Breaking News:

Konflik Rusia Vs Ukraina

Kepergok Drone Rusia saat Misi Pengintaian, Relawan Inggris Ungkap Detik-detik Dihujani Mortir

Tentara Inggris di Ukraina masih ingat bagaimana dirinya terluka parah seusai kepergok drone Rusia saat melakukan misi pengintaian.

Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Go Fund Me
Tentara sukarelawan asal Inggris Josh Griffiths (30) mengalami luka berat seusai diserang oleh pasukan Rusia ketika melakukan misi pengintaian untuk Ukraina. 

TRIBUNWOW.COM - Nasib apes dialami oleh seorang tentara sukarelawan asal Inggris di Ukraina bernama Josh Griffiths (30).

Ketika sedang melakukan misi pengintaian, Josh kepergok oleh pesawat nirawak atau drone milik Rusia.

Dikutip TribunWow.com dari Thesun.co.uk, setelah kepergok oleh drone, Josh kemudian dihujani oleh serangan mortir pasukan Rusia.

Baca juga: Sebut Inggris Harus Siap Hadapi Rusia, Eks Kepala Pasukan Khusus Soroti Potensi Putin Perangi Barat

Pada serangan mortir pertama, Josh ingat dirinya terpental sejauh beberapa meter lalu disusul serangan kedua hanya berselang beberapa detik.

"Setelah serangan artileri pertama, saya mencoba untuk berdiri untuk pergi mencari perlindungan. Kemudian saya menyadari kaki saya rusak," kata Josh.

Josh mengaku masih ingat dirinya berteriak memberitahu rekan-rekannya bahwa ia terkena serangan.

Setelah berhasil berlindung di balik tembok, Josh langsung memakai turniket di kakinya untuk menghentikan pendarahan.

Pada saat yang sama kembali terjadi serangan mortir sebanyak dua kali.

Ketika serangan usai, tentara Ukraina langsung membawa Josh ke mobil dan bergegas menuju rumah sakit.

"Saya dapat merasakan tubuh saya menyerah," ujar Josh.

"Saya ingat seorang kolega melihat saya. Dia di sana sepanjang kejadian itu berlangsung," kata Josh.

"Dia terus mengatakan, lihat saya, lihat saya, lihat saya. Saya mencoba melihatnya sebaik yang saya bisa," ujar Josh.

Josh mengaku satu dari beberapa faktor mengapa dirinya berhasil selamat adalah rekannya yang menjaga dirinya tetap tersadar.

Baca juga: Mantan Letkol Ukraina Tunjukkan Penjara Rahasia SBU di Mariupol untuk Siksa Pendukung Rusia

Pada foto yang beredar, tampak kaki kiri Josh penuh perban, sementara itu kedua lengannya diperban di bagian siku dan bahu.

Josh adalah satu dari 20 ribu prajurit dari negara lain yang ikut membantu Ukraina memerangi pasukan Rusia.

Mengabdi selama empat tahun di pasukan militer Inggris, Josh memilih untuk terlibat dalam konflik di Ukraina.

Inggris Khawatir Ada 50 Mata-mata Rusia Berbaur

Sementara itu, pemerintah Inggris mengkhawatirkan adanya indikasi bahwa sejumlah mata-mata Rusia telah berbaur di masyarakat.

Dikutip TribunWow.com dari Mirror, Senin (20/6/2022), para agen tersebut dikatakan telah siap untuk diaktifkan sewaktu-waktu setelah lama bersembunyi.

Pemburu mata-mata dinas intelijen Inggris MI5 juga harus waspada terhadap kemungkinan serangan dunia maya di tengah dukungan Inggris untuk Ukraina setelah invasi Rusia.

Sekitar 50 mata-mata Rusia disinyalir telah berkeliaran di Inggris.

Pihak intelijen Inggris khawatir bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin telah memerintahkan semua agen untuk siap menanggapi tugas.

Baca juga: Jubir Putin Buka Suara soal Nasib 2 Warga AS yang Tertangkap saat Bantu Ukraina Perangi Rusia

Kepala intelijen khawatir agen tersebut juga akan berusaha mencuri rahasia militer dan menargetkan pembangkang Rusia serta aktivis Ukraina yang tinggal di sini.

Sebuah sumber mengklaim Putin memiliki mata-mata di semua bidang masyarakat Inggris, dari sekolah umum terkemuka hingga staf di layanan sipil dan House of Commons.

"Kita harus berasumsi bahwa Rusia sekarang aktif di semua tingkat masyarakat Inggris. Mereka mengumpulkan semua bentuk (informasi) intelijen dan meneruskannya kembali ke Kremlin melalui penadah," kata seorang sumber intelijen senior.

"(Informasi) ini bisa apa saja, mulai dari jenis persenjataan apa yang dikirim ke Ukraina dan berapa banyak, hingga kecenderungan seksual para pemimpin politik dan militer negara ini."

Kekhawatiran itu muncul setelah seorang tersangka mata-mata Rusia ditangkap di Gatwick pekan lalu.

Pria berusia 40-an itu ditahan di bawah Undang-Undang Rahasia Resmi dan tetap dalam tahanan.

"Tidak mungkin untuk menilai secara akurat berapa banyak agen Rusia yang ada di Inggris," ujar Letnan Kolonel Philip Ingram, mantan perwira intelijen militer.

"Tentu saja ada berbagai jenis, perwira intelijen yang dinyatakan dikenal sebagai bagian dari misi diplomatik Rusia, dan mereka yang beroperasi di bawah perlindungan mencoba merekrut agen dan kemudian agen pasif di semua aspek masyarakat."

"Mengingat dukungan kami untuk Ukraina, intelijen Rusia akan sangat fokus pada operasi di Inggris dan juga dapat mencakup agen perekrutan di dalam lembaga politik, pertahanan, dan industri."

Pekan lalu terungkap sebanyak empat mata-mata Rusia mungkin telah menyusup ke Commons.

Anggota parlemen Chris Bryant mengatakan belum ada peringatan baru-baru ini kepada anggota parlemen tentang kehadiran agen Rusia.

Namun dia mengatakan kemungkinan ada segelintir antek Rusia di dalam Parlemen.

"Jika perang berkepanjangan maka saya pikir kita akan melihat Rusia kembali ke teknik mata-mata ala Perang Dingin yang lama," kata Bryant.

Seorang juru bicara Home Office juga mengatakan bahwa pihaknya telah mulai menjalankan upaya untuk menangkal ancaman Rusia.

"Kami telah membuat langkah besar dalam beberapa tahun terakhir untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh negara Rusia dan untuk meningkatkan ketahanan kami dan sekutu kami terhadap aktivitas memfitnah Rusia," ujarnya.

Belanda Tangkap Agen Rahasia Rusia

Badan intelijen Belanda mengklaim telah menemukan seorang agen militer Rusia yang menyamar.

Agen Presiden Rusia Vladimir Putin tersebut dikabarkan mencoba menggunakan identitas palsu untuk menyusup ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Ia ditugaskan di badan tersebut diduga berkaitan dengan peran ICC yang sedang menyelidiki tuduhan kejahatan perang di Ukraina.

Dilansir TribunWow.com dari New York Post, Jumat (17/6/2022), pria bernama Sergey Vladimirovich Cherkasov diketahui sejak beberapa tahun yang telah lalu memasuki Belanda.

Ia mengaku sebagai warga negara Brasil dengan niat untuk magang di ICC yang berbasis di Den Haag pada bulan April.

Dikatakan Cherkasov merupakan bagian dari dinas intelijen militer Rusia GRU yang ditugaskan dalam penyamaran selama bertahun-tahun.

"Ini adalah operasi GRU jangka panjang, multi-tahun yang menghabiskan banyak waktu, energi, dan uang," kata kepala badan intelijen Belanda Erik Akerboom.

Badan Intelijen dan Keamanan Umum Belanda (AIVD) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pria, yang mamakai nama alias Viktor Muller Ferreira, dijemput di bandara Belanda.

Dia dinyatakan sebagai orang asing yang tidak diinginkan dan ditempatkan pada penerbangan berikutnya kembali ke Brasil.

Namun kemudian, polisi federal Brasil mengatakan Cherkasov ditahan dan diadili karena penggunaan dokumen palsu.

"Ini jelas menunjukkan kepada kita apa yang sedang dilakukan Rusia, mencoba mendapatkan akses ilegal ke informasi di dalam ICC. Kami mengklasifikasikan ini sebagai ancaman tingkat tinggi," tambah Akerboom yang mengatakan ICC telah menerima pria tersebut untuk magang.

Tidak ada komentar langsung tentang kasus ini dari pemerintah Rusia atau ICC.

Badan Belanda itu mengatakan telah mengambil langkah yang tidak biasa dengan merilis informasi rinci tentang kasus tersebut untuk mengungkap cara kerja intelijen Rusia dan ancaman terhadap lembaga internasional lainnya.

Dibagikan dokumen empat halaman yang berisi riwayat hidup Cherkasov yang dinilai palsu.

Itu termasuk riwayat keluarga yang bermasalah dan detail dari klub tempat dia suka mendengarkan musik trance elektronik dan restoran favoritnya di Brasilia tempat dia makan sup kacang coklat murah.

"Cherkasov menggunakan identitas sampul yang dibangun dengan baik di mana dia menyembunyikan semua hubungannya dengan Rusia pada umumnya, dan GRU pada khususnya,” bunyi pernyataan itu.

Polisi Brasil mengatakan Cherkasov memasuki Brasil pada 2010 dan menggunakan identitas palsu sebagai warga Brasil yang orang tuanya telah meninggal.

Lulus dari Brasil, ia tinggal di Irlandia dan Amerika Serikat selama beberapa tahun, dan kembali ke Brasil untuk mempersiapkan kepindahannya ke Belanda.

Baca juga: Sedang Berkumpul untuk Rapat, Lebih dari 50 Petinggi Militer Ukraina Tewas Kena Serangan Misil Rusia

Diketahui, ICC merupakan badan pengadilan kejahatan perang global permanen dengan 123 negara anggota.

Organisasi ini membuka penyelidikan di Ukraina hanya beberapa hari setelah Putin mengirim pasukannya pada 24 Februari.

ICC sedang memeriksa tuduhan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Sementara itu, Belanda telah mengusir lebih dari 20 orang Rusia yang dituduh menjadi mata-mata dalam beberapa tahun terakhir.

Diantaranya termasuk empat orang yang dituduh meretas Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) pada 2018, dua lainnya dituduh memata-matai perusahaan, sektor teknologi tinggi pada 2020, dan 17 tersangka operasi yang terakreditasi sebagai diplomat yang diusir setelah invasi ke Ukraina.

Rusia telah membantah semua tuduhan dan menanggapi pengusiran tersebut dengan juga mengusir 15 staf kedutaan dan konsulat Belanda dari Moskow dan St. Petersburg.(TribunWow.com/Anung/Via)

Berita terkait Konflik Rusia Vs Ukraina

Sumber: TribunWow.com
Tags:
Konflik Rusia Vs UkrainaRusiaUkrainaVladimir PutinVolodymyr ZelenskyInggrisDrone
Berita Terkait
ANDA MUNGKIN MENYUKAI
AA

BERITA TERKINI

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved