Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Disebut Zelensky Kehilangan Besar, Juragan Gandum Terbesar Ukraina Tewas Diserang Rusia

Satu dari pengusaha gandum terbesar Ukraina tewas akibat serangan Rusia.

Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
Bulent Kilic/AFP
Tentara Ukraina saat mencari jasad di reruntuhan bangunan sekolah yang hancur terkena serangan roket di Mykolaiv, Ukraina, 19 Maret 2022. Terbaru, seorang pengusaha gandum kenamaan Ukraina dikabarkan tewas kena serangan Rusia, Minggu (31/7/2022). 

TRIBUNWOW.COM - Serangan Rusia telah menghantam kota pelabuhan Mykolaiv di Ukraina selatan.

Dilansir TribunWow.com, serangan ini menewaskan pemilik salah satu perusahaan penghasil dan pengekspor biji-bijian terbesar di negara itu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengaku sangat menyesalkan kejadian tersebut.

Pasalnya, peristiwa ini terjadi saat Ukraina tengah bersiap untuk kembali melakukan ekspor gandum setelah PBB berhasil melakukan negosiasi dengan Rusia.

Baca juga: Putin Nyatakan AS dan NATO adalah Ancaman Terbesar Negara, Rusia Sahkan Doktrin Maritim Terbaru

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Minggu (31/7/2022), Oleksiy Vadatursky, pendiri dan pemilik perusahaan pertanian Nibulon, tewas bersama istrinya di rumah mereka.

Kabar ini disampaikan oleh Gubernur Mykolaiv Vitaliy Kim melalui aplikasi Telegram pada hari yang sama.

Sebagai informasi, Mykolaiv adalah sebuah kota strategis penting yang berbatasan dengan sebagian besar wilayah Kherson yang diduduki Rusia.

Kota ini menjadi pilihan Nibulon untuk membangun kantor pusatnya.

Perusahaan ini mengkhususkan diri dalam produksi dan ekspor gandum, jelai dan jagung, dan memiliki armada dan galangan kapal sendiri.

Tentara Rusia memakai seragam lengkap berjaga di pelabuhan.
Tentara Rusia memakai seragam lengkap berjaga di pelabuhan. (Yuri Kadobnov/AFP)

Baca juga: Pilih Lewat Sungai, Ukraina Mulai Kembali Ekspor Gandum setelah Rusia Blokade Jalur Laut Hitam

Zelensky menggambarkan kematian Vadatursky sebagai kerugian besar bagi seluruh Ukraina.

Ia mengatakan bahwa pengusaha itu sedang dalam proses membangun pasar gandum modern yang melibatkan jaringan terminal dan elevator transshipment.

Wali Kota Oleksandr Senkevych mengatakan kepada televisi Ukraina bahwa tiga orang lainnya juga terluka dalam serangan di Mykolaiv.

Selain itu, ditambahkan bahwa 12 rudal telah menghantam rumah dan fasilitas pendidikan.

Senkevych sebelumnya menilai insiden itu mungkin menjadi serangan yang paling kuat dijatuhkan pada kota dari seluruh perang yang telah berlangsung selama lima bulan.

Baca juga: Bukti Rusia Curi Gandum Ukraina, Turki Tahan Kapal Kargo yang Diduga akan Jual Hasil Rampasan

Rusia dan Ukraina Sepakati Perjanjian Ekspor Gandum

Rusia dan Ukraina telah menandatangani kesepakatan penting dengan PBB dan Turki untuk melanjutkan pengiriman biji-bijian.

Dilansir TribunWow.com, perjanjian ini dibuat dalam upaya untuk meredakan krisis pangan global di mana jutaan orang menghadapi potensi kelaparan.

Seperti dilaporkan Al Jazeera, Jumat (22/7/2022), Menteri pertahanan Rusia Sergei Shoigu dan menteri infrastruktur Ukraina Oleksandr Kubrakov masing-masing menandatangani perjanjian itu secara terpisah.

Baca juga: Tak Bantah Muat Gandum Ukraina, Menlu Putin Buka Suara soal Kapal Kargo Rusia yang Ditahan Turki

Kesepakatan dengan pejabat PBB dan Turki itu berisi tentang pembukaan kembali rute pengiriman Laut Hitam yang diblokir.

Adapun penandatanganan itu dibuat terpisah, karena para pejabat Kyiv mengatakan mereka tidak ingin mencantumkan nama mereka pada dokumen yang sama dengan Rusia, akibat perang lima bulan yang telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan orang Ukraina mengungsi.

Berikut rangkuman poin-poin penting dari perjanjian tersebut.

Apa Tujuan dari Kesepakatan itu?

Invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari menyebabkan blokade de-facto di Laut Hitam, yang mengakibatkan ekspor Ukraina turun menjadi seperenam dari tingkat sebelum perang.

Sebagau informasi, baik Kyiv maupun Moskow adalah salah satu pengekspor biji-bijian terbesar di dunia, dan blokade tersebut telah menyebabkan harga biji-bijian meningkat secara dramatis.

Kesepakatan itu bertujuan untuk membantu mencegah kelaparan dengan mengirim lebih banyak gandum, minyak bunga matahari, pupuk dan produk lainnya ke pasar dunia, termasuk untuk kebutuhan kemanusiaan.

Program Pangan Dunia PBB mengatakan sekitar 47 juta orang sekarang berada dalam tahap 'kelaparan akut' akibat dampak perang.

Sementara para ahli telah lama memperingatkan krisis pangan global yang membayangi jika ekspor biji-bijian Ukraina tetap diblokir.

Ukraina juga perlu mengosongkan silonya menjelang panen yang akan datang, sementara lebih banyak pupuk yang diekspor akan menghindari hasil global yang lebih rendah untuk panen yang akan datang.

Rusia dan PBB juga menandatangani nota kesepahaman yang berkomitmen untuk memfasilitasi akses tanpa hambatan ke pasar global untuk pupuk Rusia dan produk lainnya.

Lebih dari 20 ton stok gandum di Ukraina terjebak tak bisa keluar karena blokade Rusia. Terbaru, ilustasi gandum milik Ukraina.
Ilustrasi gandum milik Ukraina. Lebih dari 20 ton stok gandum di Ukraina terjebak tak bisa keluar karena blokade Rusia. (YouTube CBC News: The National)

Kapan Ekspor Biji-bijian akan Dilanjutkan?

Menurut Shoigu, ekspor biji-bijian dapat dimulai kembali dalam beberapa hari ke depan.

"Hari ini kami memiliki semua prasyarat dan semua solusi untuk memulai proses ini dalam beberapa hari ke depan," kata Shoigu setelah menandatangani kesepakatan.

Editor Diplomatik Al Jazeera James Bays, yang melaporkan dari markas besar PBB, mengatakan mungkin perlu beberapa minggu sebelum pengiriman pertama biji-bijian meninggalkan Ukraina.

"Akan ada tes implementasi dalam beberapa minggu mendatang,” kata Bays, mencatat simpanan jutaan ton biji-bijian Ukraina di negara itu.

"Ini akan memakan waktu untuk mengeluarkan semua biji-bijian itu, para ahli memperkirakan mungkin sekitar empat bulan," tambahnya.

Kesepakatan itu berlaku selama empat bulan atau 120 hari dan akan diperpanjang secara otomatis kecuali perang berakhir.(TribunWow.com/Via)

Berita terkait lainnya

Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaUkrainaVolodymyr ZelenskyRusiaVladimir Putin
Rekomendasi untuk Anda
ANDA MUNGKIN MENYUKAI

BERITA TERKINI

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved