Konflik Rusia Vs Ukraina
Dihargai Rp 200 Juta, Bantuan Senjata ke Ukraina Dijual di Darknet, dari Drone hingga Anti-Tank
Sejumlah senjata yang diberikan negara-negara barat sebagai bantuan untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
TRIBUNWOW.COM - Sejak berkonflik melawan Rusia, Ukraina kerap mendapat bantuan senjata khususnya dari negara-negara barat, mulai dari Amerika Serikat (AS), Prancis, hingga Inggris.
Sebuah investigasi yang dilakukan oleh media asal Rusia RT, beberapa senjata kiriman negara barat untuk Ukraina ditemukan dijual bebas di darknet.
Dikutip TribunWow.com dari kompas.com, darknet diketahui merupakan sisi gelap internet yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu.
Baca juga: AS Ikut Konflik Ukraina-Rusia, Biden Panen Kritik Disindir Trump hingga Diminta Fokus Urus Utang
Konten yang ada di darknet diketahui berhubungan dengan tindak kriminal, mulai dari layanan transaksi narkoba, peretasan, pencucian uang, pornografi anak, hingga menyewa pembunuh bayaran.
Berdasarkan penelusuran tim investigatif rt.com, ditemukan senjata kiriman Inggris berupa misil anti-tank.
Senjata anti-tank ini dihargai 15 ribu dollar atau setara Rp 200 juta.
Sebagai informasi, harga misil anti-tank buatan Inggris tersebut dijual secara resmi dengan harga Rp 400 juta.
Selain senjata buatan Inggris, ditemukan juga drone hantu buatan AS yang dijual seharga puluhan juta rupiah.
Tim investigatif rt menjelaskan, pihaknya tidak menjalankan transaksi hingga memeroleh barang tersebut sehingga masih ada kemungkinan penjual di darknet tersebut hanyalah penipu.
Baca juga: Alasan Putin Terima Sejumlah Pimpinan Negara Pakai Meja Panjang, Berbeda saat Bertemu dengan Jokowi
Namun tim investigatif rt turut menemukan adanya tambahan jasa penyelundupan senjata dari Ukraina ke Polandia.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa para penyelundup senjata telah memiliki koneksi dengan para penjaga perbatasan Polandia-Ukraina.
Pada bulan Juni 2022, Kepala Polisi Internasional, Jurgen Stock telah memperingatkan akan potensi senjata bantuan negara barat dijual secara bebas di pasar gelap.
"Kelompok kriminal mencoba memanfaatkan situasi kacau dan ketersediaan senjata, bahkan (senjata) yang digunakan oleh pasukan militer, termasuk senjata berat," kata Stock.
Stock mengatakan, jual beli senjata ini tidak hanya terbatas kepada negara tetangga, namun ada kemungkinan di jual antar benua.

Baca juga: Zelensky Janji Rebut Kembali Lysychansk yang Dikuasai Rusia, Yakin Ukraina akan Berhasil karena Ini
AS Tak Peduli Risiko Kirimi Ukraina Senjata