Konflik Rusia Vs Ukraina
Polisi Rusia Dituding Rudapaksa dan Ancam Lecehkan Ramai-ramai Pendemo Anti-Wajib Militer ke Ukraina
Polisi Rusia dikabarkan menangkap para aktivis anti wajib militer dan melakukan penyiksaan.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
Insiden itu terjadi di tengah beberapa protes berkelanjutan terbesar sejak Rusia menginvasi Ukraina, dipicu oleh pengumuman Putin tentang mobilisasi parsial pekan lalu.
Pemantau independen mengatakan setidaknya 2.000 pengunjuk rasa telah ditahan sejak Rabu lalu.
Penerbangan dari Rusia ke tujuan yang tersedia telah terjual habis selama seminggu terakhir, sementara perbatasan darat Rusia dengan negara-negara tetangga mengalami lonjakan lalu lintas dalam seminggu terakhir.
Dalam insiden terpisah dari Kamardin dan Popova, Sota melaporkan Senin malam bahwa aktivis anti-perang Daria Ivanova dicekik, ditendang, ditinju, dijambak dan dipukuli oleh petugas di apartemennya di Moskow.
Ivanova kemudian didakwa dengan tuduhan mendiskreditkan Angkatan Bersenjata Rusia dan diperintahkan hadir untuk diinterogasi.
Baca juga: Rusia Klaim Menangkan Pemilu di Wilayah Jajahan, Sebut Penduduk Ingin Lepas dari Ukraina
Ribuan Orang Ditangkap karena Menolak ke Ukraina
Penduduk Rusia berduyun-duyun turun ke jalan di beberapa kota untuk memprotes wajib militer.
Dilansir TribunWow.com, mereka menolak keputusan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memobilisasi sebagian warga sipil dan pasukan cadangan ke medan perang Ukraina.
Dilaporkan bahwa sejumlah kericuhan terjadi di beberapa titik yang berujung bentrokan antara pendemo dan polisi.
Baca juga: Putin Kirim Warga Sipil Rusia ke Medan Perang hingga Ancam Pakai Nuklir, Begini Tanggapan Ukraina
Hingga saat ini, ribuan orang ditangkap dalam demonstrasi anti-mobilisasi di kota-kota seperti Moskow dan St Petersburg pada Rabu (21/9/2022).
Para pengunjuk rasa di Moskow tersebut meneriakkan "Tidak untuk perang!" dan “Hidup untuk anak-anak kita!".
Sementara itu, di St Petersburg, pengunjuk rasa meneriakkan penolakan terhadap diadakannya mobilisasi atau wajib militer.
"Semua orang takut. Saya untuk perdamaian dan saya tidak ingin harus menembak. Tetapi keluar sekarang sangat berbahaya, jika tidak, akan ada lebih banyak orang," kata seorang pengunjuk rasa, Vasily Fedorov, dikutip Al Jazeera, Rabu (21/9/2022).
"Saya datang untuk mengatakan bahwa saya menentang perang dan mobilisasi," seru mahasiswa bernama Oksana Sidorenko.
"Mengapa mereka memutuskan masa depan saya untuk saya? Saya khawatir atas keselamatan diri saya sendiri, dan saudara saya," tambahnya.