Konflik Rusia Vs Ukraina
Rusia Disebut Bersiap Mencaplok Tanah Ukraina seperti Krimea, AS Singgung Referendum Palsu
Amerika Serikat menuding Rusia akan membuat referendum palsu untuk menganeksasi wilayah Ukraina.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa Rusia sedang bersiap untuk mencaplok tanah Ukraina.
Dilansir TribunWow.com, hal ini dilakukan dengan mengatur referendum palsu di wilayah yang saat ini dikuasai prajurit Presiden Rusia Vladimir Putin.
Gedung Putih membandingkan hal ini seperti aneksasi Rusia yang terjadi pada Krimea delapan tahun lalu.
Baca juga: Eks Presiden Rusia Ancam Kiamat Nuklir jika Negaranya Diadili Karena Kejahatan Perang di Ukraina
Seperti dilaporkan media Rusia RT, Rabu (20/7/2022), klaim tersebut diungkapkan oleh John Kirby, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS.
"Kami memiliki informasi hari ini, termasuk dari intelijen yang diturunkan yang dapat kami bagikan kepada Anda, tentang bagaimana Rusia meletakkan dasar untuk mencaplok wilayah Ukraina yang dikontrolnya yang melanggar langsung kedaulatan Ukraina," beber John Kirby, Selasa (20/7/2022).
Sebagaimana diketahui, Rusia meluncurkan agresi militer melawan Ukraina pada akhir Februari.
AS dan sekutu mereka di bawah NATO menanggapi dengan menjatuhkan sanksi besar-besaran terhadap Moskow dan memberi Kiev senjata berat.
Saat berperang bersama pasukan Republik Rakyat Donetsk dan Lugansk (DPR dan LPR), pasukan Rusia menguasai Wilayah Kherson selatan Ukraina dan sebagian besar Wilayah Zaporozhye.
Mereka juga mengambil wilayah wilayah Kharkiv Ukraina, yang berbatasan dengan LPR.
John Kirby berpendapat bahwa Moskow akan menyelenggarakan referendum palsu di wilayah pendudukan.
"(Rusia) menggunakan buku pedoman aneksasi, sangat mirip dengan yang kita lihat pada 2014," imbuh John Kirby.

Baca juga: Rusia Umumkan Kepung 2 Ribu Pasukan Ukraina di Donbas, Puluhan Tentara Menyerah Tanpa Dipaksa
Ia pun menjanjikan sanksi tambahan jika Rusia kemudian mencaplok tanah Ukraina.
Menanggapi tudingan tersebut, Kedutaan Besar Rusia di Washington merilis sebuah pernyataan di media sosial.
"Klaim tentang sifat agresif dari operasi khusus militer Rusia pada dasarnya salah," tulis Kedubes Rusia.
"Kami mengembalikan perdamaian ke wilayah yang dibebaskan, menciptakan keadaan untuk kehidupan normal dan menghormati hak yang sama dari warga negara tanpa memandang etnis dan bahasa.”
Kedutaan menambahkan bahwa bergabungnya wilayah Ukraina ke Rusia merupakan keinginan dari penduduknya sendiri.
"Kepemimpinan Federasi Rusia telah berulang kali menyatakan bahwa penduduk wilayah yang dibebaskan akan memutuskan masa depan mereka sendiri secara mandiri," tutur Kedubes Rusia.
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengklaim bahwa AS telah memberlakukan sanksi tambahan bahkan tanpa aneksasi wilayah Ukraina ke Rusia.
Ia menilai ancaman sanksi yang lebih banyak tidak akan berpengaruh pada pengambilan keputusan Rusia.
"Sebaliknya, itu telah memperkuat tekad untuk bertindak sesuai dengan jalan yang dipilih," tulis Zakharova di saluran Telegramnya.
Baca juga: VIDEO Dewan Keamanan Rusia Sumpah Serapah Peringatkan Ukraina soal Rencana Serang Jembatan Krimea
Rusia Paksa Penduduk Kherson Gunakan Uang Rubel
Sebelumnya dikabarkan bahwa rubel Rusia akan digunakan di Kherson mulai Minggu, menurut pasukan dukungan Rusia yang telah menguasai kota di Ukraina selatan itu.
Meski begitu, rupanya keputusan sepihak ini banyak ditentang oleh otoritas setempat dan masyarakat.
Bahkan, warga Ukraina nekat melakukan perlawanan kecil-kecilan dengan menukar kembali rubel yang diperoleh.

Baca juga: Viral Detik-detik Warga Kherson Tantang dan Rebut Kembali Bendera Ukraina dari Tentara Rusia
Walikota Kherson, Ihor Kolykhaiev, yang kini telah digulingkan oleh otoritas Rusia, mengatakan bahwa dia tidak percaya ini akan mungkin dilakukan.
Sementara, satu-satunya sistem perbankan yang berfungsi di wilayah tersebut adalah milik Ukraina, bukan Rusia.
Dia skeptis apakah Rusia dapat berhasil memperkenalkan rubel.
"Saya tidak memiliki konfirmasi bahwa itu telah diperkenalkan," kata Kolykhaiev dilansir TribunWow.com dari BBC, Minggu (1/5/2022).
"Kapan itu bisa muncul? Kapan perbendaharaan dan sistem perbankan Ukraina akan berhenti bekerja? Apa pun bisa terjadi di bawah pendudukan, saya tidak bisa masuk ke kepala Rusia untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan. Jika mereka mencoba memperkenalkan zona rubel di sini, kita akan jatuh kembali ke tahun 1992 ketika Ukraina memperoleh kemerdekaannya."
Menurut kantor berita negara Rusia Ria, awal pekan ini, pasukan Rusia menunjuk pemerintahan baru di Kherson karena Kolykhaiev tidak bekerja sama dengan pasukan.
Meskipun telah diduduki selama 60 hari, banyak penduduk mencoba mencari cara kecil untuk menentang pasukan Rusia.
Seperti menukarkan rubel yang mereka terima kembali ke mata uang Ukraina, hryvnia.
Tetapi hanya ada sedikit cara untuk menghindari tentara Rusia dengan aman saat mereka menduduki jalanan.
Tanda Z , simbol pro-perang Rusia , telah muncul di sekitar kota, sementara bendera Rusia digantung di atas gedung-gedung pemerintah Kherson.
TV Ukraina sebagian besar telah terputus, diubah menjadi berita Rusia.
Tentara Rusia mengendarai kendaraan lapis baja melalui pusat kota, di antara jaringan pos pemeriksaan.
Sekarang, mengubah mata uang kawasan adalah upaya lain untuk menghapus identitas Ukraina dari kota itu.
Olga, yang tidak ingin menggunakan nama aslinya, memberikan kesaksian dari dalam Kherson.
"Saya pikir kebanyakan orang akan pergi dari sini jika rubel diperkenalkan," kata Olga.
"Saat ini masih ada pertukaran mata uang yang beroperasi di kota. Jika saya dibayar dalam rubel, saya pikir saya akan pergi dan menukarnya dengan hryvnia, saya pikir orang lain juga akan melakukannya. Itu hanya aksi protes kecil."
Olga bukan satu-satunya dengan rencana ini.
Laporan berita Ukraina mengatakan bahwa beberapa pensiun telah dibagikan dalam rubel di sekitar Kherson, tetapi orang-orang telah menukarkannya kembali ke hryvnia Ukraina.
Kehidupan di Kherson menjadi semakin sulit.
Banyak yang sekarang merasa gugup bahkan untuk berbicara dengan seorang jurnalis.
Ketika bertemu Olga dan menanyakan bagaimana perasaannya, dia menghela nafas.
"Saya hidup dan saya punya makanan," katanya pasrah.
Menurut walikota, sekitar 40 persen dari populasi Kherson telah melarikan diri dalam dua bulan sejak kota strategis ini diambil oleh Rusia.
Banyak penduduk yang bercerita tentang perjuangan mereka untuk mendapatkan kebutuhan harian karena rak supermarket kosong.
Mereka mengatakan bahwa toko-toko, restoran, dan bisnis telah tutup dan sebagian ekonomi terhenti, terputus dari dunia.(TribunWow.com)