Terkini Nasional
Pengacara Lukas Enembe Curiga Alami Peretasan: Mudah-mudahan Bukan Bagian dari Penggunaan Kekuasan
Kuasa hukum Gubernur Papua Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening, menduga ponselnya diretas.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Tiffany Marantika Dewi
TRIBUNWOW.COM - Orang-orang di lingkaran dalam Gubernur Papua Lukas Enembe mengaku mengalami kejanggalan.
Dilansir TribunWow.com, pengacara Lukas Enembe, Stefanus Roy Rening menyebut ponselnya sempat eror.
Rupanya, hal serupa juga dialami oleh juru bicara Lukas Enembe, Rifai Darus.
Baca juga: Bukan Judi, Lukas Enembe Disebut Hanya Bermain Gim sekalian Berobat, MAKI Ungkap Daftar Perjalanan
Sebagaimana diketahui, Lukas Enembe telah dua kali menolak panggilan KPK untuk diperiksa terkait kasus dugaan penerimaan gratifikasi Rp 1 miliar.
Ia juga diduga melakukan korupsi dan melakukan tindak pencucian uang sebesar Rp 560 juta.
Terkait hal ini, pengacaranya menolak mentah-mentah dan membeberkan kekayaan sang gubernur berasal dari tambang emas miliknya.
Ia justru menyebutkan adanya dugaan kriminilisasi berlatar belakang politik yang sedang menerpa kliennya.

Baca juga: Sebut Lukas Enembe Punya Langganan Judi di Manila hingga Singapura, MAKI: Saya Punya Fotonya
Dalam jumpa pers pada Senin (26/9/2022), Stefanus juga mengaku sempat mengalami keanehan pada ponselnya.
Secara bersamaan, ia dan Rifai tak bisa mengakses handphone mereka, sementara sejumlah pesan dikabarkan menghilang.
Stefanus pun merasa curiga ada aktivitas tak wajar yang dilakukan oleh pihak ketiga.
"Saya dan Pak Rifai semalam mengalami peristiwa yang kurang bagus sekitar jam 12 malam. Handphone saya berdua dalam waktu yang bersamaan, hang," beber Stefanus dikutip kanal YouTube KOMPASTV, Senin (26/9/2022).
"WA saya, tidak tahu disadapkah atau apa, tiba-tiba hilang semua saya punya chat."
"Makanya teman-teman pasti kontak tadi pagi gambar saya hilang kan, itu yang kira-kira kami alami."
Enggan berspekulasi, Stefanus berharap peristiwa tersebut hanyalah kebetulan semata.
Ia tak ingin menduga jika ponselnya mengalami peretasan oleh pihak-pihak berkuasa yang bisa melakukan serangan siber.