dalam video yang viral seorang pria nekat membakar dirinya sendiri.

Baca juga: Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina

Kejadian ini diketahui berada di dekat sebuah stasiun di Kota Ryazan yang berjarak 110 mil dari Moskow.

Dalam video itu tampak pria tersebut menyiramkan bensin ke seluruh tubuhnya dari atas kepala.

Sebelum membakar dirinya sendiri, pria tersebut berteriak menolak dikirim perang ke Ukraina.

"Saya tidak ingin pergi berperang," ujar pria tersebut.

Protes juga disampaikan penduduk di Dagestan yang merupakan wilayah mayoritas muslim di Rusia.

Dikutip TribunWow dari bbc, beredar di media sosial video pria dan wanita penduduk Dagestan melakukan protes terhadap kebijakan mobilisasi pasukan Putin.

Sebuah organisasi hak asasi manusia independen di Rusia, OVD-Info melaporkan ada 100 penduduk Dagestan yang ditahan saat melakukan aksi protes di Makhachkala.

OVD-Info melaporkan aparat menggunakan senjata kejut dan tongkat pemukul kepada demonstran.

Dalam sebuah video terekam seorang pria melawan saat ditahan oleh seorang anggota polisi.

Karena aksi perlawanannya tersebut, pria itu berakhir dikeroyok.

Di video lain terdengar suara teriakan seorang ibu yang menyatakan tidak terima jika anaknya dipaksa berperang ke Ukraina.

"Rusia diserang? Mereka tidak mendatangi kita. Kita lah yang menyerang Ukraina. Rusia telah menyerang Ukraina! Hentikan perang!" ujar ibu tersebut.

OVD-Info juga menemukan adanya upaya warga di desa Endirey memblokir jalan utama untuk menghalangi petugas yang hendak merekrut warga sipil.

Menurut info dari BBC, Dagestan adalah wilayah Rusia yang penduduknya berkorban paling banyak dalam konflik di Ukraina.

Per bulan September 2022, diperkirakan ada 301 tentara dari Dagestan yang tewas di Ukraina.

Baca juga: Apa yang Terjadi jika Vladimir Putin Nekat Mengebom Ukraina dengan Nuklir Rusia? Ini Kata Para Ahli

Warga Dagestan yang mayoritas beragama Islam memprotes kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan memobilisasi pasukan cadangan ke Ukraina, 25 September 2022.
Warga Dagestan yang mayoritas beragama Islam memprotes kebijakan Presiden Rusia Vladimir Putin yang akan memobilisasi pasukan cadangan ke Ukraina, 25 September 2022. (YouTube Radio Free Europe/Radio Liberty)

Ribuan Orang Ditangkap karena Menolak ke Ukraina

Penduduk Rusia berduyun-duyun turun ke jalan di beberapa kota untuk memprotes wajib militer.

Dilansir TribunWow.com, mereka menolak keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memobilisasi sebagian warga sipil dan pasukan cadangan ke medan perang Ukraina.

Dilaporkan bahwa sejumlah kericuhan terjadi di beberapa titik yang berujung bentrokan antara pendemo dan polisi.

Seorang pengunjuk rasa melakukan perlawanan saat ditangkap aparat kepolisian Rusia di Moscow, Rabu (21/9/2022). Pengunjuk rasa tersebut melakukan aksi demo menolak wajib militer yang ditetapkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim warga sipil ke medan perang Ukraina.
Seorang pengunjuk rasa melakukan perlawanan saat ditangkap aparat kepolisian Rusia di Moscow, Rabu (21/9/2022). Pengunjuk rasa tersebut melakukan aksi demo menolak wajib militer yang ditetapkan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengirim warga sipil ke medan perang Ukraina. (AFP/ Alexander Nemenov)

Baca juga: Putin Kirim Warga Sipil Rusia ke Medan Perang hingga Ancam Pakai Nuklir, Begini Tanggapan Ukraina

Hingga saat ini, ribuan orang ditangkap dalam demonstrasi anti-mobilisasi di kota-kota seperti Moskow dan St Petersburg pada Rabu (21/9/2022).

Para pengunjuk rasa di Moskow tersebut meneriakkan "Tidak untuk perang!" dan “Hidup untuk anak-anak kita!".

Sementara itu, di St Petersburg, pengunjuk rasa meneriakkan penolakan terhadap diadakannya mobilisasi atau wajib militer.

"Semua orang takut. Saya untuk perdamaian dan saya tidak ingin harus menembak. Tetapi keluar sekarang sangat berbahaya, jika tidak, akan ada lebih banyak orang," kata seorang pengunjuk rasa, Vasily Fedorov, dikutip Al Jazeera, Rabu (21/9/2022).

"Saya datang untuk mengatakan bahwa saya menentang perang dan mobilisasi," seru mahasiswa bernama Oksana Sidorenko.

"Mengapa mereka memutuskan masa depan saya untuk saya? Saya khawatir atas keselamatan diri saya sendiri, dan saudara saya," tambahnya.

Terlepas dari hukum keras Rusia yang melarang kritik terhadap militer dan perang, protes tetap terjadi di seluruh negeri.

Lebih dari 1.300 orang Rusia ditangkap dalam demonstrasi anti-perang di 38 kota, menurut kelompok hak asasi manusia independen Rusia OVD-Info.

Ribuan orang memadati ruang publik di Rusia untuk melakukan protes atas wajib militer parsial yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (21/9/2022). Para pengunjuk rasa tampak berhadapan dengan petugas keamanan yang berusaha menekan massa.
Ribuan orang memadati ruang publik di Rusia untuk melakukan protes atas wajib militer parsial yang diumumkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Rabu (21/9/2022). Para pengunjuk rasa tampak berhadapan dengan petugas keamanan yang berusaha menekan massa. (AFP)

Baca juga: Zelensky Sebut Rusia Panik, Tentara Putin Nekat Serang PLTN Ukraina hingga Percepat Referendum

Kantor berita Rusia Interfax mengutip kementerian dalam negeri yang mengatakan telah membatalkan upaya untuk mengorganisir pertemuan yang tidak sah.

Semua demonstrasi dihentikan dan mereka yang melakukan 'pelanggaran' ditangkap dan dibawa pergi oleh polisi sambil menunggu penyelidikan dan penuntutan.

Sebelumnya, gerakan anti-perang Pemuda Demokratik Vesna menyerukan untuk dilangsungkannya demonstrasi.

"Kami menyerukan kepada militer Rusia di unit dan di garis depan untuk menolak berpartisipasi dalam ‘operasi khusus’ atau menyerah sesegera mungkin," kata Vesna di situsnya, merujuk pada perang Rusia-Ukraina.

"Anda tidak harus mati untuk Putin. Kamu dibutuhkan di Rusia oleh mereka yang mencintaimu."

"Bagi pihak berwenang, anda hanyalah umpan meriam, di mana anda akan disia-siakan tanpa makna atau tujuan apa pun.”

Situs web tersebut juga menyertakan bilik aduan untuk tentara di dalam militer yang tidak ingin berpartisipasi dalam perang.

Demonstrasi ini terjadi setelah pidato televisi Putin pada Rabu pagi, yang menyatakan mobilisasi untuk membela wilayah Rusia dan bahwa Barat ingin menghancurkan negara itu.

"Mereka (Rusia) kalah perang, dan mereka ingin melakukan sesuatu agar tidak kalah,” Oleg Ignatov, seorang analis Crisis Group yang berbasis di Moskow, mengatakan kepada Al Jazeera.

"Saya pikir masalah utamanya adalah mereka kekurangan personel di lapangan, mereka tidak memiliki cukup tentara untuk menyerang Ukraina, atau bahkan melindungi daerah yang diduduki. Mereka ingin menutup kesenjangan dengan Ukraina dan itulah mengapa mereka menyatakan mobilisasi."

Karena terdesaknya pasukan baru-baru ini, militer Rusia harus mencari tambahan tentara dari tempat lain.

Adapun menurut data Google Trends, beberapa jam sebelum pengumuman Putin, pertanyaan 'bagaimana meninggalkan Rusia' melonjak di mesin pencari, seperti halnya pertanyaan 'bagaimana mematahkan lengan sendiri'.

Bahkan, pada hari Rabu, semua penerbangan ke Istanbul dan hampir semua penerbangan ke Yerevan terjual habis.(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
ViralViral VideoKonflik Rusia Vs UkrainaUkrainaRusiaVladimir PutinVolodymyr Zelensky
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved