Polisi Tembak Polisi
Penasihat Kapolri Fahmi Alamsyah Bagi Duit hingga Buat Skenario Kasus Brigadir J? Ahli: Dia Operator
Terbongkar sosok penasihat Kapolri Fahmi Alamsyah yang diduga berperan sebagai operator dalam kasus pembunuhan Brigadir J.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Atri Wahyu Mukti
TRIBUNWOW.COM - Penasihat ahli Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Fahmi Alamsyah, diduga terlibat dalam kasus Irjen Ferdy Sambo.
Dilansir TribunWow.com, Fahmi Alamsyah diduga termasuk otak dibalik narasi pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
Tak hanya menyusun desain cerita untuk menutupi kasus, Fahmi Alamsyah juga diduga berperan membagikan uang untuk para pihak yang terlibat.
Baca juga: Sebut Arogansi Ferdy Sambo Buat 4 Anaknya Menderita, IPW Soroti Status Tersangka Putri Candrawathi
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Pusat Keamanan Nasional Universitas Bhayangkara sekaligus Penasihat Ahli Kapolri, Profesor Hermawan Sulistyo.
Hermawan yang akrab disapa dengan nama Kikiek, membeberkan peran penting Fahmi yang kini telah mundur dari jabatan staf dan penasihat ahli Kapolri bidang Komunikasi Publik.
Tak hanya mendapat uang dari koneksinya dengan Ferdy Sambo, Fahmi rupanya juga membagikan uang bagi para pihak yang terlibat.
Di antaranya adalah para tersangka, di mana Bharada Richard Eliezer alias Bharad E, mengaku pernah dijanjikan Rp 1 miliar setelah membunuh Brigadir J.
"Ada satu penasihat, yang bukan hanya kecipratan tapi juga membagi-bagi duit. Itu Fahmi Alamsyah," tuding Hermawan dikutip kanal YouTube KOMPASTV, Jumat (19/8/2022).
"(Membagi uang-red) kepada semua orang di luar itu yang dituduhkan itu, tanya operatornya siapa."

Baca juga: IPW Beri Pesan pada Listyo Sigit Prabowo: Pak Kapolri Ini Serius, Ada Geng Mafia di Institus Anda
Terkait aliran dana yang dibagikan Fahmi, Hermawan mengaku tak tahu menahu.
Ia juga tak bisa memastikan apakah uang yang dimaksud berasal dari Ferdy Sambo dan jaringannya.
"Kami cuma tahu bahwa dia ini operator yang menyusun skenario-skenario," ucap Hermawan.
Menurutnya, Fahmi adalah orang yang merencanakan skenario awal di mana Brigadir J dituding melakukan pelecehan terhadap Putri Candrawathi istri Ferdy Sambo dan dipergoki Bharada E hingga tewas karena aksi tembak menembak.
"Setelah penembakan dia menyusun bersama Sambo bahwa ini tembak-menembak, dia menyusun skenario pelecehan seksual, dan publik percaya, itu yang jadi masalah," terang Hermawan.
Baca juga: Mengupas Keterlibatan Putri Candrawathi, Pakar Sebut 3 Peran dalam Kasus Pembunuhan Brigadir J
Lihat tayangan selengkapnya dari menit ke- 09.00:
Skenario Pembunuhan Brigadir J Sudah Disusun Rapi
Sebelumnya, pihak keluarga dan kuasa hukum meyakini tewasnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J diakibatkan tindak pembunuhan berencana.
Dilansir TribunWow.com, Eka Prasetya, anggota tim kuasa hukum keluarga Brigadir J menilai ada skenario yang sudah dipersiapkan.
Pasalnya, ada keterlibatan puluhan polisi dalam penutupan kasus ini termasuk eks Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo dan ajudannya Bharada Eliezer.
Baca juga: Ferdy Sambo Ternyata Bukan Ditangkap atau Dijadikan Tersangka, Berikut Keterangan Polisi
Dituturkan dalam tayangan di kanal YouTube Tribunnews, Sabtu (6/8/2022), Eka Prasetya mengaku kaget.
Ia tak menyangka bahwa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah menindak 25 polisi terkait kasus ini.
"Sangat kaget saya kemarin bahwa ada 25 orang yang diperiksa. Bahkan sudah sempat dimutasi," kata Eka Prasetya.
Melalui hal ini, bisa disimpulkan bahwa kasus Brigadir J ini dilakukan dengan perencanaan yang matang.
"Artinya, kasus (kematian Brigadir J) ini ada persiapan, pelaksanaan sampai pasca pelaksanaan meninggalnya. Inilah yang saya bilang erat kaitannya perencanaan karena ada awalannya."

Baca juga: Sebut Kasus Brigadir J adalah Aib karena Libatkan Puluhan Polisi, Penasihat Kapolri: Ini Bom Atom
Lebih lanjut, Eka Prasetya menerangkan alasannya melaporkan pembunuhan Brigadir J dengan pasal 340 KUHP terkait pembunuhan berencana.
Ia menilai ada skenario yang sudah disusun secara seksama dan rapi.
"Kembali lagi mengapa kami menyebutkan pembunuhan berencana karena ada awal dan ada goalnya ketika nyawa korban melayang hingga penyelesaiannya. Ini semua skenario yang sudah disusun rapi," terang Eka Prasetya.
"Dan ternyata pada faktanya melibatkan perwira tinggi dan aparat yang lain. Kalau terbukti ada tindak pidananya ya akan disidang kata Kapolri setelah sidang etik."
Eka Prasetya menilai bahwa kasus Brigadir J yang melibatkan puluhan polisi ini merupakan sebuah tragedi.
Ia pun menyayangkan rusaknya nama baik Polri akibat sejumlah oknum yang melakukan pelanggaran.
"Seumpamanya terbukti apakah kita masih butuh orang-orang seperti ini di instansi kepolisian. Menurut kami ini tragedi kemanusiaan," ujar Eka Prasetya.
"Kasihan institusi ini banyak pihak yang mendukung institusi ini humani, kredibel, presisi lalu dirusak oleh sindikat penegak hukum." (TribunWow.com/Via)