Konflik Rusia Vs Ukraina
Jubir Putin Buka Suara soal Nasib 2 Warga AS yang Tertangkap saat Bantu Ukraina Perangi Rusia
Juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin buka suara soal nasib warga AS yang tertangkap di Ukraina terlibat ikut memerangi pasukan militer Rusia.
Penulis: anung aulia malik
Editor: Rekarinta Vintoko
Pengadilan tinggi republik memutuskan bahwa mereka adalah tentara bayaran dan dengan demikian tidak diberikan hak istimewa seperti tawanan perang biasa di bawah hukum internasional.
Drueke mengatakan bahwa sementara dia tidak percaya pada liputan berita Amerika, dia yakin bahwa perjuangan Ukraina akan menarik bagi para veteran sepertinya.
"Ada dua sisi dari cerita ini dan saya tidak mendapatkan salah satunya," kata Drueke membandingkan propaganda Barat dan kenyataan di Ukraina.
Huynh, rekannya, mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan ke Ukraina pada bulan April dan menghubungi seorang pendeta Polandia yang mengawasi bantuan kemanusiaan.
Setelah bergabung dengan pasukan Ukraina, dia pergi tak lama setelah itu, dengan alasan adanya korupsi dan disorganisasi dalam barisan.
"Para komandan sangat korup dan pasukan sangat tidak siap dan kekurangan logistik," ujar Huynh.
Sementara, Drueke yang juga memulai tugasnya di Ukraina dengan pasukan yang sama, mengatakan dia tidak puas dengan kualitas orang mereka.
Baca juga: Merasa seperti Budak, Paramedis Ukraina yang Kini Bebas Mengungkapkan Kengerian di Tahanan Rusia
Kedua pria tersebut melakukan perjalanan ke negara itu untuk mencari unit yang lebih kompeten untuk bergabung.
Sebelum kemudian mereka bergabung dengan 'Task Force Baguette' di Ukraina timur, sebuah unit tentara bayaran asing yang sebagian besar terdiri dari veteran Amerika dan Prancis.
Pengakuan Tentara Inggris yang Dijatuhi Hukuman Mati
Warga negara Inggris Aiden Aslin sempat melakukan wawancara dengan media Rusia rt.com sebelum dirinya menerima vonis hukuman mati di pengadilan di Donetsk.
Aslin ditangkap pasukan militer Rusia saat terlibat dalam konflik di Ukraina kemudian menyerah pada pertengahan April 2022.
Saat diwawancara rt.com, Aslin mengaku sudah sejak lama mengikuti perjalanan konflik Ukraina sejak tahun 2014 lalu.
Pada awalnya Aslin mengaku dirinya merupakan orang yang pro terhadap Rusia dan pro Donbass.
Dikutip TribunWow.com, Aslin bercerita, pandangannya terhadap Rusia mulai berubah setelah ia melihat pemberitaan dari media-media barat seperti CNN hingga Fox News.