Konflik Rusia Vs Ukraina
Jika Putin Tewas, Rusia Diprediksi akan Tetap Jadi Ancaman dan Terus Bermusuhan dengan Ukraina
Permusuhan Ukraina dan Rusia diprediksi akan terus berlanjut meski Presiden Vladimir Putin telah tewas karena hal tertentu nanti.
Penulis: Noviana Primaresti
Editor: Lailatun Niqmah
TRIBUNWOW.COM - Seorang pendeta kenamaan Prancis memperingatkan bahwa Ukraina dan Rusia akan terus melihat permusuhan yang berkepanjangan satu sama lain.
Bahkan jika Presiden Rusia Vladimir Putin tak lagi menjabat atau tewas karena sebab-sebab tertentu.
Dikutip TribunWow.com dari Newsweek, Jumat (24/6/2022), Pastor Patrick Desbois membuat pernyataan soal masa depan Rusia dan Ukraina itu dalam sebuah wawancara dengan Ukrainska Pravda yang diterbitkan pada hari Rabu.
Baca juga: Miliarder Rusia Sebut Putin akan Serang Negara NATO, Beri Peringatan Berikut soal Ukraina
Desbois menggambarkan hambatan yang sedang berlangsung dalam mencari bukti kejahatan perang dan tantangan lain yang akan bertahan dari konflik di tengah invasi Rusia empat bulan ke Ukraina.
Sebagai seorang imam Katolik Roma Prancis, Desbois telah diakui secara internasional atas karya kemanusiaannya mendokumentasikan Holocaust.
Ia juga berhasil mengidentifikasi situs pemakaman massal orang-orang Yahudi, Roma, dan lainnya yang dibunuh di seluruh Eropa Timur oleh Nazi selama Perang Dunia II.
Desbois sekarang di Ukraina mengumpulkan bukti dari para korban dugaan kejahatan perang Rusia.
"Kebencian tidak dapat dihindari. Mereka datang ke Ukraina, membunuh anak-anak, memperkosa wanita, menjarah, menghancurkan segalanya, bagaimana mungkin anda tidak membenci mereka setelah itu?," kata Desbois.

Baca juga: Beredar Video 8 Warga Sipil di Bucha Digiring sebelum Dieksekusi Tentara Rusia
Desbois menjelaskan bahwa kebencian telah memotivasi Ukraina untuk berperang melawan Rusia.
Tapi dia menyarankan untuk berhati-hati.
"Kebencian seharusnya mengajari anda untuk berhati-hati," tutur Desbois.
"Anda harus memahami bahwa bahkan jika Putin mati, mereka (Rusia) masih akan mematikan. Adalah kegagalan besar bahwa anda memiliki tetangga seperti itu."
Sejak meluncurkan invasi ke Ukraina pada bulan Februari, Rusia telah dituduh menyerang warga sipil dan melanggar standar hak asasi manusia internasional.
Amnesty International pada bulan Mei mendokumentasikan serangan udara yang melanggar hukum dan pembunuhan di luar proses hukum oleh pasukan Rusia.
Konflik di Ukraina akan Terus Berlangsung hingga 8 Tahun
Aktivis politik Inggris Bill Browder menyebut konflik antara Rusia dan Ukraina sangat mungkin tidak akan berhenti hingga delapan tahun ke depan.
Berdasarkan media asal Inggris TheSun.co.uk, Browder adalah pria yang dijulukki sebagai musuh sejati Putin.
Browder bahkan diyakini masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh milik Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca juga: Tinggalkan Istri dan Anak, Pria Inggris Pilih Kabur dengan Gadis Ukraina yang Mengungsi di Rumahnya
Browder sendiri beberapa kali mendapat ancaman pembunuhan hingga berkali-kali hampir ditahan oleh pemerintah Rusia.
Dikutip TribunWow.com, menurut Browder, konflik di Ukraina sebenarnya bukan baru saja terjadi pada 24 Februari 2022 lalu, melainkan sudah dimulai sejak tahun 2014 silam ketika Putin menganeksasi wilayah Crimea.
"Perang ini dapat dengan mudah berlangsung hingga delapan tahun ke depan," ujar Browder.
Browder menjelaskan, dalam konflik ini Putin dipastikan tidak akan menyerah, begitupula dengan Ukraina.
Menurut Browder, nantinya konflik antara Rusia dan Ukraina akan mirip dengan perang Iran-Iraq yang berlangsung selama satu dekade dan menewaskan jutaan orang.
Pemerintah Ukraina telah mengatakan tidak akan menyetujui kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia yang melibatkan penyerahan wilayah.
Penegasan posisi Ukraina ini terjadi sehari setelah Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan perang hanya dapat diselesaikan melalui diplomasi.
Penasihat presiden Mykhaylo Podolyak, mengatakan konsesi akan mengarah pada serangan Rusia yang lebih besar dan lebih berdarah.

Baca juga: Kumpulkan Jasad Tentara Rusia di Kereta Pendingin, Ukraina Ungkap Alasan Simpan Mayat Musuh
Dilansir TribunWow.com dari Independent, Senin (23/5/2022) Podolyak yang memimpin pembicaraan dengan Moskow mengatakan kesepakatan semacam itu akan menjadi bumerang.
Meski Ukraina setuju menyerahkan wilayahnya demi gencatan senjata, Podolyak yakin Rusia tak akan berhenti.
Alih-alih, Rusia akan membalas lebih keras setelah pertempuran dihentikan sementara waktu.
"Perang tidak akan berhenti. Itu hanya akan ditunda untuk beberapa waktu," kata Podolyak dalam sebuah wawancara dengan Reuters di kantor kepresidenan di Kyiv.
"Mereka akan memulai serangan baru, bahkan lebih berdarah dan berskala besar," imbuhnya.
Ia menekankan bahwa perundingan damai akan dijalankan jika Rusia sudah menarik pasukannya dari Ukraina.
Perwakilan Ukraina tersebut juga menganggap aneh seruan baru-baru Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Perdana Menteri Italia Mario Draghi untuk segera melakukan gencatan senjata.
"Pasukan (Rusia) harus meninggalkan negara dan setelah itu dimulainya kembali proses perdamaian akan dimungkinkan,” tegas Podolyak.
Sikap Kyiv menjadi semakin tanpa kompromi karena Rusia telah mengalami kemunduran militer.
Selain itu, para pejabat Ukraina semakin khawatir mereka mungkin akan ditekan untuk mengorbankan tanah demi kesepakatan damai.
"Perang harus diakhiri dengan pemulihan total integritas teritorial dan kedaulatan Ukraina," kata Andriy Yermak, kepala staf kepresidenan Ukraina dalam sebuah posting Twitter kemarin.
Di sisi lain, Presiden Polandia Andrzej Duda menawarkan dukungan Warsawa, dengan mengatakan masyarakat internasional harus menuntut penarikan penuh Rusia dan bahwa mengorbankan wilayah apa pun akan menjadi pukulan besar ke barat.
"Suara-suara yang mengkhawatirkan telah muncul, mengatakan bahwa Ukraina harus menyerah pada tuntutan (Presiden Vladimir) Putin,” kata Duda, pemimpin asing pertama yang berpidato di parlemen Ukraina secara langsung sejak invasi Rusia.
"Hanya Ukraina yang berhak memutuskan masa depannya."
Komentarnya muncul saat Rusia terus berupaya mengepung pasukan Ukraina yang mempertahankan Severodonetsk di timur.
Dilansir BBC, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan dalam pembaruan hariannya bahwa pasukan Rusia berusaha menerobos pertahanan Ukraina untuk mencapai perbatasan administratif wilayah Luhansk paling timur negara itu.
Gubernur regional Luhansk, Serhiy Haidai, mengatakan Rusia telah berusaha untuk masuk ke Severodonetsk dari empat arah yang berbeda.
Menulis di aplikasi perpesanan Telegram, dia mengatakan upaya itu tidak berhasil, tetapi penembakan di daerah pemukiman terus berlanjut.
Dia menambahkan bahwa jembatan yang menghubungkan kota ke Lysychansk di dekatnya telah hancur.(TribunWow.com/Via/Anung)